September 2020

Post thumbnail

Sejarah Awal Berdirinya Gedung Sate – Gedung Sate merupakan sebuah ornamen yang berbentuk seperti tusuk sate, karena keunikannya gedung ini menjadi salah satu ikon di Kota Bandung. Dinamakan Gedung Sate, gedung ini sekarang berfungsi sebagai gedung tempat pemerintahan Pusat Jawa Barat dan seringkali menjadi tempat berbagai festival seni serta kegiatan lainnya. Gedung Sate memiliki keunikan dari sisi arsitektur dan keindahan tersendiri yang berbeda bila dibandingkan dengan bangunan lainnya di kota Bandung. Selain itu, Gedung Sate memiliki sejarah yang panjang. Berdiri di tanggal 27 Juli 1920 gedung ini dibangun di zaman pemerintahan kolonial Belanda. Meski berusia sudah lebih dari seratus tahun, bangunan ini masih tetap berdiri kokoh dan anggun. Fungsinya sebagai pusat pemerintahan dari jaman Belanda hingga saat ini mungkin menjadi salah satu alasan mengapa gedung ini terjaga kondisinya.

Awal Pendirian

Oleh pemerintahan Belanda dulu, gedung ini disebut dengan Gouvernements Bedrijven atau GB. Dirancang oleh sebuah tim ahli dari Belanda yang terdiri dari Ir. J. Gerber, seorang arsitek muda ternama lulusan Fakultas Teknik Delft Nederland, serta Ir. Eh. De Roo dan Ir. G. Hendriks.

Proses pembangunan langsung ditangani oleh pihak Gemeente van Bandoeng yang diketuai oleh Kol. Pur. VL. Slors yang melibatkan 2000 tenaga kerja yang terdiri dari 150 orang pemahat atau ahli bongpay pengukir batu nisan dan pengukir kayu berkebangsaan China yang berasal dari Konghu atau Kanton. Tak hanya itu, 2000 tenaga kerja itu juga terdiri dari tukang batu dan kuli aduk yang merupakan warga kampung sekitar kota Bandung pada saat itu.

Peletakan Batu Pertama

Peletakan batu pertama Gedung Sate dilakukan oleh Johanna Catherina Coops, putri sulung dari Walikota Bandung saat itu, B. Coops dan Petronella Roelofsen, mewakili Gubernur Jendral Batavia J.P. Graaf van Limburg. Pembangunan Gedung Sate memakan waktu 4 tahun dan biaya sekitar 6 juta gulden. Hal inilah yang menjadi dasar penentuan jumlah benda bulat yang ditusuk oleh semacam tusuk sate di bagian puncak gedung. Ada banyak versi dari masyarakat Bandung tentang benda bulat yang ditusuk tiang di puncak Gedung Sate. Ada yang mengatakan bahwa benda bulat tersebut adalah sate, jambu air hingga melati yang berjumlah enam buah.

Apa fungsi gedung sate dari awal hinga sekarang?

Gedung Sate semenjak tahun 1980 dikenal dengan sebutan Kantor Gubernur alasannya yaitu sebagai sentra acara Pemerintah Provinsi Jawa Barat, yang sebelumnya Pemerintahaan Provinsi Jawa Barat menempati Gedung Kerta Mukti di Jalan Braga Bandung. Ruang kerja Gubernur terdapat di lantai II bersama dengan ruang kerja Wakil Gubernur, Sekretaris Daerah, Para Assisten dan Biro. Saat ini Gubernur di menolong oleh tiga Wakil Gubernur yang menangani Bidang Pemerintahan, Bidang Ekonomi dan Pembangunan, serta Bidang Kesejahteraan Rakyat, seorang Sekretaris Daerah dan Empat Asisten yaitu Asisten Ketataprajaan, Asisten Administrasi Pembangunan, Asisten Kesejahteraan Sosial dan Asisten Administrasi. Namun tidak seluruh Asisten menempati Gedung Sate. Asisten Kesejahteraan Sosial dan Asisten Administrasi bersama staf menempati Gedung Baru.

Fungsi gedung sate saat ini

Gedung Sate yang berlokasi di jalan Diponegoro 22 Bandung ketika ini mempunyai fungsi utama sebagai kantor sentra pemerintah gubernur Jawa Barat. Akan tetapi, seiring dengan perkembangannya gedung ini juga menjadi salah satu lokasi wisata paling populer. Gedung Sate bahkan sangat ramai dikunjungi terutama pada simpulan pekan. Pada simpulan pekan lapangan yang berada tepat di depan gedung pun beralih fungsi menjadi lokasi Gasebu SunMor Activity atau pasar kaget. Banyak masyarakat yang hadir berkunjung baik untuk berolahraga, bersantai, atau lainnya.

Mengapa disebut gedung sate?

Karena di bagian atap atau puncak gedung ada hiasan menyerupai tusuk sate dengan 6 bulatan yang menancap.

kenapa harus ada 6 bulatan di menaranya?

Kerena, jumlah 6 benda ini dinilai sebagai perlambang biaya pembangunan Gouvernemens Bedrijven, yaitu sebanyak 6 juta gulden (mata uang Belanda). Di dalam gedung juga ada 6 tangga yang bisa dinaiki oleh pengunjung.

Siapa yang merancang gedung sate ini?

Dirancang oleh Ir. J. Gerber, seorang arsitek muda ternama lulusan Fakultas Teknik Delft Nederland, serta Ir. Eh. De Roo dan Ir. G. Hendriks.

Baca juga: Beberapa asumsi salah tentang orang BandungĀ 

Kapan gedung baru di bangun?

Sejak tahun 1980, Gedung Sate lebih dikenal oleh masyarakat sebagai Kantor Gubernur karena fungsinya sebagai pusat kegiatan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Namun sebelum pindah ke Gedung Sate, Kantor Gubernur Jawa Barat berada di Gedung Kerta Mukti di Jalan Braga Bandung.

Indahnya Gedung Sate semakin disempurnakan dengan dibangunnya Gedung Baru hasil karya arsitek Ir. Sudibyo pada tahun 1977. Gedung Baru ini mengambil sedikit gaya arsitektur yang dimiliki oleh Gedung Sate. Bangunan ini diperuntukkan bagi para Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Barat untuk melaksanakan kewajiban mereka sebagai Lembaga Legislatif Daerah.

Bagai mana keadaan bandung saat pertempuran melawan sekutu dan belanda?

Di tanggal 3 Desember 1945, Belanda yang belum terima dengan kemerdekaan yang diraih bangsa Indonesia, menghimpun sejumlah kekuatan untuk merebut sejumlah aset dari tangan Indonesia. Salah satu aset yang menjadi target saat itu adalah Gedung Sate. Menunggangi pasukan sekutu dari Inggris, Belanda berusaha melancarkan serangan ke Gedung Sate yang dilindungi oleh sejumlah pemuda Indonesia.

Pertempuran pun tumpah dan berlangsung selama dua jam. Sejumlah korban pun jatuh baik dari pihak pemuda Indonesia yang mempertahankan Gedung Sate dan penyerang. Tujuh pemuda Indonesia diketahui kemudian tewas pada pertempuran tersebut. Untuk mengenang jasa mereka, pemerintah membuatkan sebuah tugu dari batu di halaman belakang Gedung Sate. Namun pada tahun 1970, Menteri Pekerjaan Umum memerintahkan tugu tersebut dipindahkan ke halaman depan Gedung Sate.

Melihat-Sejarah-Dari-Museum-Wangsit-Mandala-Siliwangi Melihat-Sejarah-Dari-Museum-Wangsit-Mandala-Siliwangi

sejarahbandung – Sejarah perjuangan para pahlawan kesuma bangsa dengan suka dukanya memang perlu diketahui generasi kini agar mereka tahu dan termotivasi juga untuk melanjutkan sepak terjang para pendahulu, meski tentu tak harus jadi tentara.
Adalah museum Wangsit Mandala Siliwangi di Kota Bandung kiranya dimaksudkan seperti itu. Lalu, seperti apakah museum ini. Mari kita simak artikel berikut.

Museum Wangsit Mandala Siliwangi merupakan destinasi wisata sejarah di Bandung yang tak boleh dilewatkan. Museum ini merupakan salah satu dari beberapa deretan museum unik di Indonesia yang bisa dikunjungi. Museum yang satu ini banyak menyimpan benda-benda yang pernah digunakan oleh Pasukan Kodam Siliwangi. Senjata yang disimpan di dalam museum ini tak hanya terbatas pada senjata militer. Namun, ada juga beberapa senjata tradisional yang tersimpan rapi di dalamnya.

Museum ini diresmikan oleh panglima divisi Siliwangi Kolonel Ibrahim Adjie pada tanggal 23 Mei 1966. Gedungnya peninggalan Belanda. Pada awal pembangunannya gedung ini berfungsi sebagai tempat tinggal para perwira Belanda. Sedangkan pada masa pendudukan jepang, gedung ini merupakan salah satu markas perjuangan yang digunakan untuk melawan Belanda.

Museum Wangsit Mandala Siliwangi adalah museum militer yang berada di Kota Bandung, Jawa Barat. Siliwangi merupakan nama komando daerah militer TNI-AD di Jawa Barat dan Banten yang namanya diambil dari raja Kerajaan Sunda yang beribu kota di Pakuan Pajajaran yang kekuasaanya konon tak terbatas, juga arif dan bijaksana serta wibawa dalam menjalankan roda pemerintahan. Sedangkan arti Mandala Wangsit merupakan sebuah tempat untuk menyimpan amanat, petuah atau nasihat dari pejuang masa lalu kepada generasi penerus melalui benda-benda yang ditinggalkannya.

Baca Juga :Beberapa Mitos Rumah Kentang Bandung

Museum ini berlokasi di Jalan Lembong, Kecamatan Sumurbandung. Jalan ini diambil dari nama Letkol Lembong, salah satu prajurit Siliwangi yang menjadi korban dalam Peristiwa Kudeta Angkatan Perang Ratu Adil. Sebelumnya jalan itu bernama Oude Hospitaalweg.

Koleksi museum terdiri atas peralatan perang yang digunakan oleh pasukan Kodam Siliwangi, dari senjata tradisional Sunda yang digunakan sebelum era modern seperti tombak, panah, keris, kujang, dan bom molotov. Senjata modern yang ditampilkan di museum ini adalah panser rel buatan Indonesia, meriam, dan kendaraan lapis baja.

Di dalam museum ini juga terdapat koleksi peralatan perang di zaman perang kemerdekaan Indonesia yang terdiri atas senjata-senjata yang digunakan di masa Pendudukan Jepang. Terdapat beberapa alat dan kendaraan yang digunakan pada saat masa tersebut, yaitu:

  1. Bedug simarame
  2. Senjata laras panjang dan pistol
  3. Tank dan ambulans militer

Di samping itu juga terdapat galeri lukisan yang menggambarkan romusha atau kerja paksa yang terjadi di zaman pendudukan Jepang. Terdapat juga koleksi fotografi mengenai peristiwa Bandung Lautan Api pada tanggal 24 Maret 1946 di Bandung dan peristiwa peracunan pada tanggal 17 Februari 1949. Terdapat koleksi bedok (busana) yang digunakan oleh Ki Hadjar Dewantara, Menteri Pendidikan pertama di Indonesia berupa bedok yang terdiri dua jubah berwarna putih dan hitam. Terdapat pula satu aula untuk keperluan umum di museum tersebut.