Fakta Sejarah

Awal Mula Penggunaan Nama Bandung Awal Mula Penggunaan Nama Bandung

Awal Mula Penggunaan Nama Bandung – Beberapa artikel yang akan kami berikan adalah artikel yang kami rangkum dari sumber terpercaya, berikut ini beberapa artikel yang membahas mengenai awal mula penggunaan nama Bandung.

Alkisah pada zaman dahulu kala di tanah pasundan, di pinggiran sungai Citarum hidup lah seorang kakek tua yang terkenal karena memiliki ilmu sakti mandraguna. Disana Ia tinggal bersama anak perempuannya yang cantik jelita, Sekar.

Selain Sekar, Empu Wisesa memiliki 2 orang murid Jaka dan Wira, Ia menemukan mereka ketika masih bayi di sebuah desa yang hancur berantakan karena letusan gunung tangkuban perahu yang hingga saat itu lahar nya masih sering membahayakan area sekitarnya. Ke dua bayi itu kemudian dibawa pulang, dirawat dan diajarkan ilmu oleh Empu Wisesa.

Walaupun memiliki guru yang sama, Jaka dan Wira memiliki perangai yang berbeda. Jaka berparas tampan, Ia senang bermain dan pandai bercakap, walaupun pintar namun karena sifat nya yang menggampangkan sesuatu ia jauh ketinggalan dari Wira yang rajin mencari ilmu dan hakikat hidup.

Sifat yang berbeda tersebut tidak membuat mereka berdua berjauhan, mereka seperti dua orang saudara yang saling tolong dan berbagi rahasia. Namun ada satu hal yang tak mereka ungkapkan satu sama lain, yaitu tentang perasaan mereka terhadap Sekar, putri guru mereka.

Jaka terlebih dahulu menyampaikan maksud hati untuk melamar Sekar kepada Empu Wisesa, karena pandai mengambil hati guru nya, Empu Wisesa tanpa meminta persetujuan anaknya langsung menyetujui lamaran Jaka. Ia berfikir Sekar pasti juga menyukai Jaka yang rupawan dan pandai bergaul.

Keesokan hari nya Empu Wisesa memanggil Sekar dan kemudian menyampaikan keinginannya untuk menikahkan nya dengan Jaka. Sekar adalah anak yang baik dan berbakti pada orang tua namun baru sekali inilah Sekar membantah orang tuanya, ia menolak keinginan Empu Wisesa, ia mengatakan bahwa Ia mencintai Wira dan hanya mau menikah dengan Wira.

Hal itu membuat Empu Wisesa gundah, sebelumnya Ia sudah menjanjikannya pada Jaka. Agar adil ia kemudian membuat sayembara.

“Baiklah, aku hanya akan menikahkan Sekar dengan orang yang bisa memadamkan lahar panas Tangkuban Perahu.” kata Empu Wisesa.

Jaka merasa itu adalah hal yang mustahil, tidak mungkin memadamkan lahar panas yang telah ada sejak berabad-abad yang lalu. Namun didepan Empu Wisesa dia menyanggupi nya dan mengaku ingin mengembara mencari ilmu untuk memadamkan lahar. Ia hanya berfoya-foya dan bahkan bermain wanita.

Sementara itu Wira, berfikir keras mencari tahu bagaimana cara memenangkan sayembara itu. Dengan tekun setiap hari ia mengitari cekungan luas yang terbentuk oleh lahar panas tersebut, dia tahu hanya air yang bisa mengalahkan api, tapi dari mana dia bisa mendapatkan air sebanyak itu. Setahun berlalu namun Ia belum juga menemukan caranya hingga suatu hari dia melihat berang-berang yang sedang membuat bendungan dari ranting-ranting pohon.

“Wah, bagaimana kalau aku membendung sungai Citarum sehingga air nya bisa memadamkan lahar panas” pikir nya dalam hati.

Baca Juga:Sejarah Kawasan Dago

Dengan penuh perhitungan Wira mulai melaksanakan ide nya itu, mula-mula Ia mengungsikan manusia dan hewan-hewan yang ada di cekungan lahar tersebut agar tidak tenggelam oleh air. Kemudian berbekal kesaktian dari Empu Wisesa, Ia meruntuhkan sebuah bukit dengan tangan nya, sehingga tanah dan batuan membendung air sungai. Lama-kelamaan air mulai menggenang, lahar panas menjadi dingin dan cekungan itu berubah menjadi danau yang luas, orang-orang menyebut daerah itu “Danau Bandung”.

Setelah berhasil melewati ujian yang di berikan oleh Mpu Wisesa, ia pun kemudian pulang dan melamar Sekar. Mpu Wisesa sangat senang, murid nya terbukti sangat mencintai anak semata wayang nya, dan mencegah bencana yang bisa muncul akibat lahar panas itu.

Tak lama kemudian mereka pun mengadakan pesta pernikahan yang meriah, dihadiri oleh semua penduduk disekitarnya. Jaka tidak ada kabar beritanya lagi.

Setelah bertahun-tahun Wira & Sekar dikaruniai banyak anak dan cucu, sementara itu bendungan yang dibuat Wira mulai runtuh akibat debit air yang tinggi. Lama-lama air di danau itu mulai mengering, tanah nya menjadi subur dan gembur. Akhir nya mereka pun berpindah kesana, tak lupa mengajak penduduk sekitar.

Lama kelamaan daerah itu menjadi ramai ditinggali dan didatangi pengembara, karena danau nya sudah tidak lagi ada, mereka menyebut nya Bandung. Menurut mitos nya penduduk asli kota Bandung berasal dari keturunan Wira dan Sekar.

Begitulah Legenda fiktif Asal Mula Nama Kota Bandung, yang berasal dari kata “bendung” atau “bendungan” yang dibuat oleh Wira untuk memadamkan lahar panas Tangkuban Perahu.

Menurut sejarah bendungan (Danau Bandung) itu seluas daerah antara Padalarang hingga Cicalengka (± 30 km) dan daerah antara Gunung Tangkuban Parahu hingga Soreang (± 50 km)

4-Anggapan-Yang-Salah-Tentang-Orang-Bandung 4-Anggapan-Yang-Salah-Tentang-Orang-Bandung

sejarahbandung –  Jakarta Apa yang ada di pikiran anda begitu mendengar kata orang Bandung atau orang Sunda? Positif atau negatifkah pikiran yang melintas di benak anda? Banyak stereotip yang ada di lingkungan kita mengenai suku atau ras tertentu, dan salah satu stigma yang sangat menarik untuk dibahas ialah pandangan orang Indonesia (baca: Jawa) tentang orang Bandung. Bila anda penonton setia acara televisi, pasti beranggapan bahwa orang Bandung itu lucu karena banyak yang menjadi pelawak, orang Bandung itu berdarah seni karena banyak yang menjadi penyanyi dan seniman, dan orang Bandung itu jago akting karena banyak yang menjadi aktor dan aktris. Namun, ternyata ada juga anggapan lain yang lebih memandang orang Bandung ke sisi negatif.

1. Wanita Bandung matre. Inilah anggapan keliru pertama masyarakat Indonesia tentang orang Bandung. Banyak yang berkata bahwa wanita Bandung itu matre alias sangat tergila-gila dengan harta. Entah bagaimana stigma negatif ini bermula. Namun, mungkin saja hal tersebut dikarenakan sifat perempuan Bandung lebih blak-blakan dalam hal apa saja. Tentu ini adalah sifat yang sangat kontras dengan sikap orang Jawa yang lebih suka basa-basi. Oleh sebab itu, saat wanita Bandung menginginkan sesuatu, perhiasan atau kendaraan, misalnya, maka ia akan berbicara secara langsung kepada suaminya. Nah, menurut adat budaya Jawa, tentu hal ini merupakan suatu yang sangat tabu.

Baca Juga : Sejarah Bandung Lautan Api

2. Orang Bandung dan Jawa tidak boleh menikah. Tak sedikit orang tua yang berpesan kepada anaknya yang kuliah di Bandung agar jangan sampai menikah dengan orang Bandung. Sebab, mereka beranggapan bahwa karakter orang Bandung sangat tidak cocok dengan orang Jawa. Pria Jawa mengklaim dirinya bahwa mereka sabar dan suka mengalah, sementara wanita Bandung malas dan matre. Maka, jika pasangan ini menikah dikhawatirkan pria Jawa akan menghabiskan seluruh hartanya hanya untuk menafkahi istrinya. Di lain pihak bila perempuan Jawa menikah dengan pria Bandung, maka sifat lelaki Bandung yang malas dan suka menuntut, dikhawatirkan hanya akan memperbudak keluarga dari pihak istri yang bersifat nrimo dan selalu mengalah. Tentu stereotip ini tidak selamanya benar karena banyak sekali fakta di atas lapangan yang membuktikan bahwa pasangan Jawa-Bandung bisa hidup harmonis.

3. Nikah cerai sudah biasa. Acara tv yang sering kali memberitakan perkawinan artis Bandung semakin memperkuat stigma negatif ini. Tak bisa dipungkiri memang bahwa banyak sekali artis Bandung yang kawin cerai dengan pasangannya. Akan tetapi, hal itu bukan berarti bahwa kawin cerai adalah hobi seluruh warga Bandung.

4. Orang Bandung tak bisa jadi pemimpin. Orang Jawa masih beranggapan bahwa orang Bandung jarang sekali menjadi nomor satu di negara ini karena cenderung sombong dan angkuh setelah berhasil menduduki jabatan teratas. Pendapat ini diperkuat dengan beragam cerita yang mengatakan bahwa pihak keluarga si pejabat sendiri pun kadang ditolak oleh si pemimpin tersebut. Tentu saja ini merupakan sebuah pandangan yang sempit karena banyak juga orang Bandung yang begitu adil memimpin bawahannya.

Sejarah-Bandung-Lautan-Api Sejarah-Bandung-Lautan-Api

sejarahbandung – Bandung lautan api merupakan sejarah perlawanan rakyat Jawa Barat terhadap Sekutu. Lautan Api sebagai peristiwa heroik di tahun 1946-1949. Lalu bagaimana situasinya? Menurut catatan sejarah, banyak masyarakat Bandung pada waktu yang meninggal dunia karena peristiwa ini.

Selain banyaknya korban yang berjatuhan, kerusuhan ini juga diwarnai dengan aksi-aksi pembakaran gedung-gedung pemerintahan, perkantoran, dan sebagian pemukiman penduduk.

Proses Peristiwa Bandung Lautan Api

Kerusuhan ini bermula dari konflik perampasan senjata milik Jepang oleh sekutu. Karena kalah dan melihat rakyat Bandung memiliki banyak persenjataan, menjadi pemicu peristiwa ini. Dalam catatan Sejarah Daerah Jawa Barat (1978: 202), para pemuda yang tergabung dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Bandung berhasil membawa senjata warisan Jepang yang tersimpan di gudang mesiu Kiaracondong.

Para pemuda itu kemudian berencana menggunakan senjata tersebut untuk melawan Sekutu yang sejak tanggal 12 Oktober 1945 telah menduduki kota dan sekitarnya.
Kabar akan adanya penyerangan ini, akhirnya terdengar oleh tentara Sekutu di pusat kota.= Keesokan harinya, faktor penyebab Bandung lautan Api ini karena tentara Sekutu memberikan ultimatum kepada masyarakat supaya menggagalkan rencananya sebelum mendapatkan perlawanan dari pasukannya.

Mereka menggunakan pesawat tempur dan menjatuhkan lembaran pamflet-pamflet yang berisi peringatan agar ‘ekstrimis indonesia’ dapat mengosongkan tempat paling lambat 24 Maret 1946 jam 24.00 WIB. Tak hanya itu, mereka juga diminta mundur sejauh 11 kilometer dari titik yang sudah diumumkan. Melihat ultimatum itu justru membuat rakyat semakin semangat untuk melawan. Mereka bergabung dengan laskar dan TKR untuk melawan sekutu.

Hingga 21 November 1945, TKR beserta para pejuang lainnya menyerang markas Inggris di Bandung bagian utara, seperti di hotel Homann dan Hotel Preanger yang dijadikan sebagai markas musuh.

Baca Juga : Asal Usul Nama Bandung Hingga Gerbang Kota Utama Bandung

Ultimatum Sekutu Picu Emosi

Semenjak Pamflet ultimatum itu disebarkan, pasukan laskar yang terdiri dari rakyat dan TKR emosi kepada Sekutu yang semakin hari semakin berbuat semena-mena di Bandung. Menurut Hendra Jo, saksi hidup peristiwa Bandung lautan apimasih ada hingga saat ini. Belakangan diketahui bernama Asikin (93), akan tetapi ingatannya masih kuat sehingga mampu bercerita dengan leluasa.

Menurut hasil wawancaranya, Hendra membeberkan Asikin tidak berjuang sendiri dalam peristiwa tersebut. Ada puluhan ribu pejuang yang tergabung dalam TRI dan laskar-laskar rakyat yang juga merasakan hal yang sama. Untuk mencegah situasi yang semakin panas itu, Ketua Komite Nasional Indonesia (KNI) Jawa Barat, Ardi Winangun, berangkat menuju Jakarta untuk menemui Sutan Sjahrir, Perdana Menteri saat itu.

Sjahrir mewaliki pemerintah menyarankan agar rakyat Bandung mematuhi ultimatum Sekutu. Namun pada akhirnya Sjahrir menyerahkan keputusan itu kepada para pejuang. Seperti halnya diberi angin segar, akhirnya Ardi menyampaikan hal itu melalui telepon kepada perwakilan pemuda pada 22 Maret 1946 sebelum peristiwa Bandung Lautan Api terjadi.

Beberapa pendapat lain menyatakan misi pembumihangusan dalam kejadian ini banyak ditentang oleh petinggi militer sekelas A.H Nasution.
Menurut Letnan Kolonel Omon Abdurrachman, Komandan Resimen TRI kedelapan menyebut Nasution berang karena tindakan masyarakat yang susah diatur. Bahkan ia melarang melawan sekutu.

Lantaran emosi tak bisa dibendung lagi, akhirnya rakyat berbondong-bondong meninggalkan Bandung ke wilayah pinggiran. Namun sebelum adanya perintah bumi hangus, sebagian dari mereka sudah membakar lebih dahulu rumah-rumahnya.

Begitulah sejarah Bandung Lautan Api yang bisa ditelaah sebagai pengetahuan pembaca dalam memahami sejarah revolusi fisik khususnya sejarah perlawanan rakyat Jawa Barat kepada Sekutu sekitar tahun 1946-1949.

Asal-Usul Nama Bandung Asal-Usul Nama Bandung

Sejarahbandung.com – KATA “Bandung” berasal dari kata bendung atau bendungan karena terbendungnya sungai Citarum oleh lava Gunung Tangkuban Perahu yang kemudian membentuk telaga. Menurut mitos, nama “Bandung” diambil dari sebuah kendaraan air yang terdiri dari dua perahu yang diikat berdampingan yang disebut perahu bandung yang digunakan oleh Bupati Bandung, R.A. Sungai) dalam mencari tempat kedudukan kabupaten yang baru untuk menggantikan ibukota yang lama di Dayeuhkolot. Kota Bandung merupakan kota metropolitan terbesar di wilayah Jawa Barat yang menjadi ibu kota Provinsi Jawa Barat. Kota Bandung juga merupakan kota terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Kota Bandung dijuluki Kota Kembang. Dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, sejarahwan Haryoto Kunto menulis, kembang yang dimaksud ialah Kembang Dayang yang dalam bahasa Sunda sama dengan WTS (Wanita Tunasusila) atau PSK (Pekerja Seks Komersial). Istilah kota kembang berasal dari peristiwa yang terjadi tahun 1896 saat Bestuur van de Vereninging van Suikerplanters (Pengurus Besar Perkumpulan Pengusaha Perkebunan Gula) yang berkedudukan di Surabaya memilih Bandung sebagai tempat penyelenggaraan kongresnya yang pertama.

Sebagai panitia kongres, Tuan Jacobmendapat masukan dari Meneer Schenk agar menyediakan ‘kembang-kembang’ berupa “noni cantik” Indo-Belanda dari wilayah perkebunanPasirmalang untuk menghibur para pengusaha gula tersebut. Setelah kongres, para tamu menyatakan sangat puas. Kongres dikatakan sukses besar. Dari mulut peserta kongres itu kemudian keluar istilah dalam bahasa Belanda De Bloem der Indische Bergsteden atau ‘bunganya’ kota pegunungan di Hindia Belanda. Dari situ muncul julukan kota Bandung sebagai kota kembang. Dalam buku Otobiografi Entin Supriatin, Deritapun Dapat Ditaklukan. Mitra Media Pustaka. Bandung (2006) disebutkan, Bandung dikenal dengan sebutan Parijs Van Java atau Paris-nya Pulau Jawa. Mungkin mengira istilah itu muncul dari keindahan kota Bandung sama dengan keindahan kota Paris. Padahal bukan itu. Sebenarnya, istilah Parijs van Java muncul karena pada waktu itu di Jalan Braga terdapat banyak toko yang menjual barang-barang produksi Paris, terutama toko pakaian. Toko yang terkenal diantaranya adalah toko mode dan pakaian, Modemagazinj ‘au bon Marche’ yang menjual gaun wanita mode Paris.

Ada juga restoran yang makanan khas Paris Maison Bogerijen yang menjadi tempat santap para pejabat dan pengusaha Hindia Belanda atau Eropa. Dari situlah muncul julukan lain bagi kota Bandung sebagai Parijs van Java. Selain itu, kota Bandung juga dikenal sebagai kota belanja, dengan mall dan factory outlet (FO) yang banyak tersebar di kota ini. Tahun 2007, British Council menjadikan kota Bandung sebagai pilot project kota terkreatif se-Asia Timur. Saat ini kota Bandung merupakan salah satu kota tujuan utama pariwisata dan pendidikan. Tahun 1896 Bandung belum menjadi kota tetapi hanya “kampung”. Penduduknya yang terdata 29.382 orang, sekitar 1.250 orang berkebangsaan Eropa, mayoritas orang Belanda. Saat itu Bandung hanyalah desa udik yang belepotan lumpur, bahkan Jalan Braga yang kemudian melegenda di Bandung masih berupa jalan tanah becek bertahi sapi dan kuda. Kota Bandung mulai dijadikan sebagai kawasan pemukiman sejak pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, melalui Gubernur Jenderalnya waktu itu Herman Willem Daendels, mengeluarkan surat keputusan tanggal 25 September 1810 tentang pembangunan sarana dan prasarana untuk kawasan ini. Dikemudian hari peristiwa ini diabadikan sebagai hari jadi kota Bandung. Kota Bandung secara resmi mendapat status gemeente (kota) dari Gubernur Jenderal J.B. Heutsz pada tanggal 1 April 1906 dengan luas wilayah waktu itu sekitar 900 ha, dan bertambah menjadi 8.000 ha di tahun 1949, sampai terakhir bertambah menjadi luas wilayah saat ini. Pada masa perang kemerdekaan, pada 24 Maret 1946, sebagian kota ini di bakar oleh para pejuang kemerdekaan sebagai bagian dalam strategi perang waktu itu. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan Bandung Lautan Api dan diabadikan dalam lagu Halo-Halo Bandung. Selain itu kota ini kemudian ditinggalkan oleh sebagian penduduknya yang mengungsi ke daerah lain.

Baca Juga  : Makalah Bandung Lautan Api

Kandidat guru muda dari Preanger Regentschappen adalah bernama Adi Sasmita, seorang guru bantu di Regentschap (kabupaten) Sumedang. Adi Sasmita diduga adalah lulusan pertama Kweekschool Bandoeng. Lantas mengapa dari Sumedang, bukan guru asal regenschap (kabupaten) Bandoeng? Boleh jadi ini karena bargaining dari Bupati Sumedang, yang saat itu masih lebih superior dibanding bupati Bandoeng dan bahkan bupati Tjiandjoer, meski ibukota Preanger sudah dipindahkan dari Tjiandjoer ke Bandoeng sejak 1871. Disamping itu, ekonomi (pertanian ekspor) Sumedang tidak kalah jika dibandingkan dengan Bandoeng dan Tjiandjoer. Seperti yang dikabarkan, Adi Sasmita adalah lulusan terbaik dari Kweekschool Bandoeng (dan diproyeksikan menjadi guru di Kweekschool Bandoeng). Tiga guru muda yang dipimpin Willem Iskander berangkat dari Batavia pada tahun 1875. Namun sangat disayangkan mereka berempat tidak ada yang kembali, semuanya dikabarkan telah meninggal dunia di tahun pertama di Belanda (Eropa). Tiga kandidat guru ini dilaporkan sakit keras, tidak bisa menahan dingin. Raden Mas Soerono masih sempat dipulangkan agar jiwanya tertolong, namun meninggal di tengah perjalanan dan dikuburkan di Port Said (Mesir). Meninggalnya Willem Iskander sangat controversial hingga ini hari: bunuh diri atau dibunuh. Dilaporkan Willem Iskander meninggal bulan Mei 1876 karena bunuh diri disebabkan frustrasi karena kematian tiga ‘anak didiknya’.

Namun ini saya pribadi sangat meragukan sebagaimana dapat dibaca dalam edisi Locomotief edisi Juli 1876. Argumennya adalah sebegai berikut: Program pengiriman guru muda ke Belanda di bawah baying-bayang pro-kontra. Di satu pihak menganggap ini biaya dan dipihak lain sebagai (politik) etik. Kematian tiga anak didik Willem Iskander di satu sisi Willem Iskander telah kehilangan harapan untuk peningkatan pendidikan penduduk pribumi di Hindia Belanda, di lain sisi boleh jadi beasiswa Willem Iskander telah diputus sepihak dari Batavia (mengingat program utama adalah tiga guru muda, sedangkan beasiswa Willem Iskander adalah program tambahan, sebagai bentuk bargaining). Disamping itu, jelang keberangkatan Willem Iskander dan tiga anak didiknya, perang Atjeh telah menimbulkan biaya besar di pihak militer (pemerintah Hindia Belanda). Sebelum berangkat ke Batavia, Willem Iskander tampak tidak setuju (menolak) penghancuran keraton (dan masjid Atjeh) dan menyesalkan banyak penduduk pribumi tidak ikut prihatin yang dimuat di dalam surat kabar Sumatra Courant.

Makalah Bandung Lautan Api Makalah Bandung Lautan Api

Sejarahbandung.com – Semoga makalah tentang Sejarah Peristiwa Bandung Lautan Api ini bias menambah pengethuan kita. Kami menyadari makalah nyang kami buat jauh dari sempurna maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran kepada teman -teman dan dosen matakuliah sejarah perjuangan bangsa ini. B. Bandung lautan api Perang Medan Area yang terjadi di Kota Medan 15 Februari 1947, dinilai lebih menggambarkan sikap kepahlawanan dari beberapa perang lainnya melawan kolonialisme Belanda.Sekretaris Pusat Sudi Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial (Pussis) Universitas Negeri Medan, Erond Damanik, mengatakan berdasarkan pengkajian yang dilakukan, maka perang Medan Area tidak kalah penting jika dibanding dengan perang lainnya di Surabaya, 10 November 1945 yang akhirnya memunculkan sebutan “Arek-Arek Suroboyo”. Istilah Bandung Lautan Api menjadi istilah yang terkenal setelah peristiwa pembumihangusan tersebut.

Jenderal A.H Nasution adalah Jenderal TRI yang dalam pertemuan di Regentsweg (sekarang Jalan Dewi Sartika ), setelah kembali dari pertemuannya dengan Sutan Sjahrir di Jakarta , memutuskan strategi yang akan dilakukan terhadap Kota Bandung setelah menerima ultimatum Inggris tersebut.Peristiwa yang terjadi di tanah Pasundan itu berawal dari pertempuran antara para pemuda dan TKR melawan tentara Jepang pada bulan September dan Oktober 1945. Pada tanggal 9 Oktober 1945, pertempuran yang terjadi antara rakyat Bandung dan TKR melawan tentara Jepang dapat diselesaikan dengan damai. 1. Uraikan sejarah tentang bandung lautan api ! Mengenal sejarah Indonesia, salah satunya ada peristiwa Bandung Lautan Api. Peristiwa yang terjadi di tanah Pasundan itu berawal dari pertempuran antara para pemuda dan TKR melawan tentara Jepang pada bulan September dan Oktober 1945.Pada tanggal 9 Oktober 1945, pertempuran yang terjadi antara rakyat Bandung dan TKR melawan tentara Jepang dapat diselesaikan dengan damai. Rakyat Bandung dan TKR berhasil mendapatkan senjata dari pabrik senjata dan mesiu di Kiaracondong.Akan tetapi, bersamaan dengan itu datanglah tentara sekutu memasuki Kota Bandung pada tanggal 21 Oktober 1945. Kedatangan pasukan sekutu itu membuat suasana Kota Bandung menjadi tegang. Pertempuran-pertempuran kecil pun tak terhindarkan.

Ketika pasukan sekutu merasa terdesak, sekutu memberika ultimatum agar seluruh rakyat Bandung paling lambat tanggal 29 November 1945, pukul 12 untuk meninggalkan Bandung Utara. Namun, sampai batas waktu yang ditentukan, rakyat Bandung tidak mematuhinya.Pada tanggal 24 Maret 1946, sekutu mengeluarkan ultimatum lagi agar rakyat Bandung meninggalkan Kota Bandung. Namun, lagi-lagi ultimatum itu tidak digubris. Akibatnya, pertempuran pun tak dapat dihindarkan. Ribuan orang mulai meninggalkan Kota Bandung. Tentara Republik Indonesia sengaja membakar gedung-gedung pemerintahan yang terdapat di Kota Bandung. Maksudnya, agar sekutu tidak dapat menggunakannya lagi. Asap membumbung tinggi. Kota Bandung menjadi lautan api. Kota bandung dimasuki inggris pada bulan oktober 1945 sekutu meminta hasil lucutan tentara jepang oleh TKR diserahkan kepada sekutu pada tanggal 21 november 1945 sekutu mengultimatum agar kota bandungdikosongkan hal ini tidak diindahkan oleh TRI dan rakyat indonesia,Perintah ultimatum tsb diulang tanggal 23 maret 1946 . RI di jakarta memerintah supaya TRI mengosongkan bandung, tetapi pimpinan TRI di yogjakarta menginstruksikan supaya bandung tidak dikosongkan akhirnya dengan barat hati TRI mengosongkan kota bandung, sebelum keluarBandung pada tanggal 23 maret 1946 para pejuang RI menyerang markas sekutu dan membumihanguskan bandung bagian selatan. Pasukan Inggris bagian dari Brigade MacDonald tiba di Bandung pada tanggal 12 Oktober 1945 .

Baca Juga  : Membaca Sejarah Kota Bandung Dari Atas Bus

Sejak semula hubungan mereka dengan pemerintah RI sudah tegang. Mereka menuntut agar semua senjata api yang ada di tangan penduduk, kecuali TKR dan polisi , diserahkan kepada mereka. Orang-orang Belanda yang baru dibebaskan dari kamp tawanan mulai melakukan tindakan-tindakan yang mulai mengganggu keamanan. Akibatnya, bentrokan bersenjata antara Inggris dan TKR tidak dapat dihindari. Malam tanggal 24 November 1945, TKR dan badan-badan perjuangan melancarkan serangan terhadap kedudukan-kedudukan Inggris di bagian utara, termasuk Hotel Homann dan Hotel Preanger yang mereka gunakan sebagai markas. Tiga hari kemudian, MacDonald menyampaikan ultimatum kepada Gubernur Jawa Barat agar Bandung Utara dikosongkan oleh penduduk Indonesia, termasuk pasukan bersenjata.Ultimatum Tentara Sekutu agar Tentara Republik Indonesia (TRI, TNI kala itu) meninggalkan kota Bandung mendorong TRI untuk melakukan operasi ” bumihangus “. Para pejuang pihak Republik Indonesia tidak rela bila Kota Bandung dimanfaatkan oleh pihak Sekutu dan NICA. Kolonel Abdoel Haris Nasoetion selaku Komandan Divisi III TRI mengumumkan hasil musyawarah tersebut dan memerintahkan evakuasi Kota Bandung. Hari itu juga, rombongan besar penduduk Bandung mengalir panjang meninggalkan kota Bandung dan malam itu pembakaran kota berlangsung.

Bandung sengaja dibakar oleh TRI dan rakyat setempat dengan maksud agar Sekutu tidak dapat menggunakan Bandung sebagai markas strategis militer. Di mana-mana asap hitam mengepul membubung tinggi di udara dan semua listrik mati. Tentara Inggris mulai menyerang sehingga pertempuran sengit terjadi. Pertempuran yang paling besar terjadi di Desa Dayeuhkolot , sebelah selatan Bandung, di mana terdapat gudang amunisi besar milik Tentara Sekutu. Dalam pertempuran ini Muhammad Toha dan Ramdan , dua anggota milisi BRI (Barisan Rakjat Indonesia) terjun dalam misi untuk menghancurkan gudang amunisi tersebut. Muhammad Toha berhasil meledakkan gudang tersebut dengan dinamit . Gudang besar itu meledak dan terbakar bersama kedua milisi tersebut di dalamnya. Staf pemerintahan kota Bandung pada mulanya akan tetap tinggal di dalam kota, tetapi demi keselamatan mereka, maka pada pukul 21.00 itu juga ikut dalam rombongan yang mengevakuasi dari Bandung. Sejak saat itu, kurang lebih pukul 24.00 Bandung Selatan telah kosong dari penduduk dan TRI.

Berusia 204 Tahun, Ini Sejarah Singkat Kota Bandung Berusia 204 Tahun, Ini Sejarah Singkat Kota Bandung

Sejarahbandung.com – BANDUNG – Tepat hari ini, 25 September 2014, Kota Bandung berusia 204 tahun. Usia yang tidak muda lagi tentunya. Di Indonesia, Bandung dikenal sebagai salah satu kota metropolitan. Di Jawa Barat, Bandung merupakan kota terbesar sekaligus ibu kota provinsi. Sebagai kota metropolitan terbesar ketiga setelah Jakarta dan Surabaya, Bandung merupakan salah satu tujuan wisatawan, mulai dari wisata belanja, fesyen, dan kuliner. Segala macam puin ada di kota berjuluk ‘Parijs van Java’ itu. Dilansir dari berbagai sumber, kata Bandung berasal dari “bendung” atau “bendungan” karena terbendungnya Sungai Citarum oleh lava Gunung Tangkubanparahu yang kemudian membentuk telaga. Ada juga sejarah yang menyebutkan kata Bandung berasal dari sebuah kendaraan air yang terdiri dari dua perahu yang diikat berdampingan. Kendaraan itu dinamakan Perahu Bandung dan digunakan Bupati Bandung, RA Wiranatakusumah II, saat melayari Sungai Citarum. Kota Bandung dijadikan permukiman sejak pemerintahan kolonial Belanda. Lewat Gubernur Jenderal saat itu, Herman Willem Daendels, pada 25 September 1810 dikeluarkan surat keputusan tentang pembangunan sarana dan prasarana di kawasan Bandung. Tanggal itu kemudian dijadikan sebagai hari jadi Kota Bandung. Namun status sebagai gemeente atau kota sebenarnya baru didapat secara resmi pada 1 April 1906 dari Gubernur Jenderal JB van Heutsz.

Saat itu luas Kota Bandung sekira 900 hektare. Seiring perkembangan, Kota Bandung bertambah luas menjadi sekira 8.000 hektare pada 1949 dan terus berkembang sampai saat ini. Kota Bandung memiliki julukan ‘Kota Kembang’ karena dulu dikenal sebagai kawasan indah yang memilki banyak bunga. Kota Bandung juga disebut ‘Parijs van Java’ karena dulu suasana dan udaranya mirip dengan Paris. Cerita bersejarah pun banyak terlahir di Bandung, mulai dari peristiwa Bandung Lautan Api, Konferensi Asia-Afrika, serta sederet peristiwa bersejarah lainnya. Kini, Kota Bandung menjadi salah satu kota paling modern di Indonesia. Dipimpin Wali Kota Ridwan Kamil, Bandung terus berbenah di tengah ragam permasalahan yang ada, mulai dari PKL, transportasi, taman, hutan kota, serta berbagai persoalan lainnya. Dalam usia 204 tahun, setumpuk persoalan menjadi tantangan tersendiri. Transportasi massal berupa monorel disiapkan untuk menuntaskan persoalan kemacetan. Parkir meter disiapkan untuk menuntaskan persoalan perparkiran. Taman-taman terus diperbaiki dan ditambah. Stadion Gelora Bandung Lautan Api terus digenjot agar segera tuntas. PKL mulai ditata dan direlokasi. Bahkan birokrasi pemerintahan dan persoalan lainnya pun terus diperbaiki. Tapi butuh kerja sama dari semua pihak agar Kota Bandung menjadi lebih baik. Perubahan ke arah positif tidak bisa dilakukan hanya oleh pemerintah.

Hindia Belanda karena pada waktu itu perkembangan kota Batavia sudah dinilai tidak layak sebagai ibukota pemerintahan. Hal tersebut beralasan dikarenakan sebelumnya perlu anda ketahui bahwa Kantor Pemerintahaan Provinsi Jawa Barat itu menempati bangunan Gedung Kerta Mukti di Jalan Braga Bandung. Untuk ruangan kerja Gubernur Jawa Barat sendiri berada di lantai 2 bersama dengan ruang kerja Wakil Gubernur, Sekretaris Daerah ( Sekda ), Assisten serta Biro. Sekretaris Daerah dengan Empat Asisten yaitu Asisten Ketataprajaan, Asisten Administrasi Pembangunan, Asisten Kesejahteraan Sosial dan Asisten Administrasi. Namun demikian, tidak seluruh Asisten Gubernur tersebut menempati Gedung Sate, yaitu bagian Asisten Kesejahteraan Sosial dan Asisten Administrasi bersama staf menempati Gedung Baru. Di bagian timur dan barat terdapat dua ruang besar yang akan mengingatkan pada ruang dansa ( ball room) yang sering terdapat pada bangunan masyarakat Eropa. Dan di sekeliling kedua aula barat dan timur ini terdapat juga sejumlah ruangan yang di tempati pleh beberapa Biro dengan Stafnya. Gedung Sate Bandung ini, maka harus menggunakan Lift atau dengan menaiki tangga kayu.

Baca Juga  : Studi Wisata Atau Studi Banding Di Bandung

Sahabat traveler’s, berikut adalah beberapa keunikan serta fakta menarik yang harus anda ketahui seputar Gedung Sate di Kota Bandung sebelum anda mengunjunginya. Sahabat traveler’s, saat ini banyak sekali bangunan lama, maupun bangunan baru di kota bandung dan sekitarnya yang memiliki nilai sejarah, keunikan dan fungsi kekinian yang modern. Kota Bandung sejak dipimpin oleh lulusan arsitektur ITB Ridwan Kamil sedikit banyaknya telah merubah tata ruang kota dengan ruang hijau serta bangunan – bangunan baru yang aristik. Bandung Planning Gallery, kemudian ada juga Bandung Command Centre, Bandung Scxience Centre dan masih banyak yang lainnya. Nah berbeda dengan bangunan Gedung Sate Bandung, bangunan ini menawarkan sebuah tempat bersejarah yang ada di pusat kota Bandung, damn popularitasnya terus bertahan hingga kini. 6 tusuk sate ( meski sebagian ada yang seperti jambu air dan melati ) yang berada di bagian puncak atas menara sentral. Nah yang menjadi unik dari adanya 6 tusuk sate ini adalah semacam sebuah simbol yang menggambarkan Biaya Pembangunan Gedung Sate Bandung ini menghabiskan anggaran dana 6 juta Gulden.

Sahabat traveler’s, banyak yang orang yang membandingkan kemegahan serta Fungsi Gedung Sate Bandung dengan bangunan – bangunan pusat pemerintahan di seluruh dunia. Cor Pashier dan Jan Wittenberg ( arsitek Belanda ), yang menyatakan bahwa arsitektur Gedung Sate adalah hasil sempurna eksperimen paduan arsitektur Indo-Eropa. Gedung Sate di Kota Bandung ini adalah merupakan suatu maha karya arsitektur yang berhasil memadukan model dan harmoni arsitektur timur dengan barat yang nampak indah sekali. Kemegahan Gedung Sate Bandung juga sangat menarik perhatian sejumlah arsitek Indonesia dengan berikan pernyataan serupa seperti Slamet Wirasonjaya, dan Ir. Sahabat traveler’s, saat ini begitu banyak tempat wisata yang unik dan menarik di Kota Bandung dan sekitarnya yang ngehits sebagai destinasi wisata yang instagramable. Kota Mini Lembang dan Rainbow Garden di kawasan Wisata Floating Market Lembang dll. Nah begitu pun juga dengan objek wisata Gedung Sate Bandung ini, dimana sekarang telah menjadi salah satu tempat wisata di Bandung yang sering dijadikan tempat berfoto di bandung.

Bandung Lautan Api - Harta Benda Dan Nyawa Dikorbankan Bandung Lautan Api - Harta Benda Dan Nyawa Dikorbankan

Sejarahbandung.com – Dulu sewaktu sekolah SD, lagu ini sering saya dengarkan di upacara bendera senin pagi. Halo-Halo Bandung dipilih sebagai lagu wajib pilihan selain Indonesia Raya tentunya yang benar-benar wajib dinyanyikan. Ditulis oleh Ismail Marzuki yang belakangan baru saya ketahui kalau lagu ini masih diperdebatkan siapa pencipta sebenarnya. Terlepas dari perdebatan itu, lagu Halo-Halo Bandung adalah salah satu lagu perjuangan yang mengingatkan kita pada suatu peristiwa bersejarah di kota Bandung, Bandung Lautan Api. Hayo .. Ngaku deh .. Sering denger Bandung Lautan Api tapi ga tau gimana cerita sejarahnya? Hehe .. Wah .. Jangan-jangan berlakunya cuma buat saya aja nih. Huhu .. Gapapa deh, walaupun begitu saya tetep pengen bagi-bagi pengalaman dan pengetahuan saya dengan temen-temen semua.. Juga tentang perjalanan saya dengan komunitas Aleut! Minggu pagi itu saya berkumpul di Bank Jabar Banten jalan Braga jam 7 pagi. Ah senangnya karena Aleut! Ada temen-temen dari Sahabat Kota, ITB, Unpad, Unpas, siswa SMK, Konus, pegawai kantor sampai adik-adik yang masih duduk di bangku SD! Total peserta minggu kemarin sebanyak 29 orang lho!

Walaupun peringatannya masih satu bulan lagi, tapi kobaran semangat perjuangan rakyat Bandung Selatan sudah mulai terasa. Bandung Lautan Api terjadi pada 24 Maret 1946. Satu hari sebelumnya yaitu tanggal 23 Maret 1946 NICA (Nederlands Indies Civil Administration) dan Inggris mengultimatum TRI (Tentara Republik Indonesia) untuk mundur sejauh 11 km dari pusat kota dalam waktu 24 jam saja (pada tanggal 20 Desember 1945 pemerintah kota Bandung sudah pernah mendapatkan ultimatum ini). Pada saat itu Bandung terbagi menjadi dua wilayah. Wilayah utara dikuasai oleh sekutu dan NICA, sebelah selatan dikuasai oleh TRI dengan jalur rel kereta api sebagai batas wilayahnya. TRI yang pada saat itu dipimpin oleh Kol.A.H. Nasution yang juga Komandan Divisi III menuruti perintah pemerintah RI pusat (melalui Syarifuddin Prawiranegara) untuk segera meninggalkan kota Bandung. Padahal Markas Besar TRI yang bertempat di Yogyakarta menginginkan wilayah Bandung dipertahankan, dijaga setiap jengkalnya walaupun harus mengorbankan nyawa. Diambillah keputusan rakyat Bandung mundur, namun TRI serta laskar-laskar tetap bertahan dan berjuang mempertahankan tanah Bandung Selatan walaupun pada akhirnya ikut mengungsi karena keadaan yang tidak mungkin untuk melawan musuh.

Bandung dipisahkan karena sekutu melihat semakin bersatunya kekuatan laskar dan TRI. Sekutu khawatir keinginan mereka menguasai Bandung tidak tercapai. TRI, BKR (Badan Keamanan Rakyat), Laskar Rakyat, Barisan Banteng, Barisan Merah, Laswi (Laskar Wanita), Siliwangi, Pelajar Pejuang bersama dengan rakyat berjuang mempertahankan wilayah. Keputusan meninggalkan Bandung diambil melalui musyawarah Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MP3) pada hari itu juga yang dihadiri oleh semua barisan perjuangan. Tindakan pembumihangusan itu sendiri diusulkan oleh Rukana yang saat itu menjabat sebagai Komandan Polisi Militer di Bandung. Setelah keputusan disepakati, Kol.A.H.Nasution menginstruksikan agar rakyat segera meninggalkan Bandung. Saat itu juga rakyat Bandung mengungsi dalam rombongan besar ke berbagai daerah seperti Soreang, Dayeuh Kolot, Cicalengka, Pangalengan. Mereka mengungsi meninggalkan harta benda, hanya membawa barang seadanya. Rakyat mundur dan Bandung siap dikosongkan. Pengosongan ini disertai dengan pembakaran kota. Rumah-rumah dan gedung-gedung dibakar oleh masyarakat dan para pejuang. Hal ini dilakukan agar sekutu tidak dapat menggunakan dan memanfaatkannya. Rakyat tidak rela kotanya diambil alih pihak musuh. “Kami waktu itu sudah diajari oleh Jepang tentang politik bumi hangus.

Dan kami tidak rela kembali dijajah. Jadi ketika kami mundur semua rumah dibakar oleh pemiliknya,” jelas Akhbar yang pada saat itu merupakan anggota Laskar Pemuda. Bangunan pertama yang dibakar yaitu bangunan Indische Restaurant yang sekarang lokasinya sekitar Bank BRI jalan Asia-Afrika sekitar pukul 21.00 malam. Dilanjutkan dengan pembakaran gedung-gedung penting di sekitarnya termasuk juga rumah-rumah rakyat. Malam itu kobaran api memanaskan kota Bandung. Dari puncak bukit terlihat Bandung memerah. Dari Cimahi di barat sampai Ujung Berung di timur Bandung. Namun seberapa hangusnya kota Bandung, masih belum pasti. Di beberapa tulisan disebutkan gedung-gedung yang dibakar tidak begitu rusak dan masih bisa dipakai bahkan dijadikan tempat pertemuan penting serta konferensi internasional beberapa tahun kemudian (nenek saya yang mengungsi ke Pangalengan juga bercerita kalau sekembalinya dari pengungsian, rumahnya tidak terbakar sama sekali karena yang dibakar hanya rumah-rumah di pinggir jalan raya saja). Terjadi pula peledakan gudang mesiu milik sekutu di Dayeuh Kolot. Pelakunya Moh.Toha dan Ramdan dengan menggunakan granat tangan hingga mengakibatkan Ramdan tewas, namun entah dengan Moh.Toha, tewaskah atau menghilang.

Baca Juga  : Mengenal Sejarah Bandung Lautan Api

Sosok yang sebenarnya dari Moh.Toha pun masih diperdebatkan. Nama Moh.Toha kini diabadikan menjadi salah satu nama jalan dan tugu perjuangan di Bandung. Nama ‘Bandung Lautan Api’ tentunya dikenal setelah peristiwa pembakaran kota Bandung. Ada yang menuliskan bahwa istilah Bandung Lautan Api berawal dari Rukana (Komandan Polisi Militer di Bandung) yang pada saat melakukan pertemuan tindakan ultimatum Inggris mengatakan “Mari kita bikin Bandung Selatan menjadi lautan api”. Tulisan lain menyebutkan bahwa istilah Bandung Lautan Api muncul saat tulisan Atje Bastaman dimuat di harian Suara Merdeka tanggal 26 Maret 1946. Atje yang wartawan muda memberitakan peristiwa pembakaran kota dengan judul Bandoeng Djadi Laoetan Api. Ismail Marzuki melalui lagu Halo-Halo Bandung. W.S.Rendra pun mengenang BLA lewat sajak yang berjudul ‘Sajak Seorang Tua Tentang Bandung Lautan Api’. Berikut sepenggal sajaknya .. Bila tidak mampu mempertahankan kepastian hidup bersama ? Kini batinku kembali mengenang udara panas yang bergetar dan menggelombang, bau asap, bau keringat suara ledakan dipantulkan mega yang jingga, dan kaki langit berwarna kesumba.

Mengenal Sejarah Bandung Lautan Api Mengenal Sejarah Bandung Lautan Api

Sejarahbandung.com – Setiap tanggal 24 Maret, Indonesia memeringati peristiwa Bandung Lautan Api yang fenomenal. Mungkin kebanyakan dari kamu belum tahu mengapa Bandung sempat dibumihanguskan. Kali ini, Pegipegi pengin mengajak kamu untuk mengenal sejarah Bandung Lautan Api lebih dalam. Pasukan sekutu, Inggris bagian dari Brigade MacDonald dan NICA mendarat di Bandung pada 12 Oktober 1945. Dari awal, hubungan pasukan Inggris dan Indonesia sudah tegang. Mereka gencar-gencarnya merebut senjata api yang ada di tangan penduduk, kecuali senjata api milik TKR (yang kini menjadi TNI) dan polisi. Sekutu juga meminta semua senjata pihak Indonesia yang merupakan pelucutan Jepang diserahkan kepada mereka. Ditambah orang-orang tahanan Belanda dibebaskan dari kampung tawanan dan melakukan tindakan-tindakan yang mengganggu keamanan serta NICA dengan bebas melakukan teror kepada masyarakat. Akibat kehadiran sekutu, terjadilah bentrokan bersenjata antara Inggris dan TKR yang semakin memanas. Tanggal 21 November 1945, TKR dan badan-badan perjuangan terus melancarkan serangan terhadap kedudukan-kedudukan Inggris di Bandung Utara, termasuk sekutu di Hotel Humnn dan Hotel Preanger, juga diserang oleh para TKR dan pejuang Indonesia.

Tapi, para pejuang nggak mengindahkan ultimatum tersebut. Hal tersebut malah menaikkan semangat para pejuang, rakyat, dan pemuda yang tergabung dalam TKR untuk melawan sekutu. Sejak saat itulah, pertempuran kecil dan besar antara pejuang dan sekutu terus berlangsung di Bandung. Pada malam hari tanggal 25 November 1945 bendungan Sungai Cikapundung jebol dan menimbulkan banjir besar hingga menelan ratusan korban dan ribuan penduduk kehilangan tempat tinggal. Keadaan tersebut dimanfaatkan oleh tentara sekutu dan NICA untuk menyerang rakyat yang sedang tertimpa musibah. Hingga akhirnya Kota Bandung terbagi dua, yaitu Bandung Utara dan Bandung Selatan. Tentara sekutu menduduki Bandung Utara dan Indonesia menduduki Bandung Selatan dengan jalur kereta api sebagai batas wilayahnya. Setiap hari perang antara pejuang dan sekutu terus terjadi. Hingga pada 5 Desember 1945, sekutu melancarkan aksinya kembali dengan memborbardir daerah Lengkong Besar. Tanggal 21 Desember 1945, pihak Inggris menjatuhkan bom dan tembakan di Cicadas. Sekutu Inggris dan NICA kembali memberikan ultimatum kedua pada 23 Maret 1946 kepada TRI untuk mundur sejauh 11 km dari pusat kota dalam waktu 24 jam.

TRI yang saat itu dipimpin oleh Kolonel A.H.Nasution menuruti perintah pemerintah RI Pusat untuk meninggalkan Bandung. Keputuan yang diambil TRI mendapatkan kontra dari Markas Besar TRI yang bertempat di Yogyakarta. Mereka menginginkan agar Bandung tetap dipertahankan dan dijaga walaupun harus mengorbankan nyawa. Akhirnya diambil keputusan agar rakyat Bandung mundur dan para TRI serta pejuang tetap bertahan dan memperjuangkan Bandung Selatan. Pada akhirnya para pejuang juga ikut mengungsi karena keadaan semakin melemah dan tidak memungkinkan untuk melawan musuh. TRI akhirnya melakukan bumi hangus terhadap Bandung. Tindakan ini diambil setelah melalui musyawarah Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MP3) yang dihadiri oleh semua barisan perjuangan. Tindakan bumi hangus diusulkan oleh Rukana (Komandan Polisi Militer di Bandung) dan disepakati oleh Kolonel A.H.Nasution yang menginstruksikan agar rakyat segera meninggalkan Bandung. Ketika itu, rakyat mengungsi ke berbagai daerah, seperti Soreang, Cicalengka, Pangelangan, Dayeuh Kolot, dan lain-lain dengan membawa barang seadanya. Setiap kota di Indonesia memang memiliki sejarahnya masing-masing, termasuk Bandung yang dikenal dengan peristiwa Bandung Lautan Api. Di kota kembang tersebut, kamu juga bisa mengunjungi berbagai tempat bersejarah yang berhubungan masa-masa penjajahan atau kemerdekaan. Agar bujet liburan kamu ke Bandung lebih terjangkau, yuk, pesan tiket pesawat atau tiket kereta api ke Bandung lewat Pegipegi, ya! Jangan lupa buat cari hotel murah di Bandung juga, ya!

Baca Juga  : Asal Muasal Dan Sejarah Bandung

Akhirnya, malam yang telah disepakati pun tiba. Api melahap rumah, pedang berkelebat, dan darah muncrat. Dalam Wawacan Carios Munada (1993), Edi S. Ekadjati dkk mengatakan bahwa 100 tahun setelah kejadian tersebut, masyarakat Bandung tetap memandang kasus pembunuhan ini sebagai peristiwa besar. Kisah ini pun terus beredar dari mulut ke mulut. Peristiwa berdarah dilatarbelakangi salah satunya oleh dendam pejabat di kota Bandung ini juga tercatat dalam empat sumber tertulis: Sejarah Timbanganten, Kitab Pancakaki, Babad Raden Adipati Aria Martanagara, dan Wawacan Carios Munada. Dari empat naskah tersebut, Wawacan Carios Munada yang naskahnya disimpan di perpustakaan Universitas Leiden adalah karya paling rinci yang menuturkan peristiwa tersebut, mulai dari latar belakang sampai akibatnya. Sementara dalam naskah Sejarah Timbanganten, kejadian ini hanya dimuat pada halaman 19-21. Dalam Kitab Pancakaki, peristiwa ini hanya satu dari sekian kejadian penting yang dicatat oleh penulisnya. Bobotnya tak berbeda dengan peristiwa meletusnya Gunung Galunggung. Pada naskah Babad Raden Adipati Aria Martanagara, huru-hara Munada sekilas dimunculkan untuk dikaitkan dengan kejadian serupa di Bandung pada 1893, yakni rencana pembunuhan terhadap residen, asisten residen, dan bupati. Dari keempat naskah ini, bahasan yang paling sedikit dapat dijumpai dalam Kitab Pancakaki.

Tiga naskah lain yang lebih panjang mengandung sejumlah perbedaan terkait fakta di lapangan, di antaranya nama Jaksa Bandung, besaran utang Munada, senjata yang dipakai Munada untuk membunuh, waktu peristiwa, dan lain-lain. Karena paling lengkap dan runut, rujukan yang saya pakai pada bagian pertama tulisan ini adalah Wawacan Carios Munada. Tiga puluh dua tahun silam, kisah Munada diwariskan oleh Haryoto Kunto kepada generasi muda Bandung lewat magnum opus berjudul Semerbak Bunga di Bandung Raya (1986). Dalam buku setebal seribu halaman lebih itu, Haryoto Kunto dua kali menyampaikan bahwa pasar pertama Bandung terbakar saat terjadi huru-hara Munada. “Pasar itu kemudian musnah terbakar sewaktu terjadi ‘Huru-hara Munada’ di pertengahan abad XIX. Sejak masa itu, Bandung tidak memiliki pasar. Hingga para pedagang pada keluyuran, menjajakan dagangannya di sekitar alun-alun, Jalan Raya Pos, Cibadak, Pangeran Sumedang-weg, Jl. ABC, Suniaraja, dan kemudian juga mangkal di sekitar stasiun kereta api setelah kereta api masuk ke Bandung pada 1884,”

Asal Muasal Dan Sejarah Bandung Asal Muasal Dan Sejarah Bandung

Sejarahbandung.com – Pada 25 September 1810, Gubernur Jenderal, Herman Willem Daendels mengeluarkan surat keputusan tentang pembangunan sarana dan prasarana. Kota Bandung mulai dijadikan sebagai kawasan permukiman sejak pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Kemudian hari peristiwa ini diabadikan sebagai hari jadi kota Bandung. Sejarah Kota Bandung bermula dari Legenda Sangkuriang yang menceritakan bagaimana terbentuknya danau Bandung dan Gunung Tangkuban Perahu. Air dari danau Bandung menurut legenda, mulai mengering karena mengalir melalui sebuah gua yang bernama Sanghyang Tikoro. Situ Aksan merupakan daerah terakhir dari sisa-sisa Danau Bandung yang telah kering. Pada tahun 1970-an masih merupakan danau tempat pariwisata, hingga saat ini sudah menjadi daerah perumahan untuk permukiman. Kota Bandung secara geografis memang terlihat dikelilingi oleh pegunungan, dan ini menunjukkan bahwa pada masa lalu kota Bandung memang merupakan sebuah telaga atau danau. Tahun 1896 Bandung belum ditetapkan menjadi kota dengam data penduduk sebanyak 29.382 orang, sekitar 1.250 orang berkebangsaan Eropa, mayoritas orang Belanda.

Pada 1 April 1906, Kota Bandung secara resmi mendapat status gemeente (kota) dari Gubernur Jenderal J.B. Heutsz dengan luas wilayah sekitar 900 ha. Tahun 1949, bertambah menjadi 8.000 ha. Pada masa perang kemerdekaan, 24 Maret 1946, sebagian kota ini di bakar oleh para pejuang kemerdekaan sebagai strategi perang. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan Bandung Lautan Api dan diabadikan dalam lagu Halo-Halo Bandung. Kemudian, Kota Bandung ditinggalkan oleh sebagian penduduknya yang mengungsi ke daerah lain. Sedangkan, terdapat beberapa versi munculnya kata “Bandung” yang kini dijuluki juga sebagai Parijs Van Java. Bandung berasal dari kata bendung atau bendungan karena terbendungnya sungai Citarum oleh lava Gunung Tangkuban Perahu yang lalu membentuk telaga. Adapun legenda yang menceritakan “Bandung” diambil dari sebuah kendaraan air yang terdiri dari dua perahu yang diikat berdampingan yang disebut perahu bandung. Perahu ini digunakan oleh Bupati Bandung, R.A. Wiranatakusumah II, untuk melayari Citarum dalam mencari tempat kedudukan kabupaten yang baru untuk menggantikan ibukota yang lama di Dayeuhkolot. Ada juga sejarah kata “bandung” dalam bahasa Indonesia, identik dengan kata “banding” berarti berdampingan.

Ngabanding (Sunda) berarti berdampingan atau berdekatan. Sedangkan, berdasarkan filosofi Sunda, kata “bandung” berasal dari kalimat “Nga-Bandung-an Banda Indung,” yang merupakan kalimat sakral dan luhur karena mengandung nilai ajaran ^_^

Sunda. Kata Bandung mempunyai nilai filosofis sebagai alam tempat segala makhluk hidup maupun benda mati yang lahir dan tinggal di Ibu Pertiwi yang keberadaanya disaksikan oleh yang Maha Kuasa. Selain sejarah mengenai Kota Bandung, kota ini juga memiliki beberapa julukan yang biasanya disebut oleh masyarakat. Pertama yaitu dengan julukan Kota Kembang. Istilah kota kembang berasal dari peristiwa yang terjadi tahun 1896 saat Pengurus Besar Perkumpulan Pengusaha Perkebunan Gula, Bestuur van de Vereninging van Suikerplanters yang berkedudukan di Surabaya memilih Bandung sebagai tempat penyelenggaraan kongresnya yang pertama. Tuan Jacob mendapat masukan dari Meneer Schenk agar menyediakan ‘kembang-kembang’ berupa “noni cantik” Indo-Belanda dari wilayah perkebunan Pasir Malang untuk menghibur para pengusaha gula tersebut. Kongres tersebut dikatakan sukses besar. Dari mulut peserta kongres itu kemudian keluar istilah dalam bahasa Belanda De Bloem der Indische Bergsteden atau ‘bunganya’ kota pegunungan di Hindia Belanda.

Baca Juga  : Taman Balai Kota Bandung – Destinasi Wisata “Urang” Bandung

Dari situ muncul julukan kota Bandung sebagai kota kembang. Adapun Kota Bandung dijuluki Parisj Van Java. Pada buku Otobiografi Entin Supriatin, berjudul Deritapun Dapat Ditaklukan, disebutkan Bandung dikenal dengan sebutan Parijs Van Java atau Paris-nya Pulau Jawa. Istilah Parijs van Java muncul karena pada waktu itu di Jalan Braga, terdapat banyak toko yang menjual barang-barang produksi Paris, terutama toko pakaian. Toko yang terkenal diantaranya adalah toko mode dan pakaian, Modemagazinj ‘au bon Marche’ yang menjual gaun wanita mode Paris. Selain itu, terdapat restoran makanan khas Paris Maison Bogerijen yang menjadi tempat santap para pejabat dan pengusaha Hindia Belanda atau Eropa. Muncullah julukan lain bagi kota Bandung sebagai Parijs van Java. Sebutan Bandung Lautan Api juga sering disebut-sebut sebagai julukan untuk Kota Bandung. Pada Maret 1946, dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk mengukir sejarah dengan membakar rumah dan harta benda mereka, meninggalkan kota Bandung menuju pegunungan di selatan. Bandung sengaja dibakar oleh Tentara Republik Indonesia (TRI) dan rakyat dengan maksud agar Sekutu tidak dapat menggunakannya lagi. Bandung Lautan Api kemudian menjadi istilah yang terkenal setelah peristiwa pembakaran itu. Almarhum Jenderal Besar A.H Nasution teringat saat melakukan pertemuan di Regentsweg (sekarang Jalan Dewi Sartika), setelah kembali dari pertemuannya dengan Sutan Sjahrir di Jakarta, untuk memutuskan tindakan apa yang akan dilakukan terhadap Kota Bandung setelah menerima ultimatum Inggris. Istilah Bandung Lautan Api muncul pula di harian Suara Merdeka tanggal 26 Maret 1946. Seorang wartawan muda saat itu, yaitu Atje Bastaman, menyaksikan pemandangan pembakaran Bandung dari bukit Gunung Leutik di sekitar Pameungpeuk, Garut. Dari puncak itu Atje Bastaman melihat Bandung yang memerah dari Cicadas sampai dengan Cimindi. Setelah tiba di Tasikmalaya, Atje Bastaman dengan bersemangat segera menulis berita dan memberi judul Bandoeng Djadi Laoetan Api. Namun karena kurangnya ruang untuk tulisan judulnya, maka judul berita diperpendek menjadi Bandoeng Laoetan Api.

Sejarah, Profil, Dan Prestasi Persib Bandung Sejarah, Profil, Dan Prestasi Persib Bandung

Sejarahbandung.com – Sejarah, Profil, dan Prestasi Persib Bandung- Persib Bandung merupakan klub yang memiliki cukup banyak penggemarnya, yakni para bobotoh. Mereka dikenal sebagai pendukung yang fanatik, sama layaknya seperti aremania ataupun para bonek. Rival utama persib Bandung dan pendukungnya adalah Persija Jakarta. Ketika kedua tim bertemu, maka bisa dipastikan aroma super panas bakal mengiringi pertandingan tersebut. Klub yang berdiri sejak zaman kolinial belanda ini memiliki suporter yang fanatik yakni Viking dan bobotoh. Klub yang identik dengan warna kostum kebanggan berwarna biru dan berlogo macan ini memang menjadi salah satu tim kuat di Indonesia Super League. Catatan prestasi tim ini relatif stabil di papan atas sepak bola Indonesia, sejak era Perserikatan sampai ke Liga Indonesia masa kini. Berikut ini Kumpulan Sejarah akan menginformasikan kepada Sobat Pecinta Bola Indonesia tentang Sejarah, Profil, dan Prestasi Persib Bandung secara lengkap. BIVB memanfaatkan lapangan Tegallega di depan tribun pacuan kuda. Tim BIVB ini beberapa kali mengadakan pertandingan di luar kota seperti Yogyakarta dan Jatinegara Jakarta.

PSSI dalam pertemuan yang diadakan di Societeit Hadiprojo Yogyakarta. Pada tanggal 14 Maret 1933, kedua perkumpulan itu sepakat melakukan fusi dan lahirlah perkumpulan yang bernama Persib. Perkumpulan ini kerap memandang rendah Persib, dan dianggap perkumpulan kelas dua. Persib memenangkan perang dingin dan menjadi perkumpulan sepakbola satu-satunya di Bandung dan sekitarnya. Klub-klub yang tadinya bernaung dibawah VBBO seperti UNI dan Sidolig pun bergabung dengan Persib.

Priangan si Jelita ( judul puisi karya Ramadhan KH, 1956) jadi bukti bahwa sejak dahulu tatar Sunda ini telah dikenal kemolekannya. Bandung pun kini berbenah untuk mengembalikan pamornya sebagaimana julukan Paris van Java, predikat di jaman kolonial Belanda. Sempat tercoreng karena masalah tumpukan sampah, kini ibukota propinsi Jawa Barat ini punya banyak taman tematik cantik. Taman-taman ini dibangun karena sang pemimpin kota ingin melihat warga Bandung berkegiatan di luar ruang dan menaikkan derjat index of happiness. Taman yang baru saja kudatangi yaitu Taman Sejarah dan Taman Balaikota Bandung adalah salah satu contohnya.

Baca Juga  : Yuk, Belajar Sejarah Sambil Bermain Di Taman Sejarah Bandung

Bandung itu tak ada matinya deh, warganya kreatif pisan. Tiap dekade selalu ada yang hits, bila kepopulerannya menurun segera ada pengganti lain. Dulu tahun 70an hits dengan kuliner yoghurt dan sosis, 80an kelom geulis, 90an jeans Cihampelas dan sepatu Cibaduyut. Lalu kini ngetop karena aneka factory outlet dan kuliner model baru seperti molen, brownies dll. Belakangan era pariwisata tampaknya yang membuat kota Bandung selalu macet di akhir pekan. Datang ke taman ini diajak oleh blogger Bandung bu Dey dan keluarga Sabtu sore. Kedatanganku yang hanya sekejap dimanfaatkan seefisien mungkin ha..

Hari yang semakin menggelap membatasi keinginan untuk mendatangi setiap pojok Taman Balai Kota satu per satu. Tiba-tiba saja bu Dey kasih ide untuk menjadikan taman ini sebagai lokasi kopdar esok hari. Pertimbangannya lokasi ini dekat dengan hotel tempatku menginap (hotel Amarossa jalan Aceh) supaya aku tak nyasar lagi. Jalan di Bandung itu memang menantang sekali deh, gampang banget bikin orang linglung. Bayangkan saja jalan Aceh itu panjang luar biasa, walau telah dipotong persimpangan namanya tak berubah, tetap Aceh.

Karena takut nyasar lagi, aku pesan ojek online, ongkos hanya 4 ribu rupiah saking dekatnya. Kopdar dengan dua blogger Bandung lainnya dilakukan setelah acara pernikahan kerabat Minggu siang. Aku janji bertemu kak Vivera Siregar seorang wanita serba bisa, guru bahasa Perancis dan juga fotografer, crafter, jago masak. Seorang lagi bibi titi teliti Erry Andriyati yang sudah kenal kurang lebih 6 tahun dan berkali-kali gagal kopdar. Akhirnya hilang deh rasa penasaran ketemu dengan seleblogger. Kopdar yang singkat, alhamdulillah mereka bersedia datang dari jauh menemuiku. Terima kasih banyak ya. Taman Balai Kota Bandung ini ada di kompleks perkantoran Walikota Bandung.

Keempat sisinya adalah jalan raya yang ramai. Letak tepatnya yaitu di antara Jalan Wastukencana, dan Jalan Merdeka. Orang Bandung biasa menyebutnya Balkot. Lokasi ini adalah pusat pemerintahan sekaligus tempat berkantor para walikota Bandung dari zaman dulu hingga kini. Halaman depan kantor pak Ridwan Kamil ini sangat luas dan sudah dijadikan taman selama puluhan tahun. Bahkan ini adalah taman paling tua di Bandung, dibangun tahun 1885. Nama taman ini dulu Pieter Sijthoffpark atau Pieterspark.

Nama itu diambil dari nama Asisten Residen Priangan yang berperan pada penghijauan kota. Tempat ini juga difungsikan sebagai kawasan area publik dan jadi salah satu tempat nongkrong warga segala umur, dari bayi sampai lansia. Pengunjung bisa menikmati susana tenang, teduh dan asri. Kulihat ada kelompok yang latihan musik, dancing, kelompok penyayang binatang, bermain sepeda dan inline skate, dll. Di taman warga bisa belajar aneka jenis tanaman, baik itu bunga, tanaman penutup tanah ataupun pohon peneduh. Juga belajar pohon sebagai habitat satwa liar seperti burung dan tupai. Dari flora dan fauna, udara segar, air bersih dan tanah yang subur kita belajar berinteraksi dan memahami. Betul kata bu Dey Taman Balai Kota Bandung punya banyak nama.