Author: superadmin

Tempat Wisata Pertama Bersejarah di Bandung Tempat Wisata Pertama Bersejarah di Bandung

Tempat Wisata Pertama Bersejarah di Bandung – Mungkin anda sudah pernah membaca artikel serupa atau sejenis,tapi artikel ini berbeda karena sudah kami ambil dari sumber terpercaya , berikut tempat wisata pertama dan bersejarah di Bandung.

Bandung merupakan ibu kota provinsi dari Jawa Barat dengan banyak destinasi wisata favorit di Indonesia, mulai dari wisata alam, wahana permainan anak dan keluarga, kuliner, bahkan sampai tempat belanja maupun nongkrong. Pemandangan yang masih asri nan sejuk hadir di sana.

Ada banyak tempat wisata yang bisa Anda jumpai di bandung yang merupakan tujuan terfavorit di kalangan wisatawan muda maupun orang tua. Baik untuk wisata liburan akan akhir pekan maupun akhir tahun. Bandung memiliki iklim yang sejuk karena lokasinya diantara dua pegunungan yang sungguh menakjubkan.

Dengan kondisi Alam yang sangat alami, wisata yang memadai, masyarakat lokalnya pun sangat ramah. Hal tersebut sangat berdampak pada tempat-tempat wisata maupun berbagai kuliner di bandung menjadi destinasi favorit.

Bagi anda yang masih bingung dalam mencari tempat wisata dengan berbagai macam wisata di bandung. Nah, di bawah ini akan kami ulas mengenai wisata dan tempat menarik di Bandung. Berikut ini kami rekomendasikan 2 tempat wisata menarik di Bandung terbaru.

1. Indo Wisata Permata

Bandung yang selalu manawarkan suatu wisata alam yang menarik dan asyik untuk di kunjungi. Salah satu objek wisata terbaru yang ada di bandung adalah Indo Wisata Permata.

Wisata ini berlokasi di komplek Citra Grand Blok N No 1-10, kawasan Dago Atas, kota Bandung. Anda bisa mencoba liburan tempat yang menawarkan wisata yang bertemakan edukasi. Wisata satu ini sangat cocok untuk para pecinta liburan maupun sebagai hiburan.

Indo Wisata Permata terkenal sebagai wisata akan sebuah batu permata yang berkilau pertama di Asia. Di tempat ini Anda akan diajak untuk melihat proses pembuatan dari batu mulia menjadi berlian secara langsung.

Di sini pengunjung tidak lagi disuguhkan dari sisi pembuatan batu mulia dengan cara tradisonal atau konvensional. Melainkan di tempat ini menyuguhkan mesin-mesin canggih dan berteknologi terbaru.

Selain sebagai objek wisata, Indo Wisata Permata juga digunakan untuk tempat belanja bagi para pecinta berlian. Harganya pun bervariasi, mulai dari satu juta bahkan sampai milyaran rupiah. Galeri di Indo Wisata Permata di buka mulai pukul 10.00 hingga 17.00 setiap harinya.

Untuk harga tiket masuk hanya Rp 50 ribu per orang, tergolong murah. Tiket ini berbentuk voucher sehingga jika Anda ingin membeli berlian, akan mendapatkan potongan harga yang lumayan bisa meringankan kocek.

Namun, jika Anda tidak ingin membeli berlian, voucher tersebut bisa ditukarkan dengan makanan dan minuman. Di sini terdapat kafe yang menyediakan berbagai menu makanan sebagai kuliner yang sangat menarik menggoyang lidah.

2. Sendang Geulis Kahuripan

Inilah merupakan salah satu tempat menarik di Bandung Barat yang sedang populer di kalangan wisatawan. Nama dari wisata ini adalah Sendang Geulis Kahuripan, jangan sampai Anda lewatkan wisata yang satu ini.

Sendang Geulis Kahuripan tidak kalah seru dengan Umbul Ponggok di Klaten. Mata air di sini benar-benar bersih dan jernih sekali. Ditambah lagi suasana pedesaan yang melengkapi liburan Anda semakin ingin berlama-lama.

Tempat wisata memang terbilang jarang dikunjungi oleh para wisatawan karena lokasinya yang cukup tersembunyi. Karena itu, wisata sendang ini semakin terjaga keasriannya, Anda akan terpukau ketika telah sampai di sini.

Baca Juga:Awal Mula Penggunaan Nama Bandung

Mata air ini terkenal juga dengan nama Talaga Cikahuripan. Air yang benar-benar jernih bersih ini membuat para pencari foto bisa selfie dan bebas bernarsis di dalam air. Ditambah lagi banyak pemandangan bebatuan dan pepohonan akan menambah cantik hasil foto jepretan anda.

Wisata ini terletak di desa Ganjarsari, kecamatan Cikolong Wetan, kabupaten Bandung Barat. Untuk masuk ke lokasi wisata ini hanya di bandrol dengan tarif Rp 10 ribu per orang. Sangat murah loh, Anda pasti akan penasaran bukan?

Salah satu fasilitas wisata Bandung barat ini termasuk sudah lengkap. Tersedia tempat untuk bilas, area parkir luas, saung untuk istirahat, dan warung-warung makan yang terblang cukup murah.

Namun sangat disayangkan, akses jalan menuju wisata ini cukup sempit, sehingga kami sarankan untuk berkunjung ke tempat ini menggunakan motor saja.

Setelah mengunjungi 2 tempat wisata di Bandung rasanya ingin berbalik ketempat penginapan terlebih dahulu untuk beristirahat sejenak. Luangkan waktu santai Anda dengan menyeruput teh hangat.

Awal Mula Penggunaan Nama Bandung Awal Mula Penggunaan Nama Bandung

Awal Mula Penggunaan Nama Bandung – Beberapa artikel yang akan kami berikan adalah artikel yang kami rangkum dari sumber terpercaya, berikut ini beberapa artikel yang membahas mengenai awal mula penggunaan nama Bandung.

Alkisah pada zaman dahulu kala di tanah pasundan, di pinggiran sungai Citarum hidup lah seorang kakek tua yang terkenal karena memiliki ilmu sakti mandraguna. Disana Ia tinggal bersama anak perempuannya yang cantik jelita, Sekar.

Selain Sekar, Empu Wisesa memiliki 2 orang murid Jaka dan Wira, Ia menemukan mereka ketika masih bayi di sebuah desa yang hancur berantakan karena letusan gunung tangkuban perahu yang hingga saat itu lahar nya masih sering membahayakan area sekitarnya. Ke dua bayi itu kemudian dibawa pulang, dirawat dan diajarkan ilmu oleh Empu Wisesa.

Walaupun memiliki guru yang sama, Jaka dan Wira memiliki perangai yang berbeda. Jaka berparas tampan, Ia senang bermain dan pandai bercakap, walaupun pintar namun karena sifat nya yang menggampangkan sesuatu ia jauh ketinggalan dari Wira yang rajin mencari ilmu dan hakikat hidup.

Sifat yang berbeda tersebut tidak membuat mereka berdua berjauhan, mereka seperti dua orang saudara yang saling tolong dan berbagi rahasia. Namun ada satu hal yang tak mereka ungkapkan satu sama lain, yaitu tentang perasaan mereka terhadap Sekar, putri guru mereka.

Jaka terlebih dahulu menyampaikan maksud hati untuk melamar Sekar kepada Empu Wisesa, karena pandai mengambil hati guru nya, Empu Wisesa tanpa meminta persetujuan anaknya langsung menyetujui lamaran Jaka. Ia berfikir Sekar pasti juga menyukai Jaka yang rupawan dan pandai bergaul.

Keesokan hari nya Empu Wisesa memanggil Sekar dan kemudian menyampaikan keinginannya untuk menikahkan nya dengan Jaka. Sekar adalah anak yang baik dan berbakti pada orang tua namun baru sekali inilah Sekar membantah orang tuanya, ia menolak keinginan Empu Wisesa, ia mengatakan bahwa Ia mencintai Wira dan hanya mau menikah dengan Wira.

Hal itu membuat Empu Wisesa gundah, sebelumnya Ia sudah menjanjikannya pada Jaka. Agar adil ia kemudian membuat sayembara.

“Baiklah, aku hanya akan menikahkan Sekar dengan orang yang bisa memadamkan lahar panas Tangkuban Perahu.” kata Empu Wisesa.

Jaka merasa itu adalah hal yang mustahil, tidak mungkin memadamkan lahar panas yang telah ada sejak berabad-abad yang lalu. Namun didepan Empu Wisesa dia menyanggupi nya dan mengaku ingin mengembara mencari ilmu untuk memadamkan lahar. Ia hanya berfoya-foya dan bahkan bermain wanita.

Sementara itu Wira, berfikir keras mencari tahu bagaimana cara memenangkan sayembara itu. Dengan tekun setiap hari ia mengitari cekungan luas yang terbentuk oleh lahar panas tersebut, dia tahu hanya air yang bisa mengalahkan api, tapi dari mana dia bisa mendapatkan air sebanyak itu. Setahun berlalu namun Ia belum juga menemukan caranya hingga suatu hari dia melihat berang-berang yang sedang membuat bendungan dari ranting-ranting pohon.

“Wah, bagaimana kalau aku membendung sungai Citarum sehingga air nya bisa memadamkan lahar panas” pikir nya dalam hati.

Baca Juga:Sejarah Kawasan Dago

Dengan penuh perhitungan Wira mulai melaksanakan ide nya itu, mula-mula Ia mengungsikan manusia dan hewan-hewan yang ada di cekungan lahar tersebut agar tidak tenggelam oleh air. Kemudian berbekal kesaktian dari Empu Wisesa, Ia meruntuhkan sebuah bukit dengan tangan nya, sehingga tanah dan batuan membendung air sungai. Lama-kelamaan air mulai menggenang, lahar panas menjadi dingin dan cekungan itu berubah menjadi danau yang luas, orang-orang menyebut daerah itu “Danau Bandung”.

Setelah berhasil melewati ujian yang di berikan oleh Mpu Wisesa, ia pun kemudian pulang dan melamar Sekar. Mpu Wisesa sangat senang, murid nya terbukti sangat mencintai anak semata wayang nya, dan mencegah bencana yang bisa muncul akibat lahar panas itu.

Tak lama kemudian mereka pun mengadakan pesta pernikahan yang meriah, dihadiri oleh semua penduduk disekitarnya. Jaka tidak ada kabar beritanya lagi.

Setelah bertahun-tahun Wira & Sekar dikaruniai banyak anak dan cucu, sementara itu bendungan yang dibuat Wira mulai runtuh akibat debit air yang tinggi. Lama-lama air di danau itu mulai mengering, tanah nya menjadi subur dan gembur. Akhir nya mereka pun berpindah kesana, tak lupa mengajak penduduk sekitar.

Lama kelamaan daerah itu menjadi ramai ditinggali dan didatangi pengembara, karena danau nya sudah tidak lagi ada, mereka menyebut nya Bandung. Menurut mitos nya penduduk asli kota Bandung berasal dari keturunan Wira dan Sekar.

Begitulah Legenda fiktif Asal Mula Nama Kota Bandung, yang berasal dari kata “bendung” atau “bendungan” yang dibuat oleh Wira untuk memadamkan lahar panas Tangkuban Perahu.

Menurut sejarah bendungan (Danau Bandung) itu seluas daerah antara Padalarang hingga Cicalengka (± 30 km) dan daerah antara Gunung Tangkuban Parahu hingga Soreang (± 50 km)

Sejarah Kawasan Dago Sejarah Kawasan Dago

Sejarah Kawasan Dago – Dago menjadi daerah yang cukup populer di Bandung, daerah ini memiliki tempat wisata yang cukup menarik, sebelum anda berkunjung ke Dago ketahui terlebih dahulu sejarah kawasan Dago.

Liputan6.com, Bandung – Menelusuri sejarah nama sebuah jalan banyak berkaitan dengan berbagai unsur. Misalnya, berkaitan dengan aspek budaya di lingkungan masyarakatnya.

Banyak jalan di Indonesia yang namanya punya keterikatan dengan sesuatu atau memiliki makna dari tempat jalan itu berada.

Salah satunya Jalan Ir H Juanda, Kota Bandung, Jawa Barat yang dikenal juga dengan Jalan Dago. Dari mana asal nama Dago sebenarnya berasal? Berikut penjelasannya.

Dahulu kala pada masa kolonial Belanda, penduduk di kawasan Bandung Utara memiliki kebiasaan untuk saling menunggu sebelum pergi ke kota. Jalan yang digunakan masih berupa jalur setapak yang kala itu menjadi satu-satunya akses bagi penduduk ke pasar.

Konon, jalan menuju pasar di Kota Bandung ini masih dikuasai oleh para perampok serta rawan binatang buas, terutama di daerah hutan sekitar Terminal Dago.

Kondisi tersebut membuat penduduk selalu pergi bersama-sama karena alasan keamanan. Lama kelamaan, warga terbiasa silih dagoan di suatu tempat di kawasan Dago. Kata menunggu dalam bahasa Sunda adalah “dagoan”.

Pada masa itu, kawasan Dago juga dijadikan sebagai rumah peristirahatan dan kawasan elit dikarenakan kondisi alamnya yang sejuk. Pembangunan di Dago dimulai pada tahun 1905 oleh Andre van der Brun, di mana dia membangun rumah peristirahatan. Rumah tersebut masih berdiri hingga sekarang.

Selain rumah peristirahatan, di kawasan Dago juga dibangun Dago Thee Huis atau sekarang dikenal dengan Dago Tea House. Bangunan itu dibangun pada tahun 1920 oleh Bandoengsche Comite tot Natuurbescherming atau Komite Perlindungan Alam Bandoeng.

Sedangkan pembangunan jalan Dago sendiri dimulai pada tahun 1915 dan diberi nama Dagostraat. Pemerintah kota kemudian mengubah nama Dagostraat menjadi jalan Ir H Juanda pada tahun 1970. Pada tahun yang sama juga menandai kawasan Dago yang berubah dari daerah hunian menjadi wilayah komersial.

Baca Juga :Tempat Bersejarah di Lembang

Terdapat pula Supermarket Superindo (Gelael) pada tahun 1987. Keberadaan sarana komersial tersebut menjadi daya tarik bagi masyarakat sekitar untuk mengunjungi kawasan Dago.

Pada dekade 1990-an, kawasan Dago berubah wajah. Kawasan ini dibidik oleh pelaku usaha factory outlet yang terus berkembang pada era tersebut.

Kini, pelaku usaha lainnya mendirikan hotel, restoran dan gerai-gerai lainnya di sepanjang jalan Ir H Juanda yang menanjak ini.

Melihat pesatnya bangunan berdiri saat ini, wajar jika kawasan Dago terdapat banyak hotel atau penginapan, karena kawasan ini dulunya memang tempat beristirahat. Belum lagi Kota Bandung juga kerap menjadi destinasi pelancong dari berbagai daerah lain sebagai tempat berlibur, menambah esensi Dago sebagai kawasan beristirahat.

Tempat Bersejarah di Lembang Tempat Bersejarah di Lembang

Tempat Bersejarah di Lembang – Lembang menjadi tempat dengan wisata yang cukup banyak dan indah, bukan hanya wisatanya tetapi di Lembang juga terdapat banyak tempat bersejarah.

Berkunjung ke Lembang, selain melepas penat sambil menikmati panorama alam, tak ada salahnya jika mengunjungi beberapa tempat bersejarah daerah yang menjadi distrik teh pada 17 Juni 1882 ini.

Puluhan peserta Historical Trips Bandung, Minggu pertengahan Februari lalu menyusuri sejumlah tempat bersejarah Lembang, salah satu kecamatan di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Kegiatan itu dilaksanakan untuk mengenal kembali masa lalu wilayah yang dulunya bergabung dengan Distrik Ujungberung Kulon tersebut.

1. Berawal dari Hotel

Grand Hotel Lembang adalah tempat pertama yang dikunjungi. Berusia 102 tahun, hotel ini mulai beroperasi tahun 1918. Dibangun di sebuah lahan di kaki Gunung Tangkuban Parahu seluas 7 hektare.

“Dulunya tanpa pakai Grand atau Hotel Lembang saja. Bangunan ini memiliki latar belakang sejarah yang panjang. Dikenal sejak zaman kolonial Belanda, seakan menjadi saksi bisu peradaban orang-orang Eropa khususnya Belanda pada saat itu,” kata penutur wisata, Malia Nur Alifa.

Para peserta dibawa ke ruangan depan hotel. Malia menyebutkan, ruangan ini dulunya dipakai menjadi gudang garam oleh tentara Jepang. Kemudian ruangan diubah menjadi restoran dan kini dipakai sebagai tempat meeting.

Awalnya, tanah hotel dibeli dari keluarga Ursone. Keluarga ini merupakan orang Italia pertama yang mendatangi tanah Priangan di tahun 1895. Sebagai salah satu bukti peninggalan Ursone di hotel ini adalah patung marmer yang kondisinya masih terawat dengan sangat baik.

2. Rumah Keluarga Ursone

Dua sosok yang tak bisa lepas dari sisi historis Lembang adalah Franz Wilhelm Junghuhn dan Ursone. Junghuhn adalah pelopor budi daya tanaman kina yang pada masanya berhasil mengangkat pamor Kota Bandung sebagai penghasil kina terbesar di dunia.

Sedangkan keluarga Ursone adalah yang memelopori peternakan sapi perah, sehingga Lembang terkenal sebagai penghasil susu hingga saat ini. Hingga saat ini tercatat ada 4.200 peternak sapi yang tergabung dalam Koperasi Peternak Susu Bandung Utara (KPSBU).

Selain memiliki peternakan sapi, keluarga Ursone ini juga memiliki 12 perusahaan antara lain adalah sebuah toko marmer di bilangan Banceuy bernama Carrara.

Eks bos besar Lembang ini pernah menempati rumah yang beralamat di Jalan Ajak Baru. Gaya rumah yang tak biasa ini juga punya halaman yang luas, meski kondisinya kini kurang terawat dan terlihat rapuh.

“Bahan utama rumahnya terbuat bambu yang ditumpuk. Plesternya bukan acian semen seperti sekarang ini, tapi pakai abu gosok dan putih telur,” ucap Malia.

Selain memiliki rumah, keluarga Ursone juga menghibahkan 16 hektare tanahnya untuk pembangunan peneropongan bintang Bosscha.

3. Rumah Dennis

Rumah di Jalan Bayangkara II adalah milik tuan Dennis, seorang Inggris yang juga merupakan pimpinan Dennis Bank (BJB Jalan Naripan sekarang).

Rumah yang sekarang sangat tidak terawat ini menghadap ke arah timur dengan pemandangan menghadap ke arah patahan Lembang bagian timur. Halaman rumah ini lumayan luas dan tepat di baratnya terdapat kompleks asrama polisi.

“Rumah ini sekarang dihuni oleh dua keluarga asli Lembang yang sudah menetap dari pascakemerdekaan,” tutur Malia.

Baca Juga :Sejarah Awal Berdirinya Gedung Sate

4. Jalan Karmel

Kawasan bersejarah lainnya di Lembang adalah Jalan Karmel. Selain dikenal sebagai tempat kuliner (salah satunya sate karmel), saat ini di kawasan karmel dengan mudah ditemui pemandangan masa kolonial yang kental.

Selain rumah-rumah tinggal yang bernuansa kolonial dan jengki terdapat pula Gereja Karmel yang sarat akan sejarah, maka dari itu kawasan ini disebut Jalan Karmel.

Menik, salah seorang peserta trip mengatakan, kegiatan penelusuran tempat bersejarah sangat mengasyikkan.

“Dari kegiatan ini kita sampai jadi suatu kawasan ada sejarahnya. Otomatis kita harus memiliki dan mengenal sejarah sebuah tempat,” kata Menik.

Post thumbnail

Sejarah Awal Berdirinya Gedung Sate – Gedung Sate merupakan sebuah ornamen yang berbentuk seperti tusuk sate, karena keunikannya gedung ini menjadi salah satu ikon di Kota Bandung. Dinamakan Gedung Sate, gedung ini sekarang berfungsi sebagai gedung tempat pemerintahan Pusat Jawa Barat dan seringkali menjadi tempat berbagai festival seni serta kegiatan lainnya. Gedung Sate memiliki keunikan dari sisi arsitektur dan keindahan tersendiri yang berbeda bila dibandingkan dengan bangunan lainnya di kota Bandung. Selain itu, Gedung Sate memiliki sejarah yang panjang. Berdiri di tanggal 27 Juli 1920 gedung ini dibangun di zaman pemerintahan kolonial Belanda. Meski berusia sudah lebih dari seratus tahun, bangunan ini masih tetap berdiri kokoh dan anggun. Fungsinya sebagai pusat pemerintahan dari jaman Belanda hingga saat ini mungkin menjadi salah satu alasan mengapa gedung ini terjaga kondisinya.

Awal Pendirian

Oleh pemerintahan Belanda dulu, gedung ini disebut dengan Gouvernements Bedrijven atau GB. Dirancang oleh sebuah tim ahli dari Belanda yang terdiri dari Ir. J. Gerber, seorang arsitek muda ternama lulusan Fakultas Teknik Delft Nederland, serta Ir. Eh. De Roo dan Ir. G. Hendriks.

Proses pembangunan langsung ditangani oleh pihak Gemeente van Bandoeng yang diketuai oleh Kol. Pur. VL. Slors yang melibatkan 2000 tenaga kerja yang terdiri dari 150 orang pemahat atau ahli bongpay pengukir batu nisan dan pengukir kayu berkebangsaan China yang berasal dari Konghu atau Kanton. Tak hanya itu, 2000 tenaga kerja itu juga terdiri dari tukang batu dan kuli aduk yang merupakan warga kampung sekitar kota Bandung pada saat itu.

Peletakan Batu Pertama

Peletakan batu pertama Gedung Sate dilakukan oleh Johanna Catherina Coops, putri sulung dari Walikota Bandung saat itu, B. Coops dan Petronella Roelofsen, mewakili Gubernur Jendral Batavia J.P. Graaf van Limburg. Pembangunan Gedung Sate memakan waktu 4 tahun dan biaya sekitar 6 juta gulden. Hal inilah yang menjadi dasar penentuan jumlah benda bulat yang ditusuk oleh semacam tusuk sate di bagian puncak gedung. Ada banyak versi dari masyarakat Bandung tentang benda bulat yang ditusuk tiang di puncak Gedung Sate. Ada yang mengatakan bahwa benda bulat tersebut adalah sate, jambu air hingga melati yang berjumlah enam buah.

Apa fungsi gedung sate dari awal hinga sekarang?

Gedung Sate semenjak tahun 1980 dikenal dengan sebutan Kantor Gubernur alasannya yaitu sebagai sentra acara Pemerintah Provinsi Jawa Barat, yang sebelumnya Pemerintahaan Provinsi Jawa Barat menempati Gedung Kerta Mukti di Jalan Braga Bandung. Ruang kerja Gubernur terdapat di lantai II bersama dengan ruang kerja Wakil Gubernur, Sekretaris Daerah, Para Assisten dan Biro. Saat ini Gubernur di menolong oleh tiga Wakil Gubernur yang menangani Bidang Pemerintahan, Bidang Ekonomi dan Pembangunan, serta Bidang Kesejahteraan Rakyat, seorang Sekretaris Daerah dan Empat Asisten yaitu Asisten Ketataprajaan, Asisten Administrasi Pembangunan, Asisten Kesejahteraan Sosial dan Asisten Administrasi. Namun tidak seluruh Asisten menempati Gedung Sate. Asisten Kesejahteraan Sosial dan Asisten Administrasi bersama staf menempati Gedung Baru.

Fungsi gedung sate saat ini

Gedung Sate yang berlokasi di jalan Diponegoro 22 Bandung ketika ini mempunyai fungsi utama sebagai kantor sentra pemerintah gubernur Jawa Barat. Akan tetapi, seiring dengan perkembangannya gedung ini juga menjadi salah satu lokasi wisata paling populer. Gedung Sate bahkan sangat ramai dikunjungi terutama pada simpulan pekan. Pada simpulan pekan lapangan yang berada tepat di depan gedung pun beralih fungsi menjadi lokasi Gasebu SunMor Activity atau pasar kaget. Banyak masyarakat yang hadir berkunjung baik untuk berolahraga, bersantai, atau lainnya.

Mengapa disebut gedung sate?

Karena di bagian atap atau puncak gedung ada hiasan menyerupai tusuk sate dengan 6 bulatan yang menancap.

kenapa harus ada 6 bulatan di menaranya?

Kerena, jumlah 6 benda ini dinilai sebagai perlambang biaya pembangunan Gouvernemens Bedrijven, yaitu sebanyak 6 juta gulden (mata uang Belanda). Di dalam gedung juga ada 6 tangga yang bisa dinaiki oleh pengunjung.

Siapa yang merancang gedung sate ini?

Dirancang oleh Ir. J. Gerber, seorang arsitek muda ternama lulusan Fakultas Teknik Delft Nederland, serta Ir. Eh. De Roo dan Ir. G. Hendriks.

Baca juga: Beberapa asumsi salah tentang orang Bandung 

Kapan gedung baru di bangun?

Sejak tahun 1980, Gedung Sate lebih dikenal oleh masyarakat sebagai Kantor Gubernur karena fungsinya sebagai pusat kegiatan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Namun sebelum pindah ke Gedung Sate, Kantor Gubernur Jawa Barat berada di Gedung Kerta Mukti di Jalan Braga Bandung.

Indahnya Gedung Sate semakin disempurnakan dengan dibangunnya Gedung Baru hasil karya arsitek Ir. Sudibyo pada tahun 1977. Gedung Baru ini mengambil sedikit gaya arsitektur yang dimiliki oleh Gedung Sate. Bangunan ini diperuntukkan bagi para Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Barat untuk melaksanakan kewajiban mereka sebagai Lembaga Legislatif Daerah.

Bagai mana keadaan bandung saat pertempuran melawan sekutu dan belanda?

Di tanggal 3 Desember 1945, Belanda yang belum terima dengan kemerdekaan yang diraih bangsa Indonesia, menghimpun sejumlah kekuatan untuk merebut sejumlah aset dari tangan Indonesia. Salah satu aset yang menjadi target saat itu adalah Gedung Sate. Menunggangi pasukan sekutu dari Inggris, Belanda berusaha melancarkan serangan ke Gedung Sate yang dilindungi oleh sejumlah pemuda Indonesia.

Pertempuran pun tumpah dan berlangsung selama dua jam. Sejumlah korban pun jatuh baik dari pihak pemuda Indonesia yang mempertahankan Gedung Sate dan penyerang. Tujuh pemuda Indonesia diketahui kemudian tewas pada pertempuran tersebut. Untuk mengenang jasa mereka, pemerintah membuatkan sebuah tugu dari batu di halaman belakang Gedung Sate. Namun pada tahun 1970, Menteri Pekerjaan Umum memerintahkan tugu tersebut dipindahkan ke halaman depan Gedung Sate.

Melihat-Sejarah-Dari-Museum-Wangsit-Mandala-Siliwangi Melihat-Sejarah-Dari-Museum-Wangsit-Mandala-Siliwangi

sejarahbandung – Sejarah perjuangan para pahlawan kesuma bangsa dengan suka dukanya memang perlu diketahui generasi kini agar mereka tahu dan termotivasi juga untuk melanjutkan sepak terjang para pendahulu, meski tentu tak harus jadi tentara.
Adalah museum Wangsit Mandala Siliwangi di Kota Bandung kiranya dimaksudkan seperti itu. Lalu, seperti apakah museum ini. Mari kita simak artikel berikut.

Museum Wangsit Mandala Siliwangi merupakan destinasi wisata sejarah di Bandung yang tak boleh dilewatkan. Museum ini merupakan salah satu dari beberapa deretan museum unik di Indonesia yang bisa dikunjungi. Museum yang satu ini banyak menyimpan benda-benda yang pernah digunakan oleh Pasukan Kodam Siliwangi. Senjata yang disimpan di dalam museum ini tak hanya terbatas pada senjata militer. Namun, ada juga beberapa senjata tradisional yang tersimpan rapi di dalamnya.

Museum ini diresmikan oleh panglima divisi Siliwangi Kolonel Ibrahim Adjie pada tanggal 23 Mei 1966. Gedungnya peninggalan Belanda. Pada awal pembangunannya gedung ini berfungsi sebagai tempat tinggal para perwira Belanda. Sedangkan pada masa pendudukan jepang, gedung ini merupakan salah satu markas perjuangan yang digunakan untuk melawan Belanda.

Museum Wangsit Mandala Siliwangi adalah museum militer yang berada di Kota Bandung, Jawa Barat. Siliwangi merupakan nama komando daerah militer TNI-AD di Jawa Barat dan Banten yang namanya diambil dari raja Kerajaan Sunda yang beribu kota di Pakuan Pajajaran yang kekuasaanya konon tak terbatas, juga arif dan bijaksana serta wibawa dalam menjalankan roda pemerintahan. Sedangkan arti Mandala Wangsit merupakan sebuah tempat untuk menyimpan amanat, petuah atau nasihat dari pejuang masa lalu kepada generasi penerus melalui benda-benda yang ditinggalkannya.

Baca Juga :Beberapa Mitos Rumah Kentang Bandung

Museum ini berlokasi di Jalan Lembong, Kecamatan Sumurbandung. Jalan ini diambil dari nama Letkol Lembong, salah satu prajurit Siliwangi yang menjadi korban dalam Peristiwa Kudeta Angkatan Perang Ratu Adil. Sebelumnya jalan itu bernama Oude Hospitaalweg.

Koleksi museum terdiri atas peralatan perang yang digunakan oleh pasukan Kodam Siliwangi, dari senjata tradisional Sunda yang digunakan sebelum era modern seperti tombak, panah, keris, kujang, dan bom molotov. Senjata modern yang ditampilkan di museum ini adalah panser rel buatan Indonesia, meriam, dan kendaraan lapis baja.

Di dalam museum ini juga terdapat koleksi peralatan perang di zaman perang kemerdekaan Indonesia yang terdiri atas senjata-senjata yang digunakan di masa Pendudukan Jepang. Terdapat beberapa alat dan kendaraan yang digunakan pada saat masa tersebut, yaitu:

  1. Bedug simarame
  2. Senjata laras panjang dan pistol
  3. Tank dan ambulans militer

Di samping itu juga terdapat galeri lukisan yang menggambarkan romusha atau kerja paksa yang terjadi di zaman pendudukan Jepang. Terdapat juga koleksi fotografi mengenai peristiwa Bandung Lautan Api pada tanggal 24 Maret 1946 di Bandung dan peristiwa peracunan pada tanggal 17 Februari 1949. Terdapat koleksi bedok (busana) yang digunakan oleh Ki Hadjar Dewantara, Menteri Pendidikan pertama di Indonesia berupa bedok yang terdiri dua jubah berwarna putih dan hitam. Terdapat pula satu aula untuk keperluan umum di museum tersebut.

Misteri-Tentang-Rumah-Gurita-di-Bandung Misteri-Tentang-Rumah-Gurita-di-Bandung

sejarahbandung –  Jakarta Rumah gurita yang terletak di Bandung, Jawa Barat ini disebut-sebut sebagai urban legend karena banyaknya misteri dan cerita-cerita horor yang dipercayai oleh masyarakat kebanyakan. Dari banyaknya misteri yang beredar di kalangan masyarakat, misteri yang paling lekat hingga sekarang adalah rumah gurita tersebut adalah tempat dilakukannya ritual-ritual sesat.

Diketahui, nama ‘Rumah Gurita’ diciptakan karena adanya patung gurita raksasa yang berada di atap rumah tersebut yang berwarna hitam dan dihiasi dengan mata yang berwarna merah. Banyaknya misteri dan cerita horor yang beredar, membuat salah satu warganet mencoba membagikan pengalamannya mengenai rumah gurita tersebut.

Melalui akun Twitter miliknya @pecintavans, pria pemilik akun Twitter tersebut bercerita mengenai pengalamannya yang sudah lama tinggal di sekitaran rumah gurita. Ia juga memberikan pandangannya mengenai rumah gurita tersebut. Menurutnya, rumah gurita sangat memiliki nilai seni mengingat untuk membuat sebuah patung gurita adalah hal yang tidak mudah.

“Dibalik semua cerita horrornya memang patung gurita ini menurut saya pribadi memiliki nilai seni yang sangat tinggi karena bagaimana pengerjaan yang begitu rumit dan teliti untuk membuat sebuah patung yang sangat besar diatas atap rumah tersebut,” tulisnya.

Baca Juga :  Beberapa Mitos Rumah Kentang Bandung

Bukan hanya membagikan pandangannya dan pengalamannya, pria tersebut juga mengupas beberapa misteri yang beredar di masyarakat, salah satunya adalah rumah gurita sebagai digunakan sebagai gereja sesat.

“Oke kita bahas satu satu mitos teori yang melekat pada rumah ini Yang pertama sebagai gereja sesat Kenapa bisa sampai disebut begitu karena rumah ini bernomor 666 yang saat erat kaitannya dengan sekte penyembah setan dan memicu para warga untuk berasumsi demikian,” tulisnya lagi.

1. Jadikan Film

Rumah-Gurita
Karena dianggap memiliki nilai mistis tersendiri, rumah gurita ini juga sempat diangkat menjadi film. Pada tahun 2014, Jose Poernomo menjadikan rumah gurita tersebut sebagai sebuah film yang dibintangi oleh beberapa artis tanah air, seperti Boy William, Shandy Aulia, Kemal Palevi dan Maria Sabta. Film tersebut bergenre horor romantis dan ditayangkan pada 30 Oktober 2014 tepat pada saat Halloween Eve.

2. Viral dan Respon Warganet

Cuitan yang diunggah pada 28 November 2019 ini pun viral di media sosial dan berhasil disukai sebanyak 20 ribu lebih dan juga sudah dibagikan sebanyak 5 ribu lebih. Tidak hanya itu, cuitan tersebut juga menuai banyak komentar dari warganet seperti,

”Dulu pas magrib sengaja nyari ini rumah rame-rame sama temen, lumayan pusing juga nyarinya Akhirnya nemu tp liatnya dari jarak yg gak terlalu dekat, denger mitos dari warga sekitar katanya rumah ini gak berpintu. Cuma ada lubang sekitar 50cm tiap sisi rumah buat akses masuknya:(,” tulis akun Twitter @rowaon.

“Temen gue tinggal tetanggaan sama rumah itu. Percaya gak percaya, semua teori itu gak bener. Yang punya rumah cuma seneng sama seni, tapi bukan kolektor juga. Dalemnya banyak banget benda-benda seni. Gurita emang dibikin buat nutupin si toren aer,” tulis warganet lainnya.

“Coba guritanya warna merah pasti disangka itu rumah pemilik takoyaki bukan sekte,” ujar warganet lainnya.

3. Edit Nyeleneh

Editan Warga

Ada ada aja ya kelakuan warga +62 🙂

 

Beberapa-Mitos-Rumah-Kentang-Bandung Beberapa-Mitos-Rumah-Kentang-Bandung

sejarahbandung –  Sejak dahulu kala, masyarakat Indonesia memang sangat dekat dengan dunia mistik dan juga klenik. Tidak heran, jika banyak sekali urban legend atau legenda urban yang bermunculan di masyarakat, kemudian secara turun-temurun dikisahkan dari generasi ke generasi.

Semaju apapun sebuah kota, pasti ada saja, satu atau dua legenda urban yang tersimpan dan menjadi buah bibir di masyarakat, tidak terkecuali Bandung.
Di kota tersebut, banyak sekali tersimpan legenda urban yang kebenarannya masih menjadi perdebatan hingga saat ini.
Salah satu legenda urban yang paling terkenal di Kota Bandung adalah tentang sebuah rumah yang kerap mengeluarkan aroma kentang ketika malam hari.
Ya, legenda rumah kentang Bandung.
Mungkin kamu telah mengetahui perihal kisah yang satu ini. Namun, apakah kamu percaya dengan cerita yang selama ini kamu dengar?
Supaya enggak salah, ada baiknya kamu mengetahui terlebih dahulu tentang fakta dan mitos seputar rumah kentang Bandung di bawah ini.

Aroma kentang pada malam hari

Aroma-kentang-pada-malam-hari

Mitosnya, ada seorang anak laki-laki yang secara tidak sengaja terjatuh dari gendongan ibunya ke dalam kuali besar yang dipakai untuk memasak kentang, hingga membuat anak tersebut akhirnya meninggal.
Cerita inilah yang kemudian diyakini masyarakat sebagai alasan, mengapa rumah tersebut mengeluarkan aroma berbau kentang pada malam hari.
Akan tetapi, seorang wanita bernama Rayi Elfira, pada sebuah postingan blog pribadi miliknya, membantah kabar yang beredar seputar aroma kentang yang selama ini berkembang.
Rayi mengaku, selama 16 tahun menjadi tetangga dari rumah kentang Bandung, ia tidak pernah sekalipun mencium aroma kentang yang berasal dari rumah tersebut.

Kisah si ‘anak kentang’

Selain mencium bebauan seperti kentang, mitosnya orang-orang yang melintas di depan rumah itu pada malam hari juga kerap melihat penampakan anak laki-laki di dekat rumah tersebut.
Menurut Rayi, ia juga tidak pernah melihat sosok anak laki-laki itu secara langsung.
Meski begitu, Rayi mengaku pernah bermimpi didatangi oleh seorang anak perempuan Belanda berusia 11 tahun yang memberi isyarat, bahwa ia merupakan penunggu dari teras rumah kentang Bandung.
Hiii… Seram banget, ya!

Angker karena tidak berpenghuni

Angker-karena-tidak-berpenghuni

Mitos berikutnya yang berkembang di masyarakat tentang rumah kentang Bandung adalah, bahwa rumah tersebut kosong alias tidak berpenghuni.
Pada postingan yang sama, Rayi turut membantah kabar tersebut. Menurutnya, rumah itu sejak dulu tidak pernah kosong dan masih berpenghuni sampai dengan sekarang.
Pada kolom komentar postingan tersebut, seorang dengan akun bernama Merryl Byrd menambahkan, bahwa rumah bergaya art deco ini merupakan milik seorang dosen yang ia kenal.

Baca Juga : 4 Anggapan Yang Salah Tentang Orang Bandung

Penampakan anjing jadi-jadian

Tidak hanya penampakan seorang anak laki-laki saja, mitosnya di sekitar rumah kentang Bandung juga kerap terlihat penampakan seekor anjing yang disinyalir jadi-jadian, lho!
Namun, serupa dengan mitos-mitos lainnya, Rayi turut membantah isu yang satu ini.
Ia mengaku, bahwa anjing yang sering dilihat para pengendara yang lewat pada malam hari itu merupakan anjing peliharaan miliknya.
Akan tetapi, pada kolom komentar di postingan yang sama, seorang dengan akun bernama Andrea Lie menyangkal pernyataan tersebut.
Ia mengatakan, bahwa isu tentang anjing jadi-jadian tersebut benar adanya.
Berdasarkan pengalamannya, ia pernah melihat anjing tersebut berada di sekitar rumah kentang Bandung.
Andrea sendiri mengaku berusaha untuk mengejar anjing tersebut, namun sayang, anjing itu hilang begitu saja tanpa jejak.

Tidak ada yang ingin membeli rumah tersebut

Sempat beredar kabar, bahwa rumah kentang Bandung akan dijual.
Akan tetapi, tidak ada orang yang ingin membeli rumah tersebut, hingga akhirnya rumah ini dibiarkan kosong dan tidak terawat.
Kebenaran dari berita ini sebenarnya cukup diragukan. Pasalnya, tidak ada informasi valid yang menyebutkan bahwa rumah tersebut sempat ingin dijual.
Namun, apabila kabar dijualnya rumah tersebut benar, apakah kamu berminat untuk beli rumah di Bandung yang sarat akan kisah mistisnya ini?
Terlepas dari segala mitos dan cerita mistis yang melekat di dalamnya, rumah kentang Bandung telah menjadi saksi bisu sejarah perkembangan Kota Bandung dari dulu hingga sekarang.

4-Anggapan-Yang-Salah-Tentang-Orang-Bandung 4-Anggapan-Yang-Salah-Tentang-Orang-Bandung

sejarahbandung –  Jakarta Apa yang ada di pikiran anda begitu mendengar kata orang Bandung atau orang Sunda? Positif atau negatifkah pikiran yang melintas di benak anda? Banyak stereotip yang ada di lingkungan kita mengenai suku atau ras tertentu, dan salah satu stigma yang sangat menarik untuk dibahas ialah pandangan orang Indonesia (baca: Jawa) tentang orang Bandung. Bila anda penonton setia acara televisi, pasti beranggapan bahwa orang Bandung itu lucu karena banyak yang menjadi pelawak, orang Bandung itu berdarah seni karena banyak yang menjadi penyanyi dan seniman, dan orang Bandung itu jago akting karena banyak yang menjadi aktor dan aktris. Namun, ternyata ada juga anggapan lain yang lebih memandang orang Bandung ke sisi negatif.

1. Wanita Bandung matre. Inilah anggapan keliru pertama masyarakat Indonesia tentang orang Bandung. Banyak yang berkata bahwa wanita Bandung itu matre alias sangat tergila-gila dengan harta. Entah bagaimana stigma negatif ini bermula. Namun, mungkin saja hal tersebut dikarenakan sifat perempuan Bandung lebih blak-blakan dalam hal apa saja. Tentu ini adalah sifat yang sangat kontras dengan sikap orang Jawa yang lebih suka basa-basi. Oleh sebab itu, saat wanita Bandung menginginkan sesuatu, perhiasan atau kendaraan, misalnya, maka ia akan berbicara secara langsung kepada suaminya. Nah, menurut adat budaya Jawa, tentu hal ini merupakan suatu yang sangat tabu.

Baca Juga : Sejarah Bandung Lautan Api

2. Orang Bandung dan Jawa tidak boleh menikah. Tak sedikit orang tua yang berpesan kepada anaknya yang kuliah di Bandung agar jangan sampai menikah dengan orang Bandung. Sebab, mereka beranggapan bahwa karakter orang Bandung sangat tidak cocok dengan orang Jawa. Pria Jawa mengklaim dirinya bahwa mereka sabar dan suka mengalah, sementara wanita Bandung malas dan matre. Maka, jika pasangan ini menikah dikhawatirkan pria Jawa akan menghabiskan seluruh hartanya hanya untuk menafkahi istrinya. Di lain pihak bila perempuan Jawa menikah dengan pria Bandung, maka sifat lelaki Bandung yang malas dan suka menuntut, dikhawatirkan hanya akan memperbudak keluarga dari pihak istri yang bersifat nrimo dan selalu mengalah. Tentu stereotip ini tidak selamanya benar karena banyak sekali fakta di atas lapangan yang membuktikan bahwa pasangan Jawa-Bandung bisa hidup harmonis.

3. Nikah cerai sudah biasa. Acara tv yang sering kali memberitakan perkawinan artis Bandung semakin memperkuat stigma negatif ini. Tak bisa dipungkiri memang bahwa banyak sekali artis Bandung yang kawin cerai dengan pasangannya. Akan tetapi, hal itu bukan berarti bahwa kawin cerai adalah hobi seluruh warga Bandung.

4. Orang Bandung tak bisa jadi pemimpin. Orang Jawa masih beranggapan bahwa orang Bandung jarang sekali menjadi nomor satu di negara ini karena cenderung sombong dan angkuh setelah berhasil menduduki jabatan teratas. Pendapat ini diperkuat dengan beragam cerita yang mengatakan bahwa pihak keluarga si pejabat sendiri pun kadang ditolak oleh si pemimpin tersebut. Tentu saja ini merupakan sebuah pandangan yang sempit karena banyak juga orang Bandung yang begitu adil memimpin bawahannya.

Sejarah-Bandung-Lautan-Api Sejarah-Bandung-Lautan-Api

sejarahbandung – Bandung lautan api merupakan sejarah perlawanan rakyat Jawa Barat terhadap Sekutu. Lautan Api sebagai peristiwa heroik di tahun 1946-1949. Lalu bagaimana situasinya? Menurut catatan sejarah, banyak masyarakat Bandung pada waktu yang meninggal dunia karena peristiwa ini.

Selain banyaknya korban yang berjatuhan, kerusuhan ini juga diwarnai dengan aksi-aksi pembakaran gedung-gedung pemerintahan, perkantoran, dan sebagian pemukiman penduduk.

Proses Peristiwa Bandung Lautan Api

Kerusuhan ini bermula dari konflik perampasan senjata milik Jepang oleh sekutu. Karena kalah dan melihat rakyat Bandung memiliki banyak persenjataan, menjadi pemicu peristiwa ini. Dalam catatan Sejarah Daerah Jawa Barat (1978: 202), para pemuda yang tergabung dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Bandung berhasil membawa senjata warisan Jepang yang tersimpan di gudang mesiu Kiaracondong.

Para pemuda itu kemudian berencana menggunakan senjata tersebut untuk melawan Sekutu yang sejak tanggal 12 Oktober 1945 telah menduduki kota dan sekitarnya.
Kabar akan adanya penyerangan ini, akhirnya terdengar oleh tentara Sekutu di pusat kota.= Keesokan harinya, faktor penyebab Bandung lautan Api ini karena tentara Sekutu memberikan ultimatum kepada masyarakat supaya menggagalkan rencananya sebelum mendapatkan perlawanan dari pasukannya.

Mereka menggunakan pesawat tempur dan menjatuhkan lembaran pamflet-pamflet yang berisi peringatan agar ‘ekstrimis indonesia’ dapat mengosongkan tempat paling lambat 24 Maret 1946 jam 24.00 WIB. Tak hanya itu, mereka juga diminta mundur sejauh 11 kilometer dari titik yang sudah diumumkan. Melihat ultimatum itu justru membuat rakyat semakin semangat untuk melawan. Mereka bergabung dengan laskar dan TKR untuk melawan sekutu.

Hingga 21 November 1945, TKR beserta para pejuang lainnya menyerang markas Inggris di Bandung bagian utara, seperti di hotel Homann dan Hotel Preanger yang dijadikan sebagai markas musuh.

Baca Juga : Asal Usul Nama Bandung Hingga Gerbang Kota Utama Bandung

Ultimatum Sekutu Picu Emosi

Semenjak Pamflet ultimatum itu disebarkan, pasukan laskar yang terdiri dari rakyat dan TKR emosi kepada Sekutu yang semakin hari semakin berbuat semena-mena di Bandung. Menurut Hendra Jo, saksi hidup peristiwa Bandung lautan apimasih ada hingga saat ini. Belakangan diketahui bernama Asikin (93), akan tetapi ingatannya masih kuat sehingga mampu bercerita dengan leluasa.

Menurut hasil wawancaranya, Hendra membeberkan Asikin tidak berjuang sendiri dalam peristiwa tersebut. Ada puluhan ribu pejuang yang tergabung dalam TRI dan laskar-laskar rakyat yang juga merasakan hal yang sama. Untuk mencegah situasi yang semakin panas itu, Ketua Komite Nasional Indonesia (KNI) Jawa Barat, Ardi Winangun, berangkat menuju Jakarta untuk menemui Sutan Sjahrir, Perdana Menteri saat itu.

Sjahrir mewaliki pemerintah menyarankan agar rakyat Bandung mematuhi ultimatum Sekutu. Namun pada akhirnya Sjahrir menyerahkan keputusan itu kepada para pejuang. Seperti halnya diberi angin segar, akhirnya Ardi menyampaikan hal itu melalui telepon kepada perwakilan pemuda pada 22 Maret 1946 sebelum peristiwa Bandung Lautan Api terjadi.

Beberapa pendapat lain menyatakan misi pembumihangusan dalam kejadian ini banyak ditentang oleh petinggi militer sekelas A.H Nasution.
Menurut Letnan Kolonel Omon Abdurrachman, Komandan Resimen TRI kedelapan menyebut Nasution berang karena tindakan masyarakat yang susah diatur. Bahkan ia melarang melawan sekutu.

Lantaran emosi tak bisa dibendung lagi, akhirnya rakyat berbondong-bondong meninggalkan Bandung ke wilayah pinggiran. Namun sebelum adanya perintah bumi hangus, sebagian dari mereka sudah membakar lebih dahulu rumah-rumahnya.

Begitulah sejarah Bandung Lautan Api yang bisa ditelaah sebagai pengetahuan pembaca dalam memahami sejarah revolusi fisik khususnya sejarah perlawanan rakyat Jawa Barat kepada Sekutu sekitar tahun 1946-1949.