Author: superadmin

Balai Kota Bandung Yang Juga Menyajikan Wisata Gratis Balai Kota Bandung Yang Juga Menyajikan Wisata Gratis

Sejarahbandung.com – BALAI Kota Bandung adalah kantor wali kota Bandung yang berada di Jalan Wastukencana No 2. Seperti disebutkan laman wikipedia balai kota merupakan bangunan administratif utama bagi pemerintahan kota dan biasanya memuat dewan kota, departemen terkait dan para pegawainya. Di sinilah, wali kota menjalankan fungsinya. Nah di Bandung, kawasan kantor wali kota tersebut tak hanya melulu untuk berkantor para pegawai pemerintahan. Di sekelilingnya bangunan kantor tersebut terdapat tempat-tempat yang bisa dikunjungi warganya untuk berwisata. Tempat tersebut bisa dikunjungi tanap harus membayar alias gratis. Yang menjadi favorit warga adalah Taman Balai Kota. Taman ini adalah taman yang paling tua di Kota Bandung. Dibangun pada1885 dengan nama Pieter Sijthoffpark atau Pieterspark. Namun nama itu tidak populer. Orang Bandung lebih senang menyebutnya Kebon (Kebun) Raja. Mengapa Kebon Raja karena di sebelah timur taman ada sekolah bernama Kweekschool voor Inlandsche Onder Wijzern. Sekolah ini sering disebut Sakola Raja. Taman tersebut setelah Walik Kota Bandung Ridwan Kamil memimpin direvitalisasi.

Banyak perubahan desain yang dilakukan oleh Ridwan Kamil. Taman ini ditata hingga warga lebih nyaman lagi untuk berkunjung ke taman tersebut. Sebut saja semacam stilasi bertuliskan “Love”. Tempat ini sering dijadikan tempat berfoto para pengunjung. Taman Badak Putih pun yang difasilitasi kolam dangkal menjadi daya tarik tersendiri. Terutama anak-anak yang ingin bermain air di kolam dangkal tersebut. Badan Putih yang sebelumnya telah ada lebih bersih dan menjadi teman nyaman untuk nongkrong di pinggir kolam dan patung tersebut. Taman Dewi Sartika yang menghadap ke Jalan Perintis Kemerdekaan yang direvitalisasi belakangan bersamaan dengan Taman Badak Putih, menjadi tempat berfoto menarik dengan latar belakang patung dan tanaman berwarna-warni. Di taman ini pun dilengkapi mini zoo dengan koleksi hewan seperti kelinci. Tak jauh di Taman Dewi Sartika terdapan Taman Sungai Cikapayang. Menhir yang dipasang di sana juga menjadi daya tarik tersendiri. Termasuk juga kolam dangkal yang airnya berasal dari Sungai Cikapayang yang sebelumnya telah diproses sehingga bersih dan aman untuk dijadikan tempat bermain anak-anak. Di belakang balai kota ada Taman Sejarah. Taman yang tepatnya berada di Jalan Aceh ini menceritakan perjalanan Bandung. Nama-nama pemimipin Bandung terpampang di taman tersebut. Kolam dangkal pun disediakan di sini untuk tempat bermain anak-anak. Di samping Taman Sejarah ada galeri bernama Bandung Planning Gallery. Lokasinya berada di Jalan Aceh Nomor 51. Bandung Planning Gallery menempati gedung bekas kantor DPRD Kota Bandung. Kantor DPRD Kota Bandung sendiri pindah ke Jalan Sukabumi. Bandung Planning Gallery merupakan miniatur pembangunan Kota Bandung yang sudah jadi dan sedang proses. Di sana juga, pengunjung bisa mengetahui kebijakan pemerintah melalui pemutaran video lewat layar LCD. Pengunjung bisa merasakan virtual reality menggunakan LRT, video mapping, dan augmented reality.

Bila Anda dari stasiun Bandung, untuk menuju ke tempat ini jaraknya sekitar 6,5 kilometer, atau menempuh waktu 20 menit. Sementara bila Anda dari Bandara Husein Sastranegara jaraknya sekita 7,2 kilometer atau 25 menit. Dengan catatan, kondisi jalan lancar. Hehe. Faktanya, di hari-hari wiken Bandung selalu dipenuhi kendaraan. Jika Anda berasal dari luar kota dan menggunakan jalan tol Cipularang ,maka silahkan ambil pintu keluar Tol Kopo. Anda bisa langsung belok kiri menuju jalan bypass. Dari jalan bypass ambil arah kanan dan lurus hingga menjumpai lampu merah dan terlihatlah tugu sepatu. Status Cibaduyut sebagai sentra kerajinan sepatu memiliki sejarah yang panjang ternyata. Bahkan dimulai sejak masa belum kemerdekaan. Jadi konon sekitar tahun 1920-an ada sebagian warga daerah itu yang bekerja di sebuah pabrik sepatu yang kemudian bangkrut. Berbekal keahlian yang diperoleh selama bekerja di pabrik tersebut, mereka kemudian mulai merintis usaha pembuatan produk alas kaki sederhana di lingkungan sekitar rumah mereka. Ternyata usaha tersebut berkembang.

Baca Juga  : Berusia 204 Tahun, Ini Sejarah Singkat Kota Bandung

Pesanan semakin banyak, yang bahkan membuat mereka kewalahan. Oleh karenanya mereka kemudian merekrut tetangga dekat untuk membantu mengerjakan pesanan. Inilah awal mula meyebarnya keahlian membuat sepatu di antara warga. Sampai tahun 1940 tercatat terdapat 89 unit pengrajin sepatu. Pada tahun 1950 jumlahnya meningkat menjadi 250 unit usaha sepatu. Semakin berkembangnya daerah ini mendorong Pemerintah untuk menjadikannya sebagai tujuan wisata pada tahun 1989. Produknya pun tidak lagi terbatas pada sepatu, tetapi barang asesoris lain yang terbuat dari kulit seperti tas, jaket dan lainnya. Sentra sepatu ini mulai meredup pada saat krisis moneter tahun 1998. Selanjutnya derasnya sepatu impor memasuki tahun 2000-an semakin mendesak usaha ini. Namun perlahan mulai bangkit kembali. Kini, sentra sepatu tersebut sudah kembali ramai oleh pengunjung terutama di setiap wiken dan hari libur. Cibaduyut Bandung Shoping sudah menjadi tujuan wajib bagi para wisatawan yang berkunjung ke Paris Van Java. Daya tarik utama Cibaduyut bagi para wisatawan baik domestik maupun mancanegara adalah sebagai sentra produksi kerajinan sepatu. Cukup banyak factory outlet yang memadati wilayah ini. Kualitasnya tidak kalah dengan brand terkenal seperti Nike, Adidas dan lain-lain.

Berusia 204 Tahun, Ini Sejarah Singkat Kota Bandung Berusia 204 Tahun, Ini Sejarah Singkat Kota Bandung

Sejarahbandung.com – BANDUNG – Tepat hari ini, 25 September 2014, Kota Bandung berusia 204 tahun. Usia yang tidak muda lagi tentunya. Di Indonesia, Bandung dikenal sebagai salah satu kota metropolitan. Di Jawa Barat, Bandung merupakan kota terbesar sekaligus ibu kota provinsi. Sebagai kota metropolitan terbesar ketiga setelah Jakarta dan Surabaya, Bandung merupakan salah satu tujuan wisatawan, mulai dari wisata belanja, fesyen, dan kuliner. Segala macam puin ada di kota berjuluk ‘Parijs van Java’ itu. Dilansir dari berbagai sumber, kata Bandung berasal dari “bendung” atau “bendungan” karena terbendungnya Sungai Citarum oleh lava Gunung Tangkubanparahu yang kemudian membentuk telaga. Ada juga sejarah yang menyebutkan kata Bandung berasal dari sebuah kendaraan air yang terdiri dari dua perahu yang diikat berdampingan. Kendaraan itu dinamakan Perahu Bandung dan digunakan Bupati Bandung, RA Wiranatakusumah II, saat melayari Sungai Citarum. Kota Bandung dijadikan permukiman sejak pemerintahan kolonial Belanda. Lewat Gubernur Jenderal saat itu, Herman Willem Daendels, pada 25 September 1810 dikeluarkan surat keputusan tentang pembangunan sarana dan prasarana di kawasan Bandung. Tanggal itu kemudian dijadikan sebagai hari jadi Kota Bandung. Namun status sebagai gemeente atau kota sebenarnya baru didapat secara resmi pada 1 April 1906 dari Gubernur Jenderal JB van Heutsz.

Saat itu luas Kota Bandung sekira 900 hektare. Seiring perkembangan, Kota Bandung bertambah luas menjadi sekira 8.000 hektare pada 1949 dan terus berkembang sampai saat ini. Kota Bandung memiliki julukan ‘Kota Kembang’ karena dulu dikenal sebagai kawasan indah yang memilki banyak bunga. Kota Bandung juga disebut ‘Parijs van Java’ karena dulu suasana dan udaranya mirip dengan Paris. Cerita bersejarah pun banyak terlahir di Bandung, mulai dari peristiwa Bandung Lautan Api, Konferensi Asia-Afrika, serta sederet peristiwa bersejarah lainnya. Kini, Kota Bandung menjadi salah satu kota paling modern di Indonesia. Dipimpin Wali Kota Ridwan Kamil, Bandung terus berbenah di tengah ragam permasalahan yang ada, mulai dari PKL, transportasi, taman, hutan kota, serta berbagai persoalan lainnya. Dalam usia 204 tahun, setumpuk persoalan menjadi tantangan tersendiri. Transportasi massal berupa monorel disiapkan untuk menuntaskan persoalan kemacetan. Parkir meter disiapkan untuk menuntaskan persoalan perparkiran. Taman-taman terus diperbaiki dan ditambah. Stadion Gelora Bandung Lautan Api terus digenjot agar segera tuntas. PKL mulai ditata dan direlokasi. Bahkan birokrasi pemerintahan dan persoalan lainnya pun terus diperbaiki. Tapi butuh kerja sama dari semua pihak agar Kota Bandung menjadi lebih baik. Perubahan ke arah positif tidak bisa dilakukan hanya oleh pemerintah.

Hindia Belanda karena pada waktu itu perkembangan kota Batavia sudah dinilai tidak layak sebagai ibukota pemerintahan. Hal tersebut beralasan dikarenakan sebelumnya perlu anda ketahui bahwa Kantor Pemerintahaan Provinsi Jawa Barat itu menempati bangunan Gedung Kerta Mukti di Jalan Braga Bandung. Untuk ruangan kerja Gubernur Jawa Barat sendiri berada di lantai 2 bersama dengan ruang kerja Wakil Gubernur, Sekretaris Daerah ( Sekda ), Assisten serta Biro. Sekretaris Daerah dengan Empat Asisten yaitu Asisten Ketataprajaan, Asisten Administrasi Pembangunan, Asisten Kesejahteraan Sosial dan Asisten Administrasi. Namun demikian, tidak seluruh Asisten Gubernur tersebut menempati Gedung Sate, yaitu bagian Asisten Kesejahteraan Sosial dan Asisten Administrasi bersama staf menempati Gedung Baru. Di bagian timur dan barat terdapat dua ruang besar yang akan mengingatkan pada ruang dansa ( ball room) yang sering terdapat pada bangunan masyarakat Eropa. Dan di sekeliling kedua aula barat dan timur ini terdapat juga sejumlah ruangan yang di tempati pleh beberapa Biro dengan Stafnya. Gedung Sate Bandung ini, maka harus menggunakan Lift atau dengan menaiki tangga kayu.

Baca Juga  : Studi Wisata Atau Studi Banding Di Bandung

Sahabat traveler’s, berikut adalah beberapa keunikan serta fakta menarik yang harus anda ketahui seputar Gedung Sate di Kota Bandung sebelum anda mengunjunginya. Sahabat traveler’s, saat ini banyak sekali bangunan lama, maupun bangunan baru di kota bandung dan sekitarnya yang memiliki nilai sejarah, keunikan dan fungsi kekinian yang modern. Kota Bandung sejak dipimpin oleh lulusan arsitektur ITB Ridwan Kamil sedikit banyaknya telah merubah tata ruang kota dengan ruang hijau serta bangunan – bangunan baru yang aristik. Bandung Planning Gallery, kemudian ada juga Bandung Command Centre, Bandung Scxience Centre dan masih banyak yang lainnya. Nah berbeda dengan bangunan Gedung Sate Bandung, bangunan ini menawarkan sebuah tempat bersejarah yang ada di pusat kota Bandung, damn popularitasnya terus bertahan hingga kini. 6 tusuk sate ( meski sebagian ada yang seperti jambu air dan melati ) yang berada di bagian puncak atas menara sentral. Nah yang menjadi unik dari adanya 6 tusuk sate ini adalah semacam sebuah simbol yang menggambarkan Biaya Pembangunan Gedung Sate Bandung ini menghabiskan anggaran dana 6 juta Gulden.

Sahabat traveler’s, banyak yang orang yang membandingkan kemegahan serta Fungsi Gedung Sate Bandung dengan bangunan – bangunan pusat pemerintahan di seluruh dunia. Cor Pashier dan Jan Wittenberg ( arsitek Belanda ), yang menyatakan bahwa arsitektur Gedung Sate adalah hasil sempurna eksperimen paduan arsitektur Indo-Eropa. Gedung Sate di Kota Bandung ini adalah merupakan suatu maha karya arsitektur yang berhasil memadukan model dan harmoni arsitektur timur dengan barat yang nampak indah sekali. Kemegahan Gedung Sate Bandung juga sangat menarik perhatian sejumlah arsitek Indonesia dengan berikan pernyataan serupa seperti Slamet Wirasonjaya, dan Ir. Sahabat traveler’s, saat ini begitu banyak tempat wisata yang unik dan menarik di Kota Bandung dan sekitarnya yang ngehits sebagai destinasi wisata yang instagramable. Kota Mini Lembang dan Rainbow Garden di kawasan Wisata Floating Market Lembang dll. Nah begitu pun juga dengan objek wisata Gedung Sate Bandung ini, dimana sekarang telah menjadi salah satu tempat wisata di Bandung yang sering dijadikan tempat berfoto di bandung.

Studi Wisata Atau Studi Banding Di Bandung Studi Wisata Atau Studi Banding Di Bandung

Sejarahbandung.com – Dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan, sekolah mengadakan berbagai kegiatan yang bersifat edukatif dan positif. Hal ini tentunya menjadi program yang sangat menarik bagi siswa-siswa SMP. Salah satu program yang diadakan yaitu studi wisata atau studi banding ke tempat-tempat yang ada nilai edukatifnya. Pihak sekolah telah memilih tempat yang cocok untuk anak-anak SMP. Kegiatan studi banding diadakan untuk memenuhi kebutuhan informasi tentang tempat-tempat wisata dan tempat yang mempunyai koleksi yang menarik yang tidak ada di kota Surakarta. Tempat wisata ini diharapkan menjadi inspirasi dan meningkatkan ilmu bagi siswa SMP yang mengunjunginya. Kegiatan studi wisata atau studi banding diadakan di sekolah dengan tujuan untuk meningkatkan ilmu pengetahuan alam dan menambah wawasan tentang ilmu pengetahuan. Kegiatan studi wisata juga sebagai pendukung pelajaran Bahasa Indonesia, juga pelajaran lain yang secara langsung dapat diterapkan. Program ini bagi Kelas IX juga merupakan sarana latihan membuat karya tulis dari berbagai objek wisata yang dikunjungi. 1) Untuk memenuhi tugas dari panitia study wisata, tugas kokulikuler mata pelajaran Bahasa Indonesia. 3) Sebagai sarana untuk menyeberluaskan objek – objek wisata di kota Bandung dan sekitarnya.

4) Sebagai cara untuk memperoleh pengalaman langsung penulis dalam hal pembuatan karya tulis. Museum Geologi didirikan pada tanggal 16 Mei1928. Museum ini telah direnovasi dengan dana bantuan dari JICA (Japan International Cooperation Agency). Setelah mengalami renovasi, Museum Geologi dibuka kembali dan diresmikan oleh Wakil Presiden RI, Megawati Soekarnoputri pada tanggal 23 Agustus2000. Sebagai salah satu monumen bersejarah, museum berada di bawah perlindungan pemerintah dan merupakan peninggalan nasional. Dalam Museum ini, tersimpan dan dikelola materi-materi geologi yang berlimpah, seperti fosil, batuan, mineral. Terbagi menjadi 3 ruang utama : Ruang orientasi di bagian tengah, Ruang Sayap Barat dan Ruang Sayap Timur. Ruang Orientasi berisi peta geografi Indonesia dalam bentuk relief layar lebar yang menayangkan kegiatan geologi dan museum dalam bentuk animasi, bilik pelayanan informasi museum serta bilik pelayanan pendidikan dan penelitian. Hipotesis terjadinya bumi di dalam sistem tata surya. Selain maket dan panel-panel informasi, masing-masing bilik di ruangan ini juga memamerkan beragam jenis batuan (beku, sedimen, malihan) dan sumber daya mineral yang ada di setiap daerah.

Dunia batuan dan mineral menempati bilik di sebelah baratnya, yang memamerkan beragam jenis batuan, mineral dan susunan kristalografi dalam bentuk panel dan peraga asli. Masih di dalam ruangan yang sama, dipamerkan kegiatan penelitian geologi Indonesia termasuk jenis-jenis peralatan/perlengkapan lapangan, sarana pemetaan dan penelitian serta hasil akhir kegiatan seperti peta (geolologi, geofisika, gunung api, geomorfologi, seismotektonik dan segalanya) dan publikasi-publikasi sebagai sarana pemasyarakan data dan informasi geologi Indonesia. Ujung ruang sayap barat adalah ruang kegunung apian, yang mempertunjukkan keadaan beberapa gunungapi aktif di Indonesia seperti : Tangkuban Perahu, Krakatau, Galunggung, Merapi dan Batu. Selain panel-panel informasi ruangan ini dilengkapi dengan maket kompleks Gunungapi Bromo-Kelut-Semeru. Beberapa contoh batuan hasil kegiatan gunung api tertata dalam lemari kaca. Ruang Sayap Timur Ruangan yang mengambarkan sejarah pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup, dari primitif hingga modern, yang mendiami planet bumi ini dikenal sebagai ruang sejarah kehidupan. Panel-panel gambar yang menghiasi dinding ruangan diawali dengan informasi tentang keadaan bumi yang terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu, dimana makhluk hidup yang paling primitiv pun belum ditemukan.

Baca Juga  : Berwisata Sambil Belajar Di Taman Sejarah Bandung

Beberapa miliar tahun sesudahnya, disaat bumi sudah mulai tenang, lingkungannya mendukung perkembangan beberapa jenis tumbuhan bersel-tunggal, yang keberadaan terekam dalam bentuk fosil Reptilia bertulang-belakang berukuran besar yang hidup menguasai Masa Mesozoikum Tengah hingga Akhir (210-65 juta tahun lalu) diperagakan dalam bentuk replika fosil Tyrannosaurus Rex Osborn (Jenis kadal buas pemakan daging) yang panjangnya mencapai 19 m, tinggi 6,5 m dan berat 8 ton. Kehidupan awal di bumi yang dimulai sekitar 3 miliar tahun lalu selanjutnya berkembang dan berevolusi hingga sekarang. Jejak evolusi mamalia yang hidup pada zaman Tersier (6,5-1,7 juta tahun lalu) dan Kuarter (1,7 juta tahun lalu hingga sekarang) di Indonesia terekam baik melalui fosil-fosil binatang menyusui (gajah, badak, kerbau, kuda nil) dan hominid yang ditemukan pada lapisan tanah di beberapa tempat khususnya di Pulau Jawa. Kumpulan fosil tengkorak manusia-purba yang ditemukan di Indonesia (Homo erectus P. VIII) dan di beberapa tempat lainnya di dunia terkoleksi dalam bentuk replikanya. Begitu pula dengan artefak yang dipergunkan, yang mencirikan perkembangan kebudayaan-purba dari waktu ke waktu. Penampang stratigrafi sedimen Kuarter daerah Sangiran (Solo, Jawa Tengah), Trinil dan Mojokerto (Jawa Timur) yang sangat berarti dalam pengungkap sejarah dan evolusi manusia-purba diperagakan dalam bentuk panel dan maket.

Berwisata Sambil Belajar Di Taman Sejarah Bandung Berwisata Sambil Belajar Di Taman Sejarah Bandung

Sejarahbandung.com – “Jangan sekali-kali melupakan sejarah”, begitu tutur Bung Karno dalam salah satu pidatonya. Kota Bandung yang sudah mencatat sejarah selama 200 tahun lebih pun enggan bila generasi baru yang tinggal di dalamnya tak mengenal cerita masa lalu yang dimilikinya. Oleh karena itu, semenjak 21 Januari lalu Kota Bandung resmi memiliki Taman Sejarah yang dapat dikunjungi dengan cuma-cuma, agar generasi muda kota ini dapat belajar sambil berwisata di dalamnya. Tahukah Anda siapa Walikota pertama Kota Bandung? Mungkin tak banyak orang yang tahu bahwa walikota pertama kita adalah seorang Belanda bernama Bertus Coops. Cerita mengenai Walikota Bertus Coops ini kini dapat dibaca di Taman Sejarah Bandung. Tentunya tak hanya cerita tentang beliau saja yang bisa didapat dari Taman Sejarah Bandung, cerita mengenai para Walikota penerusnya hingga Walikota Ridwan Kamil tersaji dengan baik melalui infografis yang tersedia pada dinding-dinding kaca yang dipasang di salah satu sudutnya. Tak jauh dari lokasi infografis mengenai Walikota Bandung, terdapat relief yang menceritakan mengenai keluarga Wiranatakusumah yang secara lintas generasi pernah menjabat sebagai Bupati Bandung yang turut serta mendirikan dan membangun Kota Bandung. Relief ini terukir tepat di dinding bangunan yang sebelumnya merupakan Gedung DPRD Kota Bandung. Rencananya di dalamnya akan dibuat Bandung Planning Gallery yang berisikan rancangan masa depan Kota Bandung. Taman Sejarah Bandung ini tak hanya menjadi sarana informasi sejarah Kota Bandung, tapi juga menjadi ruang publik yang juga dapat dinikmati siapapun yang mengunjunginya. Oleh Karena itu, di salah satu bagiannya terdapat sebuah kolam dan area yang cukup rindang untuk digunakan untuk bersantai di waktu senggang. Untuk dapat mengunjungi Taman Sejarah Bandung ini, Anda dapat memasukinya melalui pintu masuk Balai Kota Bandung yang terletak di Jl. Wastukencana No.2 atau area masuk yang berada di Jl. Aceh. Taman Sejarah Bandung terbuka untuk umum selama 24 jam, khusus bagi Anda yang ingin mengenal Kota Bandung dengan lebih dekat.

Prestasi “Kang Tohir” demikian dia akrab disapa, di Persib dimulai sebagai pelatih fisik dari tahun 1984. Pada tahun 1990 melatih PSSI usia 14-16tahun. Tahun 1993 dibawah kepelatihannya, PERSIB menjadi Juara Perserikatan, tahun 1994 membawa PERSIB menjadi juara Liga Indonesia pertama. Sebagai pelatih, Tohir dikenal memiliki wibawa yang besar dikalangan pemain. Dalam melatih, Tohir tidak mengistimewakan pemain bintang dan tidak pilih kasih. Sebagai pelatih ia memiliki kiat, bahwa isterinya adalah isteri yang ke-2, isteri pertama adalah kesebelasan yang dilatihnya ini. Konsekuensi dari keseriusannya dalam melaksanakan tanggungjawabnya sebagai pelatih, Tohir tidak bisa meninggalkan latihan, sehingga terkesan seperti yang tidak percaya kepada asisten. Akan tetapi, dukungan isterinya dalam menjalankan tugas sebagai pelatih PERSIB cukup besar. Menurut penuturan isterinya, KangTohir yang dikenal memiliki hobi menyanyi, Dansa, serta main golf, dulu dikenal sebagai pemain Base ball Nasional, taun ’67an, sedangkan Ceu Aat pemain Jabar. Walaupun memiliki hobi yang lain diluar sepakbola, dirinya tahu diri kalau mau latihan. Sebagai pelatih, Kang Tohir Pernah melatih Persikabo Bogor, yang menaikkan status kesebelasan ini ke Divisi Utama (tahun 1997). Disiplin ke anggota keluargaan. Semua puteranya mewarisi darah ayahnya dalam hal olah raga.

Beberapa catatan prestasinya melatih sepakbola, membawa dirinya untuk mengunjungi beberapa negara seperti Singapura, Malaysia, Brunei, Philifina, Taiwan dan Perancis. Pernah pula menjadi pelatih terbaik Asia waktu PERSIB masuk menjadi grup 4 besar nasional dan Pelatih terbaik versi Majalah Bola. Terakhir Kang Tohir yang rutin main golf 1-2 dalam seminggunya ini Menyampaikan saran untuk pelatih sepakbola lainnya, bahwa dalam melatih jangan pernah menjanjikan sesuatu kepada pemain serta tidak boleh menghujat pelatih lainnya. Ade Dana merupakan salah satu pemain besar yang pernah dimiliki Indonesia. Sampai saat ini prestasi tersebut dianggap sebagai prestasi paling fenomenal yang pernah tercatat dalam sejarah persepakbolaan Indonesia. Berkat itu pula, sampai akhir hayatnya, ia tetap menerima uang pensiun dari PSSI sebagai penghargaan atas jasa-jasanya tersebut. Selain itu, almarhum pernah mengharumkan nama Persib ketika menjadi pemain pada era ’50-an dan bercokol sebagai salah satu tim elite nasional. Pada tahun 1957, Ade dana membawa Persib menduduki peringkat ketiga dan dua tahun kemudian membawa Persib naik ke posisi kedua.

Baca Juga  : Bandung Lautan Api – Harta Benda Dan Nyawa Dikorbankan

Sebagai pelatih, Ade Dana bersama Indra tohir dan Dede Rusli membawa Persib tampil menjuarai kompetisi perserikatan 1989-1990 dengan mengalahkan Persebaya 2-0 pada grand final melalui gol Dede Rosadi dan Sutiono. Selain itu, ia juga merupakan pelatih pertama di Jabar pada era ’80-an yang memiliki predikat S-1. Siapa yang tak kenal Adeng Hudaya? Bobotoh fanatik pasti tahu persis sepak terjang pemain satu ini. Maklum dia adalah Libero sekaligus kapten, Ketika Persib Bandung Berjaya dii pentas sepakbola nasional semasa kompetisi era perserikatan. Adeng Mulai bergabung dengan Tim Persib sejak tahun 1979, Sudah dua kali merasakan manisnya menjadi juara kompetisi kompetisi perserikatan yaitu pada tahun tahun 1986 dan 1989/1990. Ketika menjadi bagian dari tim nasional Indonesia A yang berlatih di Brasil, ia tidak sempat memperkuat Persib di Piala Hasanal Bolkiah (Piala Pesta Sukan II) 1986 di Brunei Darussalam. Karena “kehilangan” pemain andalannya tersebut, kemudian Persib memanggil dua pemain asal Bandung (Jawa Barat) yang memperkuat klub lain, yaitu Heri Kiswanto (Krama Yudha Tiga Berlian Palembang) dan Yusuf Bachtiar (Perkesa ’78 Sidoardjo). Begitu banyak pengalaman menarik selama Kang Adeng bergabung bersama Persib.

Bandung Lautan Api - Harta Benda Dan Nyawa Dikorbankan Bandung Lautan Api - Harta Benda Dan Nyawa Dikorbankan

Sejarahbandung.com – Dulu sewaktu sekolah SD, lagu ini sering saya dengarkan di upacara bendera senin pagi. Halo-Halo Bandung dipilih sebagai lagu wajib pilihan selain Indonesia Raya tentunya yang benar-benar wajib dinyanyikan. Ditulis oleh Ismail Marzuki yang belakangan baru saya ketahui kalau lagu ini masih diperdebatkan siapa pencipta sebenarnya. Terlepas dari perdebatan itu, lagu Halo-Halo Bandung adalah salah satu lagu perjuangan yang mengingatkan kita pada suatu peristiwa bersejarah di kota Bandung, Bandung Lautan Api. Hayo .. Ngaku deh .. Sering denger Bandung Lautan Api tapi ga tau gimana cerita sejarahnya? Hehe .. Wah .. Jangan-jangan berlakunya cuma buat saya aja nih. Huhu .. Gapapa deh, walaupun begitu saya tetep pengen bagi-bagi pengalaman dan pengetahuan saya dengan temen-temen semua.. Juga tentang perjalanan saya dengan komunitas Aleut! Minggu pagi itu saya berkumpul di Bank Jabar Banten jalan Braga jam 7 pagi. Ah senangnya karena Aleut! Ada temen-temen dari Sahabat Kota, ITB, Unpad, Unpas, siswa SMK, Konus, pegawai kantor sampai adik-adik yang masih duduk di bangku SD! Total peserta minggu kemarin sebanyak 29 orang lho!

Walaupun peringatannya masih satu bulan lagi, tapi kobaran semangat perjuangan rakyat Bandung Selatan sudah mulai terasa. Bandung Lautan Api terjadi pada 24 Maret 1946. Satu hari sebelumnya yaitu tanggal 23 Maret 1946 NICA (Nederlands Indies Civil Administration) dan Inggris mengultimatum TRI (Tentara Republik Indonesia) untuk mundur sejauh 11 km dari pusat kota dalam waktu 24 jam saja (pada tanggal 20 Desember 1945 pemerintah kota Bandung sudah pernah mendapatkan ultimatum ini). Pada saat itu Bandung terbagi menjadi dua wilayah. Wilayah utara dikuasai oleh sekutu dan NICA, sebelah selatan dikuasai oleh TRI dengan jalur rel kereta api sebagai batas wilayahnya. TRI yang pada saat itu dipimpin oleh Kol.A.H. Nasution yang juga Komandan Divisi III menuruti perintah pemerintah RI pusat (melalui Syarifuddin Prawiranegara) untuk segera meninggalkan kota Bandung. Padahal Markas Besar TRI yang bertempat di Yogyakarta menginginkan wilayah Bandung dipertahankan, dijaga setiap jengkalnya walaupun harus mengorbankan nyawa. Diambillah keputusan rakyat Bandung mundur, namun TRI serta laskar-laskar tetap bertahan dan berjuang mempertahankan tanah Bandung Selatan walaupun pada akhirnya ikut mengungsi karena keadaan yang tidak mungkin untuk melawan musuh.

Bandung dipisahkan karena sekutu melihat semakin bersatunya kekuatan laskar dan TRI. Sekutu khawatir keinginan mereka menguasai Bandung tidak tercapai. TRI, BKR (Badan Keamanan Rakyat), Laskar Rakyat, Barisan Banteng, Barisan Merah, Laswi (Laskar Wanita), Siliwangi, Pelajar Pejuang bersama dengan rakyat berjuang mempertahankan wilayah. Keputusan meninggalkan Bandung diambil melalui musyawarah Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MP3) pada hari itu juga yang dihadiri oleh semua barisan perjuangan. Tindakan pembumihangusan itu sendiri diusulkan oleh Rukana yang saat itu menjabat sebagai Komandan Polisi Militer di Bandung. Setelah keputusan disepakati, Kol.A.H.Nasution menginstruksikan agar rakyat segera meninggalkan Bandung. Saat itu juga rakyat Bandung mengungsi dalam rombongan besar ke berbagai daerah seperti Soreang, Dayeuh Kolot, Cicalengka, Pangalengan. Mereka mengungsi meninggalkan harta benda, hanya membawa barang seadanya. Rakyat mundur dan Bandung siap dikosongkan. Pengosongan ini disertai dengan pembakaran kota. Rumah-rumah dan gedung-gedung dibakar oleh masyarakat dan para pejuang. Hal ini dilakukan agar sekutu tidak dapat menggunakan dan memanfaatkannya. Rakyat tidak rela kotanya diambil alih pihak musuh. “Kami waktu itu sudah diajari oleh Jepang tentang politik bumi hangus.

Dan kami tidak rela kembali dijajah. Jadi ketika kami mundur semua rumah dibakar oleh pemiliknya,” jelas Akhbar yang pada saat itu merupakan anggota Laskar Pemuda. Bangunan pertama yang dibakar yaitu bangunan Indische Restaurant yang sekarang lokasinya sekitar Bank BRI jalan Asia-Afrika sekitar pukul 21.00 malam. Dilanjutkan dengan pembakaran gedung-gedung penting di sekitarnya termasuk juga rumah-rumah rakyat. Malam itu kobaran api memanaskan kota Bandung. Dari puncak bukit terlihat Bandung memerah. Dari Cimahi di barat sampai Ujung Berung di timur Bandung. Namun seberapa hangusnya kota Bandung, masih belum pasti. Di beberapa tulisan disebutkan gedung-gedung yang dibakar tidak begitu rusak dan masih bisa dipakai bahkan dijadikan tempat pertemuan penting serta konferensi internasional beberapa tahun kemudian (nenek saya yang mengungsi ke Pangalengan juga bercerita kalau sekembalinya dari pengungsian, rumahnya tidak terbakar sama sekali karena yang dibakar hanya rumah-rumah di pinggir jalan raya saja). Terjadi pula peledakan gudang mesiu milik sekutu di Dayeuh Kolot. Pelakunya Moh.Toha dan Ramdan dengan menggunakan granat tangan hingga mengakibatkan Ramdan tewas, namun entah dengan Moh.Toha, tewaskah atau menghilang.

Baca Juga  : Mengenal Sejarah Bandung Lautan Api

Sosok yang sebenarnya dari Moh.Toha pun masih diperdebatkan. Nama Moh.Toha kini diabadikan menjadi salah satu nama jalan dan tugu perjuangan di Bandung. Nama ‘Bandung Lautan Api’ tentunya dikenal setelah peristiwa pembakaran kota Bandung. Ada yang menuliskan bahwa istilah Bandung Lautan Api berawal dari Rukana (Komandan Polisi Militer di Bandung) yang pada saat melakukan pertemuan tindakan ultimatum Inggris mengatakan “Mari kita bikin Bandung Selatan menjadi lautan api”. Tulisan lain menyebutkan bahwa istilah Bandung Lautan Api muncul saat tulisan Atje Bastaman dimuat di harian Suara Merdeka tanggal 26 Maret 1946. Atje yang wartawan muda memberitakan peristiwa pembakaran kota dengan judul Bandoeng Djadi Laoetan Api. Ismail Marzuki melalui lagu Halo-Halo Bandung. W.S.Rendra pun mengenang BLA lewat sajak yang berjudul ‘Sajak Seorang Tua Tentang Bandung Lautan Api’. Berikut sepenggal sajaknya .. Bila tidak mampu mempertahankan kepastian hidup bersama ? Kini batinku kembali mengenang udara panas yang bergetar dan menggelombang, bau asap, bau keringat suara ledakan dipantulkan mega yang jingga, dan kaki langit berwarna kesumba.

Mengenal Sejarah Bandung Lautan Api Mengenal Sejarah Bandung Lautan Api

Sejarahbandung.com – Setiap tanggal 24 Maret, Indonesia memeringati peristiwa Bandung Lautan Api yang fenomenal. Mungkin kebanyakan dari kamu belum tahu mengapa Bandung sempat dibumihanguskan. Kali ini, Pegipegi pengin mengajak kamu untuk mengenal sejarah Bandung Lautan Api lebih dalam. Pasukan sekutu, Inggris bagian dari Brigade MacDonald dan NICA mendarat di Bandung pada 12 Oktober 1945. Dari awal, hubungan pasukan Inggris dan Indonesia sudah tegang. Mereka gencar-gencarnya merebut senjata api yang ada di tangan penduduk, kecuali senjata api milik TKR (yang kini menjadi TNI) dan polisi. Sekutu juga meminta semua senjata pihak Indonesia yang merupakan pelucutan Jepang diserahkan kepada mereka. Ditambah orang-orang tahanan Belanda dibebaskan dari kampung tawanan dan melakukan tindakan-tindakan yang mengganggu keamanan serta NICA dengan bebas melakukan teror kepada masyarakat. Akibat kehadiran sekutu, terjadilah bentrokan bersenjata antara Inggris dan TKR yang semakin memanas. Tanggal 21 November 1945, TKR dan badan-badan perjuangan terus melancarkan serangan terhadap kedudukan-kedudukan Inggris di Bandung Utara, termasuk sekutu di Hotel Humnn dan Hotel Preanger, juga diserang oleh para TKR dan pejuang Indonesia.

Tapi, para pejuang nggak mengindahkan ultimatum tersebut. Hal tersebut malah menaikkan semangat para pejuang, rakyat, dan pemuda yang tergabung dalam TKR untuk melawan sekutu. Sejak saat itulah, pertempuran kecil dan besar antara pejuang dan sekutu terus berlangsung di Bandung. Pada malam hari tanggal 25 November 1945 bendungan Sungai Cikapundung jebol dan menimbulkan banjir besar hingga menelan ratusan korban dan ribuan penduduk kehilangan tempat tinggal. Keadaan tersebut dimanfaatkan oleh tentara sekutu dan NICA untuk menyerang rakyat yang sedang tertimpa musibah. Hingga akhirnya Kota Bandung terbagi dua, yaitu Bandung Utara dan Bandung Selatan. Tentara sekutu menduduki Bandung Utara dan Indonesia menduduki Bandung Selatan dengan jalur kereta api sebagai batas wilayahnya. Setiap hari perang antara pejuang dan sekutu terus terjadi. Hingga pada 5 Desember 1945, sekutu melancarkan aksinya kembali dengan memborbardir daerah Lengkong Besar. Tanggal 21 Desember 1945, pihak Inggris menjatuhkan bom dan tembakan di Cicadas. Sekutu Inggris dan NICA kembali memberikan ultimatum kedua pada 23 Maret 1946 kepada TRI untuk mundur sejauh 11 km dari pusat kota dalam waktu 24 jam.

TRI yang saat itu dipimpin oleh Kolonel A.H.Nasution menuruti perintah pemerintah RI Pusat untuk meninggalkan Bandung. Keputuan yang diambil TRI mendapatkan kontra dari Markas Besar TRI yang bertempat di Yogyakarta. Mereka menginginkan agar Bandung tetap dipertahankan dan dijaga walaupun harus mengorbankan nyawa. Akhirnya diambil keputusan agar rakyat Bandung mundur dan para TRI serta pejuang tetap bertahan dan memperjuangkan Bandung Selatan. Pada akhirnya para pejuang juga ikut mengungsi karena keadaan semakin melemah dan tidak memungkinkan untuk melawan musuh. TRI akhirnya melakukan bumi hangus terhadap Bandung. Tindakan ini diambil setelah melalui musyawarah Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MP3) yang dihadiri oleh semua barisan perjuangan. Tindakan bumi hangus diusulkan oleh Rukana (Komandan Polisi Militer di Bandung) dan disepakati oleh Kolonel A.H.Nasution yang menginstruksikan agar rakyat segera meninggalkan Bandung. Ketika itu, rakyat mengungsi ke berbagai daerah, seperti Soreang, Cicalengka, Pangelangan, Dayeuh Kolot, dan lain-lain dengan membawa barang seadanya. Setiap kota di Indonesia memang memiliki sejarahnya masing-masing, termasuk Bandung yang dikenal dengan peristiwa Bandung Lautan Api. Di kota kembang tersebut, kamu juga bisa mengunjungi berbagai tempat bersejarah yang berhubungan masa-masa penjajahan atau kemerdekaan. Agar bujet liburan kamu ke Bandung lebih terjangkau, yuk, pesan tiket pesawat atau tiket kereta api ke Bandung lewat Pegipegi, ya! Jangan lupa buat cari hotel murah di Bandung juga, ya!

Baca Juga  : Asal Muasal Dan Sejarah Bandung

Akhirnya, malam yang telah disepakati pun tiba. Api melahap rumah, pedang berkelebat, dan darah muncrat. Dalam Wawacan Carios Munada (1993), Edi S. Ekadjati dkk mengatakan bahwa 100 tahun setelah kejadian tersebut, masyarakat Bandung tetap memandang kasus pembunuhan ini sebagai peristiwa besar. Kisah ini pun terus beredar dari mulut ke mulut. Peristiwa berdarah dilatarbelakangi salah satunya oleh dendam pejabat di kota Bandung ini juga tercatat dalam empat sumber tertulis: Sejarah Timbanganten, Kitab Pancakaki, Babad Raden Adipati Aria Martanagara, dan Wawacan Carios Munada. Dari empat naskah tersebut, Wawacan Carios Munada yang naskahnya disimpan di perpustakaan Universitas Leiden adalah karya paling rinci yang menuturkan peristiwa tersebut, mulai dari latar belakang sampai akibatnya. Sementara dalam naskah Sejarah Timbanganten, kejadian ini hanya dimuat pada halaman 19-21. Dalam Kitab Pancakaki, peristiwa ini hanya satu dari sekian kejadian penting yang dicatat oleh penulisnya. Bobotnya tak berbeda dengan peristiwa meletusnya Gunung Galunggung. Pada naskah Babad Raden Adipati Aria Martanagara, huru-hara Munada sekilas dimunculkan untuk dikaitkan dengan kejadian serupa di Bandung pada 1893, yakni rencana pembunuhan terhadap residen, asisten residen, dan bupati. Dari keempat naskah ini, bahasan yang paling sedikit dapat dijumpai dalam Kitab Pancakaki.

Tiga naskah lain yang lebih panjang mengandung sejumlah perbedaan terkait fakta di lapangan, di antaranya nama Jaksa Bandung, besaran utang Munada, senjata yang dipakai Munada untuk membunuh, waktu peristiwa, dan lain-lain. Karena paling lengkap dan runut, rujukan yang saya pakai pada bagian pertama tulisan ini adalah Wawacan Carios Munada. Tiga puluh dua tahun silam, kisah Munada diwariskan oleh Haryoto Kunto kepada generasi muda Bandung lewat magnum opus berjudul Semerbak Bunga di Bandung Raya (1986). Dalam buku setebal seribu halaman lebih itu, Haryoto Kunto dua kali menyampaikan bahwa pasar pertama Bandung terbakar saat terjadi huru-hara Munada. “Pasar itu kemudian musnah terbakar sewaktu terjadi ‘Huru-hara Munada’ di pertengahan abad XIX. Sejak masa itu, Bandung tidak memiliki pasar. Hingga para pedagang pada keluyuran, menjajakan dagangannya di sekitar alun-alun, Jalan Raya Pos, Cibadak, Pangeran Sumedang-weg, Jl. ABC, Suniaraja, dan kemudian juga mangkal di sekitar stasiun kereta api setelah kereta api masuk ke Bandung pada 1884,”

Asal Muasal Dan Sejarah Bandung Asal Muasal Dan Sejarah Bandung

Sejarahbandung.com – Pada 25 September 1810, Gubernur Jenderal, Herman Willem Daendels mengeluarkan surat keputusan tentang pembangunan sarana dan prasarana. Kota Bandung mulai dijadikan sebagai kawasan permukiman sejak pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Kemudian hari peristiwa ini diabadikan sebagai hari jadi kota Bandung. Sejarah Kota Bandung bermula dari Legenda Sangkuriang yang menceritakan bagaimana terbentuknya danau Bandung dan Gunung Tangkuban Perahu. Air dari danau Bandung menurut legenda, mulai mengering karena mengalir melalui sebuah gua yang bernama Sanghyang Tikoro. Situ Aksan merupakan daerah terakhir dari sisa-sisa Danau Bandung yang telah kering. Pada tahun 1970-an masih merupakan danau tempat pariwisata, hingga saat ini sudah menjadi daerah perumahan untuk permukiman. Kota Bandung secara geografis memang terlihat dikelilingi oleh pegunungan, dan ini menunjukkan bahwa pada masa lalu kota Bandung memang merupakan sebuah telaga atau danau. Tahun 1896 Bandung belum ditetapkan menjadi kota dengam data penduduk sebanyak 29.382 orang, sekitar 1.250 orang berkebangsaan Eropa, mayoritas orang Belanda.

Pada 1 April 1906, Kota Bandung secara resmi mendapat status gemeente (kota) dari Gubernur Jenderal J.B. Heutsz dengan luas wilayah sekitar 900 ha. Tahun 1949, bertambah menjadi 8.000 ha. Pada masa perang kemerdekaan, 24 Maret 1946, sebagian kota ini di bakar oleh para pejuang kemerdekaan sebagai strategi perang. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan Bandung Lautan Api dan diabadikan dalam lagu Halo-Halo Bandung. Kemudian, Kota Bandung ditinggalkan oleh sebagian penduduknya yang mengungsi ke daerah lain. Sedangkan, terdapat beberapa versi munculnya kata “Bandung” yang kini dijuluki juga sebagai Parijs Van Java. Bandung berasal dari kata bendung atau bendungan karena terbendungnya sungai Citarum oleh lava Gunung Tangkuban Perahu yang lalu membentuk telaga. Adapun legenda yang menceritakan “Bandung” diambil dari sebuah kendaraan air yang terdiri dari dua perahu yang diikat berdampingan yang disebut perahu bandung. Perahu ini digunakan oleh Bupati Bandung, R.A. Wiranatakusumah II, untuk melayari Citarum dalam mencari tempat kedudukan kabupaten yang baru untuk menggantikan ibukota yang lama di Dayeuhkolot. Ada juga sejarah kata “bandung” dalam bahasa Indonesia, identik dengan kata “banding” berarti berdampingan.

Ngabanding (Sunda) berarti berdampingan atau berdekatan. Sedangkan, berdasarkan filosofi Sunda, kata “bandung” berasal dari kalimat “Nga-Bandung-an Banda Indung,” yang merupakan kalimat sakral dan luhur karena mengandung nilai ajaran ^_^

Sunda. Kata Bandung mempunyai nilai filosofis sebagai alam tempat segala makhluk hidup maupun benda mati yang lahir dan tinggal di Ibu Pertiwi yang keberadaanya disaksikan oleh yang Maha Kuasa. Selain sejarah mengenai Kota Bandung, kota ini juga memiliki beberapa julukan yang biasanya disebut oleh masyarakat. Pertama yaitu dengan julukan Kota Kembang. Istilah kota kembang berasal dari peristiwa yang terjadi tahun 1896 saat Pengurus Besar Perkumpulan Pengusaha Perkebunan Gula, Bestuur van de Vereninging van Suikerplanters yang berkedudukan di Surabaya memilih Bandung sebagai tempat penyelenggaraan kongresnya yang pertama. Tuan Jacob mendapat masukan dari Meneer Schenk agar menyediakan ‘kembang-kembang’ berupa “noni cantik” Indo-Belanda dari wilayah perkebunan Pasir Malang untuk menghibur para pengusaha gula tersebut. Kongres tersebut dikatakan sukses besar. Dari mulut peserta kongres itu kemudian keluar istilah dalam bahasa Belanda De Bloem der Indische Bergsteden atau ‘bunganya’ kota pegunungan di Hindia Belanda.

Baca Juga  : Taman Balai Kota Bandung – Destinasi Wisata “Urang” Bandung

Dari situ muncul julukan kota Bandung sebagai kota kembang. Adapun Kota Bandung dijuluki Parisj Van Java. Pada buku Otobiografi Entin Supriatin, berjudul Deritapun Dapat Ditaklukan, disebutkan Bandung dikenal dengan sebutan Parijs Van Java atau Paris-nya Pulau Jawa. Istilah Parijs van Java muncul karena pada waktu itu di Jalan Braga, terdapat banyak toko yang menjual barang-barang produksi Paris, terutama toko pakaian. Toko yang terkenal diantaranya adalah toko mode dan pakaian, Modemagazinj ‘au bon Marche’ yang menjual gaun wanita mode Paris. Selain itu, terdapat restoran makanan khas Paris Maison Bogerijen yang menjadi tempat santap para pejabat dan pengusaha Hindia Belanda atau Eropa. Muncullah julukan lain bagi kota Bandung sebagai Parijs van Java. Sebutan Bandung Lautan Api juga sering disebut-sebut sebagai julukan untuk Kota Bandung. Pada Maret 1946, dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk mengukir sejarah dengan membakar rumah dan harta benda mereka, meninggalkan kota Bandung menuju pegunungan di selatan. Bandung sengaja dibakar oleh Tentara Republik Indonesia (TRI) dan rakyat dengan maksud agar Sekutu tidak dapat menggunakannya lagi. Bandung Lautan Api kemudian menjadi istilah yang terkenal setelah peristiwa pembakaran itu. Almarhum Jenderal Besar A.H Nasution teringat saat melakukan pertemuan di Regentsweg (sekarang Jalan Dewi Sartika), setelah kembali dari pertemuannya dengan Sutan Sjahrir di Jakarta, untuk memutuskan tindakan apa yang akan dilakukan terhadap Kota Bandung setelah menerima ultimatum Inggris. Istilah Bandung Lautan Api muncul pula di harian Suara Merdeka tanggal 26 Maret 1946. Seorang wartawan muda saat itu, yaitu Atje Bastaman, menyaksikan pemandangan pembakaran Bandung dari bukit Gunung Leutik di sekitar Pameungpeuk, Garut. Dari puncak itu Atje Bastaman melihat Bandung yang memerah dari Cicadas sampai dengan Cimindi. Setelah tiba di Tasikmalaya, Atje Bastaman dengan bersemangat segera menulis berita dan memberi judul Bandoeng Djadi Laoetan Api. Namun karena kurangnya ruang untuk tulisan judulnya, maka judul berita diperpendek menjadi Bandoeng Laoetan Api.

Taman Balai Kota Bandung Destinasi Wisata Urang Bandung Taman Balai Kota Bandung Destinasi Wisata Urang Bandung

Sejarahbandung.com – Mencari taman di wilayah Kota Bandung kini bukanlah hal asing. Sejak Kota Bandung dipimpin oleh Ridwan Kamil selaku Walikota, lahan – lahan kosong yang ada di tengah Kota pun disulap menjadi sebuah taman. Bahkan, Balai Kota Bandung yang tadinya hanya ramai saat – saat tertentu saja, kini sudah berubah menjadi taman untuk warga Kota Bandung yang diberi nama Taman Balai Kota. Taman Balai Kota terletak di pusat Kota Bandung, tepatnya Jl. Wastukencana No. 2, Babakan Ciamis, Sumur Bandung. Pada zamannya, Taman Balai Kota Bandung ini lebih dikenal dengan Taman Dewi Sartika. Karena di area Taman ini terdapat sebuah patung tokoh Pendidikan yaitu Dewi Sartika. Bangunan pemerintah yang terdapat di Balai Kota Bandung pun tidak luput dari sejarah. Karena ternyata, gedung Balaikota merupakan salah satu bangunan tertua di Kota Bandung. Sebelum gedung Balaikota didirikan, terdapat sebuah bangunan milik Adries de Wilde (1781 – 1865) yang merupakan tuan tanah dan Asisten Residen Priangan pada tahun 1812. Bangunan tersebut digunakan sebagai sebuah gudang kopi atau dalam bahasa Belanda “koffie pakhuis”.

Gedung kopi tersebut didirikan pada tahun 1819 pada saat perkebunan kopi di tanah Priangan sedang berkembang. Dan pada tahun 1923 Gudang Kopi tersebut diserahkan pada kolonial Belanda. Selanjutnya, pada tahun 1927 gudang kopi diruntuhkan. Dan didirikanlah gedung Balaikota sebagai gantinya. Hal ini terkait dengan status Kota Bandung sebagai Kota Praja sejak tahun 1906. Gedung Balaikota itu sendiri dirancang oleh seorang arsitek bernama EH de Roo. Tidak hanya membuat rancangan gedung Balaikota, namun EH de Roo pun masih mejadi arstiek bagi beberapa bangunan tambahan di belakang gedung Balaikota. Beliau membangun gedung – gedung tersebut dengan gaya “art deco” agar tampak lebih modern. Terlepas dari sejarah pembangunan gedung Balaikota, Taman Balaikota yang tadinya hanya sebidang tanah yang ditumbuhi beberapa pohon – pohon besar berumur ratusan tahun ini, kini memiliki beberapa taman dan area yang sudah diperbaharui. Misalnya saja Taman Labirin. Taman Labirin terletak di Plaza Balaikota Bandung. Taman ini merupakan sebuah taman yang memiliki empat jalur masuk, dimana rerumputan sengaja dipasang tinggi menjulang dan menghalangi pandangan orang dewasa.

Hal ini tentu membuat anda harus berusaha mencari jalan keluar. Sebab sejauh mata memandang yang anda lihat hanyalah dinding – dinding. Inilah mengapa taman ini disebut taman labirin, karena memang bentuknya yang menyerupai labirin. Taman Labirin sendiri dulunya adalah taman merpati. Ini bisa dilihat ketika anda hendak memasuki pintu labirin, anda akan melihat sebuah patung merpati. Selain Taman Labirin, terdapat pula area yang cukup romantic bagi kaula muda, yaitu gembok cinta. Konon, jika pasangan muda – mudi menuliskan namanya di sebuah gembok dan menggantungkannya di sebuah spot yang sudah disediakan, jalinan asmaranya akan langgeng dan tidak terpisahkan. Taman Balaikota yang kini ramai pengunjung pun, dapat dimanfaatkan oleh anda untuk bermacam – macam kegiatan. Misalnya berolahraga jalan santai, berkumpul bersama teman – teman, atau hanya sekedar duduk santai dan menikmati keindahan taman. Di area luar Taman Balaikota pun bisa anda manfaatkan untuk bermain air bersama putra – putri anda. Air ini merupakan aliran anak sungai Cikapayang yang sudah disaring dan bisa digunakan untuk bermain. Fasilitas di Taman Balaikota pun sudah cukup lengkap. Terdapat beberapa toilet untuk wanita dan pria, dan terdapat pula fasilitas kesehatan berupa puskesmas kecil di dekat pintu masuk Taman Balaikota. Bagaimana, tertarik untuk mengunjungi Taman di pusat Kota? Let’s Find and Explore !

Baca Juga  : Mengenal Sejarah Di Balik Jalan Asia-Afrika Bandung

Ditambah sekitar 40 PTS dari berbagai strata, mulai dari program 3 sampai program S3, Bandung merasa sah menyebut dirinya sebagai pusat kegiatan pendidikan tinggi. Kegiatan perdagangan, hotel dan restoran, menjadi sandaran struktur ekonomi kota. Kegiatan perdagangan yang memberi andil terbesar bagi perputaran ekonomi kota ini ditunjang oleh 47 lokasi pasar tradisional dan 23 pertokoan di 16 kecamatan. Selain perdagangan, industri pengolahan menjadi andalan kedua yang menghasilkan. Hasil utama kegiatan industri ini adalah tekstil dan pakaian jadi. Selain dipasarkan melalui factory outlet yang marak di seluruh penjuru Kota Bandung, Produk ini menjadi salah astu komoditas ekspor unggulan. Produk lain yang diekspor adalah alat elektronika seperti kotak amplifier, trafo, dan parabola yang dibuat di gang-gang sempit wilayah Kebongedang. Terletak di dataran tinggi, Bandung dikenal sebagai tempat yang berhawa sejuk. Hal ini menjadikan Bandung sebagai salah satu kota tujuan wisata. Predikat sebagai pusat kegiatan kebudayaan dan pariwisata disandang karena kota ini tidak pernah sepi dari pengunjung.

Objek wisat yang ditawarkan terdiri dari wisata belanja, wisata hiburan, dan wisata budaya. Untuk sektor transportasi, Kota Bandung memiliki sebuah bandara internasional, yaitu Bandara Husein Sastranegara yang menghubungkan Bandung dengan kota-kota lainnya di Indonesia dan juga Kuala Lumpur di Malaysia. Bandung juga mempunyai dua stasiun kereta api, yaitu Stasiun Bandung yang setiap harinya melayani rute Bandung-Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, dan Semarang untuk kelas Bisnis dan Eksekutif dan Stasiun Kiaracondong untuk Kelas Ekonomi. Prasarana jalan di kota Bandung, antara lain, Jembatan Pasupati yang menghubungkan bagian utara dan timur Kota Bandung.. Pada tahun 1990 kota Bandung menjadi salah satu kota paling aman di dunia berdasarkan survei majalah Time. Kota kembang merupakan sebutan lain untuk kota ini, karena pada jaman dulu kota ini dinilai sangat cantik dengan banyaknya pohon-pohon dan bunga-bunga yang tumbuh di sana. Selain itu Bandung dahulunya disebut juga dengan Parijs van Java karena keindahannya. Selain itu kota Bandung juga dikenal sebagai kota belanja, dengan mall dan factory outlet yang banyak tersebar di kota ini, dan saat ini berangsur-angsur kota Bandung juga menjadi kota wisata kuliner.

Mengenal Sejarah Di Balik Jalan Asia-Afrika Bandung Mengenal Sejarah Di Balik Jalan Asia-Afrika Bandung

Sejarahbandung.com – Siapa yang tidak mengenal kota Bandung, kota yang saat ini menjadi destinasi wisata bagi kebanyakan orang. Bukan hanya dari dalam kota saja melainkan dari mancanegara pun turut berkunjung ke kota Kembang tersebut. Di Bandung sendiri terdapat banyak sekali destinasi wisata yang memang sering dikunjungi oleh para wisatawan, salah satunya yaitu Jalan Asia Afrika Bandung. Jika ada anekdot di kota Bandung tentang nama jalan yang paling panjang sedunia, maka jawabannya adalah Jalan Asia Afrika. Sebagai bahan candaan, bahwasannya jalan tersebut menempuh benua Asia dan Afrika, yang dipisahkan sebuah sungai. Berbicara soal Jalan Asia Afrika, Kawan GNFI penasaran tidak terkait bagaimana sejarah dari jalan tersebut? Yuk kita simak ulasannya. Jalan Asia Afrika di Bandung memiliki kaitan yang sangat erat dengan pendirian kota Kembang ini. Karena pada saat itu, Gubernur Jenderal Herman Willem Deaendels dari Belanda menancapkan tongkatnya saat memerintahkan pendirian kota ini, yang kemudian diabadikan menjadi tugu Bandung Nol Kilometer. Sebelum konferensi Asia Afrika dilaksanakan, jauh sebelumnya memiliki nama Groote Postweg atau disebut juga Jalan Raya Pos.

Deandels yang membentang dari Anyer sampai Panarukan sepanjang 1.000 km, serta memakan korban sampai 30.000 jiwa dalam proses pembangunannya. Pada saat itu, suasana jalan hanya ramai ketika berlangsungnya pertemuan Konferensi Asia Afrika. Tidak seperti saat ini di mana hampir setiap hari banyak yang berkunjung. Konon, Bandung yang kamu kenal sekarang ini dipindahkan dari lokasi sebelumnya Dayeuh Kolot dalam artian Kota Tua, atas permintaan Daendels kepada Bupati Bandung Wiranatakusumah II. Mengapa pusat kota Bandung dipindahkan? Hasil blueprint menjelaskan bahwa pembangunan jalan Groote Postweg di daerah priangan ternyata berselisih jarak sekitar 11 km dari kabupaten Bandung sekitar Dayeuh Kolot. Namun, Daendels berpikir sebuah kota akan maju apabila kota tersebut mudah untuk diakses. Setelah berkali-kali pindah mencari lokasi yang strategis, Wiranatakusumah II memutuskan sebuah lokasi yang kalian kenal saat ini sebagai alun-alun kota Bandung. Sekarang sebagai ibu kota kabupaten Bandung yang baru. Dari sinilah titik kota Bandung berkembang ke segala arah sehingga mencapai ukuran seperti sekarang. Jika Kawan GNFI jalan-jalan ke Jalan Asia Afrika, maka akan ditemukan sebuah patok beton kecil yang menandakan titik 0 km kota Bandung. Jalan bersejarah ini pun disebut sebagai titik 0 Kilometer Bandung. Titik nol kerap dikaitkan dengan awal mula perkembangan kota. Pada saat itu pemindahan pemerintahan kota Bandung yang wilayah Dayeuh Kolot dipindahkan ke jalan ini pada tahun 1810. Jalan tertua di Bandung juga dekat dengan Sungai Cikapundung sebagai sumber air pembangunan kota.

Setelah ProklamasiKemerdekaan 17 Agustus 1945, Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Kemerdekaan harus dicapai sedikit demi sedikit melalui perjuangan rakyat yang rela mengorbankan segalanya. Setelah Jepang kalah, tentara Inggris datang untuk melucuti tentara Jepang. Mereka berkomplot dengan Belanda dan memperalat Jepang untuk menjajah kembali Indonesia. Jejak Perjuangan “Bandung Lautan Api” membawa kita menelusuri kembali berbagai kejadian di Bandung yang berpuncak pada suatu malam mencekam, saat penduduk melarikan diri, mengungsi, di tengah kobaran api dan tembakan musuh. Sejarah Bandung Lautan Api Asal Usul – Sebuah kisah tentang harapan, keberanian dan kasih sayang. Sebuah cerita dari para pejuang kita. Berita pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan dari Jakarta diterima di Bandung melalui Kantor Berita DOMEI pada hari Jumat pagi, 17 Agustus 1945. Esoknya, 18 Agustus 1945, cetakan teks tersebut telah tersebar. Dicetak dengan tinta merah oleh Percetakan Siliwangi. Di Gedung DENIS, Jalan Braga (sekarang Gedung Bank Jabar), terjadi insiden perobekan warna biru bendera Belanda, sehingga warnanya tinggal merah dan putih menjadi bendera Indonesia.

Baca Juga  : Lokasi Taman Sejarah Bandung: Wisata Terbaru Bandung Yang Edukatif

Perobekan dengan bayonet tersebut dilakukan oleh seorang pemuda Indonesia bernama Mohammad Endang Karmas, dibantu oleh Moeljono.Tanggal 27 Agustus 1945, dibentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR), disusul oleh terbentuknya Laskar Wanita Indonesia (LASWI) pada tanggal 12 Oktober 1945. Jumlah anggotanya 300 orang, terdiri dari bagian pasukan tempur, Palang Merah, penyelidikan dan perbekalan. Peristiwa yang memperburuk keadaan terjadi pada tanggal 25 November 1945. Selain menghadapi serangan musuh, rakyat menghadapi banjir besar meluapnya Sungai Cikapundung. Ratusan korban terbawa hanyut dan ribuan penduduk kehilangan tempat tinggal. Keadaan ini dimanfaatkan musuh untuk me¬nyerang rakyat yang tengah menghadapi musibah.Berbagai tekanan dan serangan terus dilakukan oleh pihak Inggris dan Belanda. Tanggal 5 Desember 1945, beberapa pesawat terbang Inggris membom daerah Lengkong Besar. Pada tanggal 21 Desember 1945, pihak Inggris menjatuhkan bom dan rentetan tembakan membabi buta di Cicadas. Korban makin banyak berjatuhan. Ultimatum agar Tentara Republik Indonesia (TRI) meninggalkan kota dan rakyat, melahirkan politik “bumihangus”. Rakyat tidak rela Kota Bandung dimanfaatkan oleh musuh. Mereka mengungsi kearah selatan bersama para pejuang.

Keputusan untuk membumihanguskan Bandung diambil melalui musyawarah Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MP3) di hadapan semua kekuatan perjuangan, pada tanggal 24 Maret 1946.Kolonel Abdul Haris Nasution selaku Komandan Divisi III, mengumumkan hasil musyawarah tersebut dan memerintahkan untuk meninggalkan Kota Bandung. Hari itu juga, rombongan besar penduduk Bandung mengalir panjang meninggalkan kota. Malam itu pembakaran kota berlangsung besar-besaran. Api menyala dari masing-masing rumah penduduk yang membakar tempat tinggal dan harta bendanya, kemudian makin lama menjadi gelombang api yang besar. Setelah tengah malam kota telah kosong dan hanya meninggalkan puing-puing rumah yang masih menyala. Pembumihangusan Bandung tersebut merupakan tindakan yang tepat, karena kekuatan TRI tidak akan sanggup melawan pihak musuh yang berkekuatan besar. Selanjutnya TRI melakukan perlawanan secara gerilya dari luar Bandung. Peristiwa ini melahirkan lagu “Halo-Halo Bandung” yang bersemangat membakar daya juang rakyat Indonesia. Selengkapnya mengenai Peristiwa Bandung Lautan Api, anda bisa membaca buku; “Saya Pilih Mengungsi”, buku ini dapat anda dapatkan di sekretariat Bandung Heritage.

Lokasi Taman Sejarah Bandung Wisata Terbaru Bandung Yang Edukatif Lokasi Taman Sejarah Bandung Wisata Terbaru Bandung Yang Edukatif

Sejarahbandung.com – Taman Sejarah Bandung muncul sebagai alternatif tempat wisata yang sangat edukatif di tengah-tengah kota Bandung. Bandung memang terkenal memiliki beberapa taman tematik dan ruang terbuka hijau yang cocok untuk di jadikan tempat bersantai. Taman ini mengangkat nuansa sejarah kota Bandung yang cukup menarik. Tempat ini sudah mulai ramai di kunjungi oleh warga. Di sini Anda bisa menemui berbagai informasi mengenai para pemimpin Kota Bandung dari masa ke masa yang telah di lengkapi dengan relief dan stiker yang memberikan penjelasan lengkap mengenai kisah dan biografi mereka. Terhitung ada sekitar 16 sejarah walikota Bandung dapat Anda temui disini, lengkap dengan relief, stiker dan mural yang menceritakan kisah masing-masing pemimpin. Lokasi taman ini terletak di Jalan Aceh, bertempat di belakang Balai Kota bandung. Dulunya tempat ini sempat di gunakan sebagai lahan parkir pegawai. Namun berkat inisiatif pemerintah kota tempat ini kini di sulap menjadi taman tematik yang cukup menarik untuk di kunjungi. Lokasi Taman Sejarah Bandung ini memakai lahan seluas 2,6 km persegi yang di dalamnya sudah terdapat taman bermain yang luas, tempat duduk yang terbuat dari kayu, amphitheatre, kolam kecil tempat bermain anak-anak. Pemerintah Kota Bandung memang menargetkan anak-anak usia sekolah sebagai pengunjung taman ini. Selain menjadi tempat bermain yang menyenangkan, Taman Sejarah Bandung juga dapat menjadi tempat belajar yang dapat memberikan edukasi dan pendidikan sejarah yang sangat bagus untuk anak-anak sekolah. Di taman ini juga terdapat sebuah relief yang khusus menceritakan sejarah Bandung sejak zaman Wiranatakusumah. Gambaran kehidupan yang syarat akan kebudayaan tradisional khas Bandung itu terukir indah di atas sebuah tembok dengan sentuhan grafis yang sangat apik. Disana di ceritakan perkembangan kota Bandung dari masa ke masa mulai dari kota Bandung prasejarah, Kisah Tangkuban Perahu, Pasca Kemerdekaan, hingga Bandung di masa sekarang ini. Salah satu yang akan mencuri perhatian para pengunjung adalah relief khusus yang di buat untuk menceritakan sejarah pada masa kepemimpinan Wiranatakusumah. Pemerintah kota berharap dengan di bangunnya taman sejarah ini dapat membuat masyarakat lebih mengenal sejarah kotanya. Jadi tidak hanya sekedar bermain dan bersenang-senang, namun juga tetap ada nilai edukatif yang bisa di ambil ketika pulang dari taman ini.

Tapi semangat juang, tujuan dan misi Persib sebagai sarana perjuangan tidak berubah sedikitpun. Pada masa Revolusi Fisik, setelah Indonesia merdeka, Persib kembali menunjukkan eksistensinya. Situasi dan kondisi saat itu memaksa Persib untuk tidak hanya eksis di Bandung. Melainkan tersebar di berbagai kota, sehingga ada Persib di Tasikmalaya, Persib di Sumedang, dan Persib di Yogyakarta. Pada masa itu prajurit Siliwangi hijrah ke ibukota perjuangan Yogyakarta. Baru tahun 1948 Persib kembali berdiri di Bandung, kota kelahiran yang kemudian membesarkannya. Rongrongan Belanda kembali datang, VBBO diupayakan hidup lagi oleh Belanda (NICA) walau dengan nama yang berbahasa Indonesia Persib sebagai bagian dari kekuatan perjuangan nasional tentu saja dengan sekuat tenaga berusaha menggagalkan upaya tersebut. Pada masa pendudukan NICA tersebut, Persib didirikan kembali atas usaha antara lain, dokter Musa, Munadi, H. Alexa, Rd. Sugeng dengan Ketua Munadi. Perjuangan Persib rupanya berhasil, sehingga di Bandung hanya ada satu perkumpulan sepak bola yaitu Persib yang dilandasi semangat nasionalisme.

Untuk kepentingan pengelolaan organisasi, dekade 1950-an ini pun mencatat kejadian penting. Pada periode 1953-1957 itulah Persib mengakhiri masa pindah – pindah sekretariat. Sebelum akhirnya atas upaya R. Soendoro, Persib berhasil memiliki sekretariat Persib yang sampai sekarang berada di Jalan Gurame. Pada masa tersebut, reputasi Persib sebagai salah satu juara kompetisi perserikatan mulai dibangun. Sayangnya setelah juara, prestasi Persib cenderung menurun. Puncaknya terjadi saat mereka hampir saja terdegradasi ke Divisi I pada tahun 2003. Beruntung, melalui drama babak playoff, tim berkostum biru – biru ini berhasil bertahan di Divisi Utama. Sebagai tim yang dikenal baik, Persib juga dikenal sebagai klub yang sering menjadi penyumbang pemain ke tim nasional baik junior maupun senior. Daftar nama seperti Risnandar Soendoro, Nandar Iskandar, Adeng Hudaya, Heri Kiswanto, Ajat Sudrajat, Yusuf Bachtiar, Dadang Kurnia, Robby Darwis, Budiman, Nur’alim, Yaris Riyadi hingga generasi Erik Setiawan dan Eka Ramdani merupakan sebagian pemain timnas hasil binaan Persib. Sampai saat ini Persib Bandung merupakan tim Indonesia yang bisa di bilang paling dibanggakan oleh Indonesia karena prestasi dan kemampuannya.

Baca Juga  : Harga Tiket Masuk Taman Sejarah Bandung, Update 2020

Salah satu catatan unik dari tim ini yaitu ketika menjuarai kompetisi sepak bola Perserikatan yang untuk terakhir kalinya diadakan, yaitu pada tahun 1993/1994. Dalam pertandingan final, Persib yang diprakarsai oleh pemain – pemain seperti Sutiono Lamso dan Robby Darwis mengalahkan PSM Makassar. Kompetisi sepak bola Galatama dan tim-tim Perserikatan di Indonesia kemudian dilebur menjadi Liga Indonesia (LI). Pada laga kompetisi LI pertama tahun 1994/1995, Persib kembali menorehkan catatan sebagai juara setelah dalam pertandingan final mengalahkan Petrokimia Putra Gresik dimana gol tunggal pada pertandingan tersebut dicetak oleh Sutiono. Persib juga merupakan salah satu klub Indonesia yang berhasil mencapai babak perempat final Liga Champions Asia. Persib Bandung memiliki penggemar fanatik yang menyebar di seluruh provinsi Jawa Barat dan Banten, bahkan hampir di seluruh wilayah Indonesia, mengingat catatan historis sebagai tim kebanggaan dari ibu kota provinsi Jawa Barat. Penggemar Persib menamakan diri sebagai Bobotoh. Di era Liga Indonesia, Bobotoh kemudian mengorganisasikan diri dalam beberapa kelompok pecinta Persib seperti Viking Persib Club, Bomber, Rebolan, Jurig Persib, Casper dan Persib-1337. Viking Persib Club memiliki hubungan yang sangat kelam dengan kelompok suporter Persija Jakarta, The Jakmania. Karena sudah banyak peristiwa maupun insiden yang terjadi akibat permusuhan abadi dua suporter garis keras ini. Bahkan pihak kepolisian maupun PSSI dan PT Liga Indonesia juga sudah berulang kali meminta Viking dan The Jak untuk berdamai. Namun, sama sekali tidak ada titik terang untuk mendamaikan mereka.