Fakta Sejarah

Sejarah Gempa Bumi di Bandung – Gempa bumi merupakan salah satu bencana alam yang tidak dapat di hentikan dengan kekuatan manusia bahkan tidak dapat di cegah dengan cara yang sangat efektif. Meningkatnya riset geologi mengungkap sumber-sumber gempa bumi di Indonesia. Di masa lalu, sumber gempa bumi tersebut pernah menimbulkan goncangan. Pemerintah diharapkan membuat kebijakan yang bepihak pada mitigasi atau pengurangan dampak resiko bencana.

Sejarah Gempa Bumi di Bandung

Untuk menggambarkan aktivitas gempa bumi di masa lalu, peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) Irwan Meilano menunjukkan sebuah peta sejarah kegempaan di Jawa hasil kerja sama riset dengan Australian National University.
Peta tersebut merekam kegempaan di pulau Jawa pada tahun 1600-an. Peneliti menandai dengan lingkaran hitam pada daerah-daerah pulau Jawa yang pernah tergoncang gempa besar di masa lalu, mulai ujung barat Jawa sampai ujung Timur.

Sejumlah daerah di Jawa Barat termasuk yang dilingkari warna hitam, antara lain Bandung. Irwan lalu menunjukan peta lain tentang kepadatan penduduk di pulau Jawa. Kepadatan digambarkan dengan warna merah.

Ilmuwan dari Kelompok Keahlian Geodesi ITB itu menjelaskan, dua peta tersebut menceritakan dua kisah berbeda, yakni kegempaan di masa lalu dan kepadatan penduduk. Namun dua peta tersebut menyimpulkan bahwa wilayah yang pernah mendapatkan goncangan di masa lalu sekarang menjadi wilayah yang penduduknya padat.
Menurutnya, wilayah yang pernah digoncang gempa umumnya memiliki tanah subur, enak untuk ditinggali, airnya bersih, cuacanya pun sejuk. “Sepanas-panasnya Kota Bandung tidak pernah sampai di atas 35 derajat,” katanya.
Namun faktanya di masa lalu Bandung pernah mengalami gempa bumi. Maka dengan adanya rekaman gempa di masa lalu seharusnya menjadi masukan penting bagi pemerintah maupun masyarakat untuk melakukan mitigasi bencana. Hanya saja, mitigasi menghadapi kendala manakala tidak semua orang pernah mengalami gempa.

Baca Juga : Bangunan-Bangunan Penuh Sejarah di Bandung

“Kesulitan bagi pengambil kebijakan, pejabat di pemda atau anggota dewan, susah sekali membuat aturan yang bepihak pada potensi bencana karena biasanya kita baru yakin kalau pernah merasakan. Kita akan hati-hati dijambret kalau pernah melihat orang kejambretan. Atau kita hati-hati untuk tidak dicopet kalau kita pernah kecopetan,” katanya.
Irwan lalu menunjukkan peta kegempaan masa kini yang juga banyak terjadi. Umumnya gempa di masa kini bersifat dangkal, pada kedalaman kurang dari 30 kilometer. Data dihimpun berdasarkan rilis BMKG.
“Tapi kalau kita bicara sejarah, tidak demikian. Di masa lalu kita pernah mengalami goncangan gempa,” katanya. “Kita bisa melihat saat ini pun gempanya banyak. Jadi di masa lalu gempanya pernah terjadi dan dari pengamatan modern, saat ini, menunjukkan bahwa gempanya pun banyak, tapi tidak semua terasa,” katanya.

1 1

Fakta Menarik Tentang Gedung Sate di Bandung – Jika kalian belajar persejarahan, pasti kamu mengenal dengan istilah gedung sate yang berada di Bandung. Hampir semua orang sudah mengenal gedung ini. Gedung sate adalah sebuah icon kota Bandung. Setiap orang yang sedang jalan-jalan ke Bandung dengan orang sekolahan pasti akan mengunjungi gedung bersejarah ini. Saat ini gedung sate sudah beumur 100 tahun lamanya sejak pembangunannya loh. Gedung yang sering di jadikan tempat berfoto dan belajar ini ternyata menyimpan banyak cerita dan fakta-fakta menarik yang jarang kita ketahui. Berikut adalah faktanya.

Fakta unik gedung sate Bandung

1. Ada Lorong Rahasia.

Kalau anda lihat Gedung Sate dari sisi luar maka gedung sate ini terlihat sangat megah dan indah. Ornamen Gedung ini khas kolonial Belanda. Siapapun yang melihat gedung ini pasti ingin masuk dan berkeliling didalamnya. Banyak yang tidak tahu bahwa di dalam gedung sate terdapat lorong rahasia yang bisa tembus ke kantor dinas gubernur. Tapi kenapa dirahasiakan ya ?!, Cerita rahasianya, lorong ini sudah lama ditutup, karena ada seorang tawanan belanda yangmati dilorong tersebut. Dan pegelola gedung sate tidak ada yang mau menginformasikan mengenai hal tersebut dengan jelas.

2. Tugu Serangan Gurhaka

” Dalam mempertahankan Gedung Sate terhadap serangan pasukan Gurhaka tanggal 3 Desember 1945, tujuh pemuda gugur dan dikubur pihak musuh di halaman.” Itu adalah kalimat yang tertulis di sebuah tugu di Gedung Sate. Letak tugu nya ada dihalaman depan gedung sate. Empat pemuda yang disebutkan dalam kalimat tersebut adalahSusilo, Surjono, Subengat dan Rana. Para pemuda ini dianggap dikubur di tugu tersebut karena tidak ditemukan.

3. Ornamen Jambu

Jika anda perhatikan di bagian atap Gedung Sate, terdapat ornamen berbentuk buah jambu. tepat nya buah jambu air. Ada enam buar ornamen. Banyak orang yang mengartikan ornamen buah ini mengisyaratkan wilayah bandung ini merupakan wilayah yang subur.Sementara jumlah nya ada 6, ini menandakan biaya pembangunan gedung sate yang mencapai 6 juta golden.

Baca Juga : Fakta Mengenai Bandung Lautan Api

4. Tahan Gempa

Seorang arsitek asal belanda yaitu Ir. J. Gerder, telah membangun sebuah gedung yang megah dan mewah di Bandung. Yaitu Gedung Sate, gedung ini kokoh berdiri hingga saat ini. Gedung ini bergaya arsitek Indo-Eropa. Gedung ini tahan gempa, karena struktur bangunan ini yang banyak persendian. Gedung ini bisa tahan gempa hingga 9 SR.

5. Nama Sate.

Anda tahu kenapa gedung ini dinamai gedung sate ? ..Tentunya bukan karena banyak yang jualan sate di area gedung. Tetapi masyarakat menyebut gedung ini dengan nama Gedung Sate, karena bagian atas gedung ini terdapat ornamen yang mirip seperti tusukan sate. Selain dari itu supaya lebih mudah disebutkan dan mudah diingat. Nama asli gedung ini adalah Gouvernements Bedrijven, hehe..sulit diucapkan nya ya..

Nah, jika anda ingin mengunjungi Gedung Sate, anda bisa menghubungi travel agent terbaik di Bandung. Nama Travel agent nya adalah Java Wisata. Java Wisata menyediakan banyak pilihan paket wisata, dari mulai paket wisata alam, paket gathering bandung, paket outbound Bandung.

Jika anda ingin berkeliling di kota Bandung untuk mengunjungi spot-spot bersejarah di Bandung, seperti Gedung Sate, Gedung Merdeka, Balai Kota, Braga atau yg lainnya anda bisa mengambil paket wisata sejarah dan budaya.

2 2

Fakta Mengenai Bandung Lautan Api – Bandung merupakan kota yang sangat terkenal di Indonesia. Dengan tempat wisata yang sangat banyak dan terdapat banyak makanan kuliner yang sangat menarik ini ternyata banyak memiliki sejarah di dalamnya. Salah satu sejarah yang terkenal dari kota Bandung adalah istilah Bandung Lautan Api. Istilah itu di buat karena adanya sebuah kejadian yang terjadi di Bandung pada tanggal 24 Maret 1946. Peristiwa itu melibatkan tentara beserta rakyat Bandung yang membakar semua bangun dan rumah mereka sendiri karena mereka tidak setuju bahkan tidak rela jika daerahnya diduduki oleh tentara sekutu. Berikut adalah fakta penting dari sejarah Bandung lautan api.

1. Bandoeng Djadi Laoetan Api

Ternyata julukan peristiwa ini datang dari seorang wartawan Harian Suara Merdeka bernama Atje Bastaman, yang sekaligus menjadi saksi dari peristiwa pembakaran Bandung.

Saat itu sekembalinya Atje ke Tasikmalaya, ia langsung membuat tulisan mengenai peristiwa ini dengan judul “Bandoeng Djadi Laoetan Api” tetapi karena kurangnya ruang tulisan, judul diperpendek menjadi ” Bandoeng Laoetan Api”.

2. Istilah Bandung Lautan Api

Istilah Bandung Lautan Api muncul pada saat Komandan Polisi Militer di Bandung bernama Rukana sedang berbincang dengan A.H. Nasution dan Sutan Syahir. Dari perbincangan mereka bertiga, muncul gagasan dari Rukana “Mari kita bikin Bandung Selatan jadi lautan api”

3. Otak Dibalik Bandung Lautan Api

Sekutu yang terdiri dari tentang Inggris dan NICA Belanda membuat ultimatum kepada masyarakat Bandung untuk segera meninggalkan kota karena mau dipakai untuk markas melawan kemerdekaan.

Pada saat itu A.H. Nasution selaku Komandan Divisi III (atau saat ini bernama Kodam III Siliwangi) menjadi penggagas untuk meninggalkan kota Bandung dengan kondisi terbakar. Dia juga yang memberi komando agar masyarakat secepat mungkin meninggalkan kota Bandung

Baca Juga : 6 Mitos Terbesar dalam Sejarah yang Masih Dipercaya Hingga Sekarang

4. Dua Pahlawan di Balik Peristiwa Bandung Lautan Api

Pahlawan yang menjadi akar dari keberhasilan peristiwa Bandung Lautan Api ini adalah dua sosok ini. Mereka adalah Mohamad Toha dan Mohamad Ramdan. Karena dari berbagai sumber sejarah, Mohamad Toha adalah sosok yang membawa dinamit untuk meledakkan gudang senjata yang saat itu dijaga tentara Jepang.

Dari peristiwa itu kedua sosok ini dianggap sebagai seorang pahlawan dan sampai dijadikan menjadi nama jalan untuk menghormati jasa mereka.

5. Strategi Bumi Hangus Paling Tepat

Operasi Bandung lautan api yang pada saat itu disebut juga sebagai operasi bumi hangus merupakan sebuah keputusan yang dianggap sangat tepat pada saat itu. Karena selain untuk mencegah menjadikan kota Bandung sebagai markas strategis militer oleh pasukan Sekutu dalam Perang Kemerdekaan Indonesia, kekuatan TRI dan juga milisi rakyat tidak sebanding dengan kekuatan pasukan Sekutu dan NICA yang besar.

6. Aksi Lanjutan

Meskipun banyak masyarakat yang menyelamatkan diri pasca kejadian Bandung Lautan Api, api perjuangan para Tentara Republik Indonesia atau disingkat TRI tidak pernah padam. Hal itu terbukti dari gerakan TRI bersama pasukan milisi rakyat melakukan perlawanan dengan cara gerilya dari luar daerah Bandung.

7. Lahirnya Lagu “Halo-halo Bandung”

Jika kamu akrab dengan lagu “Halo-halo Bandung” sejak kecil, maka kamu harus tahu bahwa lagu itu diciptakan setelah peristiwa Bandung Lautan Api meskipun sampai sekarang kita masih belum mengetahui siapa pencipta dari lagu tersebut.

Awal Mula Penggunaan Nama Bandung Awal Mula Penggunaan Nama Bandung

Awal Mula Penggunaan Nama Bandung – Beberapa artikel yang akan kami berikan adalah artikel yang kami rangkum dari sumber terpercaya, berikut ini beberapa artikel yang membahas mengenai awal mula penggunaan nama Bandung.

Alkisah pada zaman dahulu kala di tanah pasundan, di pinggiran sungai Citarum hidup lah seorang kakek tua yang terkenal karena memiliki ilmu sakti mandraguna. Disana Ia tinggal bersama anak perempuannya yang cantik jelita, Sekar.

Selain Sekar, Empu Wisesa memiliki 2 orang murid Jaka dan Wira, Ia menemukan mereka ketika masih bayi di sebuah desa yang hancur berantakan karena letusan gunung tangkuban perahu yang hingga saat itu lahar nya masih sering membahayakan area sekitarnya. Ke dua bayi itu kemudian dibawa pulang, dirawat dan diajarkan ilmu oleh Empu Wisesa.

Walaupun memiliki guru yang sama, Jaka dan Wira memiliki perangai yang berbeda. Jaka berparas tampan, Ia senang bermain dan pandai bercakap, walaupun pintar namun karena sifat nya yang menggampangkan sesuatu ia jauh ketinggalan dari Wira yang rajin mencari ilmu dan hakikat hidup.

Sifat yang berbeda tersebut tidak membuat mereka berdua berjauhan, mereka seperti dua orang saudara yang saling tolong dan berbagi rahasia. Namun ada satu hal yang tak mereka ungkapkan satu sama lain, yaitu tentang perasaan mereka terhadap Sekar, putri guru mereka.

Jaka terlebih dahulu menyampaikan maksud hati untuk melamar Sekar kepada Empu Wisesa, karena pandai mengambil hati guru nya, Empu Wisesa tanpa meminta persetujuan anaknya langsung menyetujui lamaran Jaka. Ia berfikir Sekar pasti juga menyukai Jaka yang rupawan dan pandai bergaul.

Keesokan hari nya Empu Wisesa memanggil Sekar dan kemudian menyampaikan keinginannya untuk menikahkan nya dengan Jaka. Sekar adalah anak yang baik dan berbakti pada orang tua namun baru sekali inilah Sekar membantah orang tuanya, ia menolak keinginan Empu Wisesa, ia mengatakan bahwa Ia mencintai Wira dan hanya mau menikah dengan Wira.

Hal itu membuat Empu Wisesa gundah, sebelumnya Ia sudah menjanjikannya pada Jaka. Agar adil ia kemudian membuat sayembara.

“Baiklah, aku hanya akan menikahkan Sekar dengan orang yang bisa memadamkan lahar panas Tangkuban Perahu.” kata Empu Wisesa.

Jaka merasa itu adalah hal yang mustahil, tidak mungkin memadamkan lahar panas yang telah ada sejak berabad-abad yang lalu. Namun didepan Empu Wisesa dia menyanggupi nya dan mengaku ingin mengembara mencari ilmu untuk memadamkan lahar. Ia hanya berfoya-foya dan bahkan bermain wanita.

Sementara itu Wira, berfikir keras mencari tahu bagaimana cara memenangkan sayembara itu. Dengan tekun setiap hari ia mengitari cekungan luas yang terbentuk oleh lahar panas tersebut, dia tahu hanya air yang bisa mengalahkan api, tapi dari mana dia bisa mendapatkan air sebanyak itu. Setahun berlalu namun Ia belum juga menemukan caranya hingga suatu hari dia melihat berang-berang yang sedang membuat bendungan dari ranting-ranting pohon.

“Wah, bagaimana kalau aku membendung sungai Citarum sehingga air nya bisa memadamkan lahar panas” pikir nya dalam hati.

Baca Juga:Sejarah Kawasan Dago

Dengan penuh perhitungan Wira mulai melaksanakan ide nya itu, mula-mula Ia mengungsikan manusia dan hewan-hewan yang ada di cekungan lahar tersebut agar tidak tenggelam oleh air. Kemudian berbekal kesaktian dari Empu Wisesa, Ia meruntuhkan sebuah bukit dengan tangan nya, sehingga tanah dan batuan membendung air sungai. Lama-kelamaan air mulai menggenang, lahar panas menjadi dingin dan cekungan itu berubah menjadi danau yang luas, orang-orang menyebut daerah itu “Danau Bandung”.

Setelah berhasil melewati ujian yang di berikan oleh Mpu Wisesa, ia pun kemudian pulang dan melamar Sekar. Mpu Wisesa sangat senang, murid nya terbukti sangat mencintai anak semata wayang nya, dan mencegah bencana yang bisa muncul akibat lahar panas itu.

Tak lama kemudian mereka pun mengadakan pesta pernikahan yang meriah, dihadiri oleh semua penduduk disekitarnya. Jaka tidak ada kabar beritanya lagi.

Setelah bertahun-tahun Wira & Sekar dikaruniai banyak anak dan cucu, sementara itu bendungan yang dibuat Wira mulai runtuh akibat debit air yang tinggi. Lama-lama air di danau itu mulai mengering, tanah nya menjadi subur dan gembur. Akhir nya mereka pun berpindah kesana, tak lupa mengajak penduduk sekitar.

Lama kelamaan daerah itu menjadi ramai ditinggali dan didatangi pengembara, karena danau nya sudah tidak lagi ada, mereka menyebut nya Bandung. Menurut mitos nya penduduk asli kota Bandung berasal dari keturunan Wira dan Sekar.

Begitulah Legenda fiktif Asal Mula Nama Kota Bandung, yang berasal dari kata “bendung” atau “bendungan” yang dibuat oleh Wira untuk memadamkan lahar panas Tangkuban Perahu.

Menurut sejarah bendungan (Danau Bandung) itu seluas daerah antara Padalarang hingga Cicalengka (± 30 km) dan daerah antara Gunung Tangkuban Parahu hingga Soreang (± 50 km)

4-Anggapan-Yang-Salah-Tentang-Orang-Bandung 4-Anggapan-Yang-Salah-Tentang-Orang-Bandung

sejarahbandung –  Jakarta Apa yang ada di pikiran anda begitu mendengar kata orang Bandung atau orang Sunda? Positif atau negatifkah pikiran yang melintas di benak anda? Banyak stereotip yang ada di lingkungan kita mengenai suku atau ras tertentu, dan salah satu stigma yang sangat menarik untuk dibahas ialah pandangan orang Indonesia (baca: Jawa) tentang orang Bandung. Bila anda penonton setia acara televisi, pasti beranggapan bahwa orang Bandung itu lucu karena banyak yang menjadi pelawak, orang Bandung itu berdarah seni karena banyak yang menjadi penyanyi dan seniman, dan orang Bandung itu jago akting karena banyak yang menjadi aktor dan aktris. Namun, ternyata ada juga anggapan lain yang lebih memandang orang Bandung ke sisi negatif.

1. Wanita Bandung matre. Inilah anggapan keliru pertama masyarakat Indonesia tentang orang Bandung. Banyak yang berkata bahwa wanita Bandung itu matre alias sangat tergila-gila dengan harta. Entah bagaimana stigma negatif ini bermula. Namun, mungkin saja hal tersebut dikarenakan sifat perempuan Bandung lebih blak-blakan dalam hal apa saja. Tentu ini adalah sifat yang sangat kontras dengan sikap orang Jawa yang lebih suka basa-basi. Oleh sebab itu, saat wanita Bandung menginginkan sesuatu, perhiasan atau kendaraan, misalnya, maka ia akan berbicara secara langsung kepada suaminya. Nah, menurut adat budaya Jawa, tentu hal ini merupakan suatu yang sangat tabu.

Baca Juga : Sejarah Bandung Lautan Api

2. Orang Bandung dan Jawa tidak boleh menikah. Tak sedikit orang tua yang berpesan kepada anaknya yang kuliah di Bandung agar jangan sampai menikah dengan orang Bandung. Sebab, mereka beranggapan bahwa karakter orang Bandung sangat tidak cocok dengan orang Jawa. Pria Jawa mengklaim dirinya bahwa mereka sabar dan suka mengalah, sementara wanita Bandung malas dan matre. Maka, jika pasangan ini menikah dikhawatirkan pria Jawa akan menghabiskan seluruh hartanya hanya untuk menafkahi istrinya. Di lain pihak bila perempuan Jawa menikah dengan pria Bandung, maka sifat lelaki Bandung yang malas dan suka menuntut, dikhawatirkan hanya akan memperbudak keluarga dari pihak istri yang bersifat nrimo dan selalu mengalah. Tentu stereotip ini tidak selamanya benar karena banyak sekali fakta di atas lapangan yang membuktikan bahwa pasangan Jawa-Bandung bisa hidup harmonis.

3. Nikah cerai sudah biasa. Acara tv yang sering kali memberitakan perkawinan artis Bandung semakin memperkuat stigma negatif ini. Tak bisa dipungkiri memang bahwa banyak sekali artis Bandung yang kawin cerai dengan pasangannya. Akan tetapi, hal itu bukan berarti bahwa kawin cerai adalah hobi seluruh warga Bandung.

4. Orang Bandung tak bisa jadi pemimpin. Orang Jawa masih beranggapan bahwa orang Bandung jarang sekali menjadi nomor satu di negara ini karena cenderung sombong dan angkuh setelah berhasil menduduki jabatan teratas. Pendapat ini diperkuat dengan beragam cerita yang mengatakan bahwa pihak keluarga si pejabat sendiri pun kadang ditolak oleh si pemimpin tersebut. Tentu saja ini merupakan sebuah pandangan yang sempit karena banyak juga orang Bandung yang begitu adil memimpin bawahannya.

Sejarah-Bandung-Lautan-Api Sejarah-Bandung-Lautan-Api

sejarahbandung – Bandung lautan api merupakan sejarah perlawanan rakyat Jawa Barat terhadap Sekutu. Lautan Api sebagai peristiwa heroik di tahun 1946-1949. Lalu bagaimana situasinya? Menurut catatan sejarah, banyak masyarakat Bandung pada waktu yang meninggal dunia karena peristiwa ini.

Selain banyaknya korban yang berjatuhan, kerusuhan ini juga diwarnai dengan aksi-aksi pembakaran gedung-gedung pemerintahan, perkantoran, dan sebagian pemukiman penduduk.

Proses Peristiwa Bandung Lautan Api

Kerusuhan ini bermula dari konflik perampasan senjata milik Jepang oleh sekutu. Karena kalah dan melihat rakyat Bandung memiliki banyak persenjataan, menjadi pemicu peristiwa ini. Dalam catatan Sejarah Daerah Jawa Barat (1978: 202), para pemuda yang tergabung dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Bandung berhasil membawa senjata warisan Jepang yang tersimpan di gudang mesiu Kiaracondong.

Para pemuda itu kemudian berencana menggunakan senjata tersebut untuk melawan Sekutu yang sejak tanggal 12 Oktober 1945 telah menduduki kota dan sekitarnya.
Kabar akan adanya penyerangan ini, akhirnya terdengar oleh tentara Sekutu di pusat kota.= Keesokan harinya, faktor penyebab Bandung lautan Api ini karena tentara Sekutu memberikan ultimatum kepada masyarakat supaya menggagalkan rencananya sebelum mendapatkan perlawanan dari pasukannya.

Mereka menggunakan pesawat tempur dan menjatuhkan lembaran pamflet-pamflet yang berisi peringatan agar ‘ekstrimis indonesia’ dapat mengosongkan tempat paling lambat 24 Maret 1946 jam 24.00 WIB. Tak hanya itu, mereka juga diminta mundur sejauh 11 kilometer dari titik yang sudah diumumkan. Melihat ultimatum itu justru membuat rakyat semakin semangat untuk melawan. Mereka bergabung dengan laskar dan TKR untuk melawan sekutu.

Hingga 21 November 1945, TKR beserta para pejuang lainnya menyerang markas Inggris di Bandung bagian utara, seperti di hotel Homann dan Hotel Preanger yang dijadikan sebagai markas musuh.

Baca Juga : Asal Usul Nama Bandung Hingga Gerbang Kota Utama Bandung

Ultimatum Sekutu Picu Emosi

Semenjak Pamflet ultimatum itu disebarkan, pasukan laskar yang terdiri dari rakyat dan TKR emosi kepada Sekutu yang semakin hari semakin berbuat semena-mena di Bandung. Menurut Hendra Jo, saksi hidup peristiwa Bandung lautan apimasih ada hingga saat ini. Belakangan diketahui bernama Asikin (93), akan tetapi ingatannya masih kuat sehingga mampu bercerita dengan leluasa.

Menurut hasil wawancaranya, Hendra membeberkan Asikin tidak berjuang sendiri dalam peristiwa tersebut. Ada puluhan ribu pejuang yang tergabung dalam TRI dan laskar-laskar rakyat yang juga merasakan hal yang sama. Untuk mencegah situasi yang semakin panas itu, Ketua Komite Nasional Indonesia (KNI) Jawa Barat, Ardi Winangun, berangkat menuju Jakarta untuk menemui Sutan Sjahrir, Perdana Menteri saat itu.

Sjahrir mewaliki pemerintah menyarankan agar rakyat Bandung mematuhi ultimatum Sekutu. Namun pada akhirnya Sjahrir menyerahkan keputusan itu kepada para pejuang. Seperti halnya diberi angin segar, akhirnya Ardi menyampaikan hal itu melalui telepon kepada perwakilan pemuda pada 22 Maret 1946 sebelum peristiwa Bandung Lautan Api terjadi.

Beberapa pendapat lain menyatakan misi pembumihangusan dalam kejadian ini banyak ditentang oleh petinggi militer sekelas A.H Nasution.
Menurut Letnan Kolonel Omon Abdurrachman, Komandan Resimen TRI kedelapan menyebut Nasution berang karena tindakan masyarakat yang susah diatur. Bahkan ia melarang melawan sekutu.

Lantaran emosi tak bisa dibendung lagi, akhirnya rakyat berbondong-bondong meninggalkan Bandung ke wilayah pinggiran. Namun sebelum adanya perintah bumi hangus, sebagian dari mereka sudah membakar lebih dahulu rumah-rumahnya.

Begitulah sejarah Bandung Lautan Api yang bisa ditelaah sebagai pengetahuan pembaca dalam memahami sejarah revolusi fisik khususnya sejarah perlawanan rakyat Jawa Barat kepada Sekutu sekitar tahun 1946-1949.

Asal-Usul Nama Bandung Asal-Usul Nama Bandung

Sejarahbandung.com – KATA “Bandung” berasal dari kata bendung atau bendungan karena terbendungnya sungai Citarum oleh lava Gunung Tangkuban Perahu yang kemudian membentuk telaga. Menurut mitos, nama “Bandung” diambil dari sebuah kendaraan air yang terdiri dari dua perahu yang diikat berdampingan yang disebut perahu bandung yang digunakan oleh Bupati Bandung, R.A. Sungai) dalam mencari tempat kedudukan kabupaten yang baru untuk menggantikan ibukota yang lama di Dayeuhkolot. Kota Bandung merupakan kota metropolitan terbesar di wilayah Jawa Barat yang menjadi ibu kota Provinsi Jawa Barat. Kota Bandung juga merupakan kota terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Kota Bandung dijuluki Kota Kembang. Dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, sejarahwan Haryoto Kunto menulis, kembang yang dimaksud ialah Kembang Dayang yang dalam bahasa Sunda sama dengan WTS (Wanita Tunasusila) atau PSK (Pekerja Seks Komersial). Istilah kota kembang berasal dari peristiwa yang terjadi tahun 1896 saat Bestuur van de Vereninging van Suikerplanters (Pengurus Besar Perkumpulan Pengusaha Perkebunan Gula) yang berkedudukan di Surabaya memilih Bandung sebagai tempat penyelenggaraan kongresnya yang pertama.

Sebagai panitia kongres, Tuan Jacobmendapat masukan dari Meneer Schenk agar menyediakan ‘kembang-kembang’ berupa “noni cantik” Indo-Belanda dari wilayah perkebunanPasirmalang untuk menghibur para pengusaha gula tersebut. Setelah kongres, para tamu menyatakan sangat puas. Kongres dikatakan sukses besar. Dari mulut peserta kongres itu kemudian keluar istilah dalam bahasa Belanda De Bloem der Indische Bergsteden atau ‘bunganya’ kota pegunungan di Hindia Belanda. Dari situ muncul julukan kota Bandung sebagai kota kembang. Dalam buku Otobiografi Entin Supriatin, Deritapun Dapat Ditaklukan. Mitra Media Pustaka. Bandung (2006) disebutkan, Bandung dikenal dengan sebutan Parijs Van Java atau Paris-nya Pulau Jawa. Mungkin mengira istilah itu muncul dari keindahan kota Bandung sama dengan keindahan kota Paris. Padahal bukan itu. Sebenarnya, istilah Parijs van Java muncul karena pada waktu itu di Jalan Braga terdapat banyak toko yang menjual barang-barang produksi Paris, terutama toko pakaian. Toko yang terkenal diantaranya adalah toko mode dan pakaian, Modemagazinj ‘au bon Marche’ yang menjual gaun wanita mode Paris.

Ada juga restoran yang makanan khas Paris Maison Bogerijen yang menjadi tempat santap para pejabat dan pengusaha Hindia Belanda atau Eropa. Dari situlah muncul julukan lain bagi kota Bandung sebagai Parijs van Java. Selain itu, kota Bandung juga dikenal sebagai kota belanja, dengan mall dan factory outlet (FO) yang banyak tersebar di kota ini. Tahun 2007, British Council menjadikan kota Bandung sebagai pilot project kota terkreatif se-Asia Timur. Saat ini kota Bandung merupakan salah satu kota tujuan utama pariwisata dan pendidikan. Tahun 1896 Bandung belum menjadi kota tetapi hanya “kampung”. Penduduknya yang terdata 29.382 orang, sekitar 1.250 orang berkebangsaan Eropa, mayoritas orang Belanda. Saat itu Bandung hanyalah desa udik yang belepotan lumpur, bahkan Jalan Braga yang kemudian melegenda di Bandung masih berupa jalan tanah becek bertahi sapi dan kuda. Kota Bandung mulai dijadikan sebagai kawasan pemukiman sejak pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, melalui Gubernur Jenderalnya waktu itu Herman Willem Daendels, mengeluarkan surat keputusan tanggal 25 September 1810 tentang pembangunan sarana dan prasarana untuk kawasan ini. Dikemudian hari peristiwa ini diabadikan sebagai hari jadi kota Bandung. Kota Bandung secara resmi mendapat status gemeente (kota) dari Gubernur Jenderal J.B. Heutsz pada tanggal 1 April 1906 dengan luas wilayah waktu itu sekitar 900 ha, dan bertambah menjadi 8.000 ha di tahun 1949, sampai terakhir bertambah menjadi luas wilayah saat ini. Pada masa perang kemerdekaan, pada 24 Maret 1946, sebagian kota ini di bakar oleh para pejuang kemerdekaan sebagai bagian dalam strategi perang waktu itu. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan Bandung Lautan Api dan diabadikan dalam lagu Halo-Halo Bandung. Selain itu kota ini kemudian ditinggalkan oleh sebagian penduduknya yang mengungsi ke daerah lain.

Baca Juga  : Makalah Bandung Lautan Api

Kandidat guru muda dari Preanger Regentschappen adalah bernama Adi Sasmita, seorang guru bantu di Regentschap (kabupaten) Sumedang. Adi Sasmita diduga adalah lulusan pertama Kweekschool Bandoeng. Lantas mengapa dari Sumedang, bukan guru asal regenschap (kabupaten) Bandoeng? Boleh jadi ini karena bargaining dari Bupati Sumedang, yang saat itu masih lebih superior dibanding bupati Bandoeng dan bahkan bupati Tjiandjoer, meski ibukota Preanger sudah dipindahkan dari Tjiandjoer ke Bandoeng sejak 1871. Disamping itu, ekonomi (pertanian ekspor) Sumedang tidak kalah jika dibandingkan dengan Bandoeng dan Tjiandjoer. Seperti yang dikabarkan, Adi Sasmita adalah lulusan terbaik dari Kweekschool Bandoeng (dan diproyeksikan menjadi guru di Kweekschool Bandoeng). Tiga guru muda yang dipimpin Willem Iskander berangkat dari Batavia pada tahun 1875. Namun sangat disayangkan mereka berempat tidak ada yang kembali, semuanya dikabarkan telah meninggal dunia di tahun pertama di Belanda (Eropa). Tiga kandidat guru ini dilaporkan sakit keras, tidak bisa menahan dingin. Raden Mas Soerono masih sempat dipulangkan agar jiwanya tertolong, namun meninggal di tengah perjalanan dan dikuburkan di Port Said (Mesir). Meninggalnya Willem Iskander sangat controversial hingga ini hari: bunuh diri atau dibunuh. Dilaporkan Willem Iskander meninggal bulan Mei 1876 karena bunuh diri disebabkan frustrasi karena kematian tiga ‘anak didiknya’.

Namun ini saya pribadi sangat meragukan sebagaimana dapat dibaca dalam edisi Locomotief edisi Juli 1876. Argumennya adalah sebegai berikut: Program pengiriman guru muda ke Belanda di bawah baying-bayang pro-kontra. Di satu pihak menganggap ini biaya dan dipihak lain sebagai (politik) etik. Kematian tiga anak didik Willem Iskander di satu sisi Willem Iskander telah kehilangan harapan untuk peningkatan pendidikan penduduk pribumi di Hindia Belanda, di lain sisi boleh jadi beasiswa Willem Iskander telah diputus sepihak dari Batavia (mengingat program utama adalah tiga guru muda, sedangkan beasiswa Willem Iskander adalah program tambahan, sebagai bentuk bargaining). Disamping itu, jelang keberangkatan Willem Iskander dan tiga anak didiknya, perang Atjeh telah menimbulkan biaya besar di pihak militer (pemerintah Hindia Belanda). Sebelum berangkat ke Batavia, Willem Iskander tampak tidak setuju (menolak) penghancuran keraton (dan masjid Atjeh) dan menyesalkan banyak penduduk pribumi tidak ikut prihatin yang dimuat di dalam surat kabar Sumatra Courant.

Makalah Bandung Lautan Api Makalah Bandung Lautan Api

Sejarahbandung.com – Semoga makalah tentang Sejarah Peristiwa Bandung Lautan Api ini bias menambah pengethuan kita. Kami menyadari makalah nyang kami buat jauh dari sempurna maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran kepada teman -teman dan dosen matakuliah sejarah perjuangan bangsa ini. B. Bandung lautan api Perang Medan Area yang terjadi di Kota Medan 15 Februari 1947, dinilai lebih menggambarkan sikap kepahlawanan dari beberapa perang lainnya melawan kolonialisme Belanda.Sekretaris Pusat Sudi Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial (Pussis) Universitas Negeri Medan, Erond Damanik, mengatakan berdasarkan pengkajian yang dilakukan, maka perang Medan Area tidak kalah penting jika dibanding dengan perang lainnya di Surabaya, 10 November 1945 yang akhirnya memunculkan sebutan “Arek-Arek Suroboyo”. Istilah Bandung Lautan Api menjadi istilah yang terkenal setelah peristiwa pembumihangusan tersebut.

Jenderal A.H Nasution adalah Jenderal TRI yang dalam pertemuan di Regentsweg (sekarang Jalan Dewi Sartika ), setelah kembali dari pertemuannya dengan Sutan Sjahrir di Jakarta , memutuskan strategi yang akan dilakukan terhadap Kota Bandung setelah menerima ultimatum Inggris tersebut.Peristiwa yang terjadi di tanah Pasundan itu berawal dari pertempuran antara para pemuda dan TKR melawan tentara Jepang pada bulan September dan Oktober 1945. Pada tanggal 9 Oktober 1945, pertempuran yang terjadi antara rakyat Bandung dan TKR melawan tentara Jepang dapat diselesaikan dengan damai. 1. Uraikan sejarah tentang bandung lautan api ! Mengenal sejarah Indonesia, salah satunya ada peristiwa Bandung Lautan Api. Peristiwa yang terjadi di tanah Pasundan itu berawal dari pertempuran antara para pemuda dan TKR melawan tentara Jepang pada bulan September dan Oktober 1945.Pada tanggal 9 Oktober 1945, pertempuran yang terjadi antara rakyat Bandung dan TKR melawan tentara Jepang dapat diselesaikan dengan damai. Rakyat Bandung dan TKR berhasil mendapatkan senjata dari pabrik senjata dan mesiu di Kiaracondong.Akan tetapi, bersamaan dengan itu datanglah tentara sekutu memasuki Kota Bandung pada tanggal 21 Oktober 1945. Kedatangan pasukan sekutu itu membuat suasana Kota Bandung menjadi tegang. Pertempuran-pertempuran kecil pun tak terhindarkan.

Ketika pasukan sekutu merasa terdesak, sekutu memberika ultimatum agar seluruh rakyat Bandung paling lambat tanggal 29 November 1945, pukul 12 untuk meninggalkan Bandung Utara. Namun, sampai batas waktu yang ditentukan, rakyat Bandung tidak mematuhinya.Pada tanggal 24 Maret 1946, sekutu mengeluarkan ultimatum lagi agar rakyat Bandung meninggalkan Kota Bandung. Namun, lagi-lagi ultimatum itu tidak digubris. Akibatnya, pertempuran pun tak dapat dihindarkan. Ribuan orang mulai meninggalkan Kota Bandung. Tentara Republik Indonesia sengaja membakar gedung-gedung pemerintahan yang terdapat di Kota Bandung. Maksudnya, agar sekutu tidak dapat menggunakannya lagi. Asap membumbung tinggi. Kota Bandung menjadi lautan api. Kota bandung dimasuki inggris pada bulan oktober 1945 sekutu meminta hasil lucutan tentara jepang oleh TKR diserahkan kepada sekutu pada tanggal 21 november 1945 sekutu mengultimatum agar kota bandungdikosongkan hal ini tidak diindahkan oleh TRI dan rakyat indonesia,Perintah ultimatum tsb diulang tanggal 23 maret 1946 . RI di jakarta memerintah supaya TRI mengosongkan bandung, tetapi pimpinan TRI di yogjakarta menginstruksikan supaya bandung tidak dikosongkan akhirnya dengan barat hati TRI mengosongkan kota bandung, sebelum keluarBandung pada tanggal 23 maret 1946 para pejuang RI menyerang markas sekutu dan membumihanguskan bandung bagian selatan. Pasukan Inggris bagian dari Brigade MacDonald tiba di Bandung pada tanggal 12 Oktober 1945 .

Baca Juga  : Membaca Sejarah Kota Bandung Dari Atas Bus

Sejak semula hubungan mereka dengan pemerintah RI sudah tegang. Mereka menuntut agar semua senjata api yang ada di tangan penduduk, kecuali TKR dan polisi , diserahkan kepada mereka. Orang-orang Belanda yang baru dibebaskan dari kamp tawanan mulai melakukan tindakan-tindakan yang mulai mengganggu keamanan. Akibatnya, bentrokan bersenjata antara Inggris dan TKR tidak dapat dihindari. Malam tanggal 24 November 1945, TKR dan badan-badan perjuangan melancarkan serangan terhadap kedudukan-kedudukan Inggris di bagian utara, termasuk Hotel Homann dan Hotel Preanger yang mereka gunakan sebagai markas. Tiga hari kemudian, MacDonald menyampaikan ultimatum kepada Gubernur Jawa Barat agar Bandung Utara dikosongkan oleh penduduk Indonesia, termasuk pasukan bersenjata.Ultimatum Tentara Sekutu agar Tentara Republik Indonesia (TRI, TNI kala itu) meninggalkan kota Bandung mendorong TRI untuk melakukan operasi ” bumihangus “. Para pejuang pihak Republik Indonesia tidak rela bila Kota Bandung dimanfaatkan oleh pihak Sekutu dan NICA. Kolonel Abdoel Haris Nasoetion selaku Komandan Divisi III TRI mengumumkan hasil musyawarah tersebut dan memerintahkan evakuasi Kota Bandung. Hari itu juga, rombongan besar penduduk Bandung mengalir panjang meninggalkan kota Bandung dan malam itu pembakaran kota berlangsung.

Bandung sengaja dibakar oleh TRI dan rakyat setempat dengan maksud agar Sekutu tidak dapat menggunakan Bandung sebagai markas strategis militer. Di mana-mana asap hitam mengepul membubung tinggi di udara dan semua listrik mati. Tentara Inggris mulai menyerang sehingga pertempuran sengit terjadi. Pertempuran yang paling besar terjadi di Desa Dayeuhkolot , sebelah selatan Bandung, di mana terdapat gudang amunisi besar milik Tentara Sekutu. Dalam pertempuran ini Muhammad Toha dan Ramdan , dua anggota milisi BRI (Barisan Rakjat Indonesia) terjun dalam misi untuk menghancurkan gudang amunisi tersebut. Muhammad Toha berhasil meledakkan gudang tersebut dengan dinamit . Gudang besar itu meledak dan terbakar bersama kedua milisi tersebut di dalamnya. Staf pemerintahan kota Bandung pada mulanya akan tetap tinggal di dalam kota, tetapi demi keselamatan mereka, maka pada pukul 21.00 itu juga ikut dalam rombongan yang mengevakuasi dari Bandung. Sejak saat itu, kurang lebih pukul 24.00 Bandung Selatan telah kosong dari penduduk dan TRI.

Berusia 204 Tahun, Ini Sejarah Singkat Kota Bandung Berusia 204 Tahun, Ini Sejarah Singkat Kota Bandung

Sejarahbandung.com – BANDUNG – Tepat hari ini, 25 September 2014, Kota Bandung berusia 204 tahun. Usia yang tidak muda lagi tentunya. Di Indonesia, Bandung dikenal sebagai salah satu kota metropolitan. Di Jawa Barat, Bandung merupakan kota terbesar sekaligus ibu kota provinsi. Sebagai kota metropolitan terbesar ketiga setelah Jakarta dan Surabaya, Bandung merupakan salah satu tujuan wisatawan, mulai dari wisata belanja, fesyen, dan kuliner. Segala macam puin ada di kota berjuluk ‘Parijs van Java’ itu. Dilansir dari berbagai sumber, kata Bandung berasal dari “bendung” atau “bendungan” karena terbendungnya Sungai Citarum oleh lava Gunung Tangkubanparahu yang kemudian membentuk telaga. Ada juga sejarah yang menyebutkan kata Bandung berasal dari sebuah kendaraan air yang terdiri dari dua perahu yang diikat berdampingan. Kendaraan itu dinamakan Perahu Bandung dan digunakan Bupati Bandung, RA Wiranatakusumah II, saat melayari Sungai Citarum. Kota Bandung dijadikan permukiman sejak pemerintahan kolonial Belanda. Lewat Gubernur Jenderal saat itu, Herman Willem Daendels, pada 25 September 1810 dikeluarkan surat keputusan tentang pembangunan sarana dan prasarana di kawasan Bandung. Tanggal itu kemudian dijadikan sebagai hari jadi Kota Bandung. Namun status sebagai gemeente atau kota sebenarnya baru didapat secara resmi pada 1 April 1906 dari Gubernur Jenderal JB van Heutsz.

Saat itu luas Kota Bandung sekira 900 hektare. Seiring perkembangan, Kota Bandung bertambah luas menjadi sekira 8.000 hektare pada 1949 dan terus berkembang sampai saat ini. Kota Bandung memiliki julukan ‘Kota Kembang’ karena dulu dikenal sebagai kawasan indah yang memilki banyak bunga. Kota Bandung juga disebut ‘Parijs van Java’ karena dulu suasana dan udaranya mirip dengan Paris. Cerita bersejarah pun banyak terlahir di Bandung, mulai dari peristiwa Bandung Lautan Api, Konferensi Asia-Afrika, serta sederet peristiwa bersejarah lainnya. Kini, Kota Bandung menjadi salah satu kota paling modern di Indonesia. Dipimpin Wali Kota Ridwan Kamil, Bandung terus berbenah di tengah ragam permasalahan yang ada, mulai dari PKL, transportasi, taman, hutan kota, serta berbagai persoalan lainnya. Dalam usia 204 tahun, setumpuk persoalan menjadi tantangan tersendiri. Transportasi massal berupa monorel disiapkan untuk menuntaskan persoalan kemacetan. Parkir meter disiapkan untuk menuntaskan persoalan perparkiran. Taman-taman terus diperbaiki dan ditambah. Stadion Gelora Bandung Lautan Api terus digenjot agar segera tuntas. PKL mulai ditata dan direlokasi. Bahkan birokrasi pemerintahan dan persoalan lainnya pun terus diperbaiki. Tapi butuh kerja sama dari semua pihak agar Kota Bandung menjadi lebih baik. Perubahan ke arah positif tidak bisa dilakukan hanya oleh pemerintah.

Hindia Belanda karena pada waktu itu perkembangan kota Batavia sudah dinilai tidak layak sebagai ibukota pemerintahan. Hal tersebut beralasan dikarenakan sebelumnya perlu anda ketahui bahwa Kantor Pemerintahaan Provinsi Jawa Barat itu menempati bangunan Gedung Kerta Mukti di Jalan Braga Bandung. Untuk ruangan kerja Gubernur Jawa Barat sendiri berada di lantai 2 bersama dengan ruang kerja Wakil Gubernur, Sekretaris Daerah ( Sekda ), Assisten serta Biro. Sekretaris Daerah dengan Empat Asisten yaitu Asisten Ketataprajaan, Asisten Administrasi Pembangunan, Asisten Kesejahteraan Sosial dan Asisten Administrasi. Namun demikian, tidak seluruh Asisten Gubernur tersebut menempati Gedung Sate, yaitu bagian Asisten Kesejahteraan Sosial dan Asisten Administrasi bersama staf menempati Gedung Baru. Di bagian timur dan barat terdapat dua ruang besar yang akan mengingatkan pada ruang dansa ( ball room) yang sering terdapat pada bangunan masyarakat Eropa. Dan di sekeliling kedua aula barat dan timur ini terdapat juga sejumlah ruangan yang di tempati pleh beberapa Biro dengan Stafnya. Gedung Sate Bandung ini, maka harus menggunakan Lift atau dengan menaiki tangga kayu.

Baca Juga  : Studi Wisata Atau Studi Banding Di Bandung

Sahabat traveler’s, berikut adalah beberapa keunikan serta fakta menarik yang harus anda ketahui seputar Gedung Sate di Kota Bandung sebelum anda mengunjunginya. Sahabat traveler’s, saat ini banyak sekali bangunan lama, maupun bangunan baru di kota bandung dan sekitarnya yang memiliki nilai sejarah, keunikan dan fungsi kekinian yang modern. Kota Bandung sejak dipimpin oleh lulusan arsitektur ITB Ridwan Kamil sedikit banyaknya telah merubah tata ruang kota dengan ruang hijau serta bangunan – bangunan baru yang aristik. Bandung Planning Gallery, kemudian ada juga Bandung Command Centre, Bandung Scxience Centre dan masih banyak yang lainnya. Nah berbeda dengan bangunan Gedung Sate Bandung, bangunan ini menawarkan sebuah tempat bersejarah yang ada di pusat kota Bandung, damn popularitasnya terus bertahan hingga kini. 6 tusuk sate ( meski sebagian ada yang seperti jambu air dan melati ) yang berada di bagian puncak atas menara sentral. Nah yang menjadi unik dari adanya 6 tusuk sate ini adalah semacam sebuah simbol yang menggambarkan Biaya Pembangunan Gedung Sate Bandung ini menghabiskan anggaran dana 6 juta Gulden.

Sahabat traveler’s, banyak yang orang yang membandingkan kemegahan serta Fungsi Gedung Sate Bandung dengan bangunan – bangunan pusat pemerintahan di seluruh dunia. Cor Pashier dan Jan Wittenberg ( arsitek Belanda ), yang menyatakan bahwa arsitektur Gedung Sate adalah hasil sempurna eksperimen paduan arsitektur Indo-Eropa. Gedung Sate di Kota Bandung ini adalah merupakan suatu maha karya arsitektur yang berhasil memadukan model dan harmoni arsitektur timur dengan barat yang nampak indah sekali. Kemegahan Gedung Sate Bandung juga sangat menarik perhatian sejumlah arsitek Indonesia dengan berikan pernyataan serupa seperti Slamet Wirasonjaya, dan Ir. Sahabat traveler’s, saat ini begitu banyak tempat wisata yang unik dan menarik di Kota Bandung dan sekitarnya yang ngehits sebagai destinasi wisata yang instagramable. Kota Mini Lembang dan Rainbow Garden di kawasan Wisata Floating Market Lembang dll. Nah begitu pun juga dengan objek wisata Gedung Sate Bandung ini, dimana sekarang telah menjadi salah satu tempat wisata di Bandung yang sering dijadikan tempat berfoto di bandung.

Bandung Lautan Api - Harta Benda Dan Nyawa Dikorbankan Bandung Lautan Api - Harta Benda Dan Nyawa Dikorbankan

Sejarahbandung.com – Dulu sewaktu sekolah SD, lagu ini sering saya dengarkan di upacara bendera senin pagi. Halo-Halo Bandung dipilih sebagai lagu wajib pilihan selain Indonesia Raya tentunya yang benar-benar wajib dinyanyikan. Ditulis oleh Ismail Marzuki yang belakangan baru saya ketahui kalau lagu ini masih diperdebatkan siapa pencipta sebenarnya. Terlepas dari perdebatan itu, lagu Halo-Halo Bandung adalah salah satu lagu perjuangan yang mengingatkan kita pada suatu peristiwa bersejarah di kota Bandung, Bandung Lautan Api. Hayo .. Ngaku deh .. Sering denger Bandung Lautan Api tapi ga tau gimana cerita sejarahnya? Hehe .. Wah .. Jangan-jangan berlakunya cuma buat saya aja nih. Huhu .. Gapapa deh, walaupun begitu saya tetep pengen bagi-bagi pengalaman dan pengetahuan saya dengan temen-temen semua.. Juga tentang perjalanan saya dengan komunitas Aleut! Minggu pagi itu saya berkumpul di Bank Jabar Banten jalan Braga jam 7 pagi. Ah senangnya karena Aleut! Ada temen-temen dari Sahabat Kota, ITB, Unpad, Unpas, siswa SMK, Konus, pegawai kantor sampai adik-adik yang masih duduk di bangku SD! Total peserta minggu kemarin sebanyak 29 orang lho!

Walaupun peringatannya masih satu bulan lagi, tapi kobaran semangat perjuangan rakyat Bandung Selatan sudah mulai terasa. Bandung Lautan Api terjadi pada 24 Maret 1946. Satu hari sebelumnya yaitu tanggal 23 Maret 1946 NICA (Nederlands Indies Civil Administration) dan Inggris mengultimatum TRI (Tentara Republik Indonesia) untuk mundur sejauh 11 km dari pusat kota dalam waktu 24 jam saja (pada tanggal 20 Desember 1945 pemerintah kota Bandung sudah pernah mendapatkan ultimatum ini). Pada saat itu Bandung terbagi menjadi dua wilayah. Wilayah utara dikuasai oleh sekutu dan NICA, sebelah selatan dikuasai oleh TRI dengan jalur rel kereta api sebagai batas wilayahnya. TRI yang pada saat itu dipimpin oleh Kol.A.H. Nasution yang juga Komandan Divisi III menuruti perintah pemerintah RI pusat (melalui Syarifuddin Prawiranegara) untuk segera meninggalkan kota Bandung. Padahal Markas Besar TRI yang bertempat di Yogyakarta menginginkan wilayah Bandung dipertahankan, dijaga setiap jengkalnya walaupun harus mengorbankan nyawa. Diambillah keputusan rakyat Bandung mundur, namun TRI serta laskar-laskar tetap bertahan dan berjuang mempertahankan tanah Bandung Selatan walaupun pada akhirnya ikut mengungsi karena keadaan yang tidak mungkin untuk melawan musuh.

Bandung dipisahkan karena sekutu melihat semakin bersatunya kekuatan laskar dan TRI. Sekutu khawatir keinginan mereka menguasai Bandung tidak tercapai. TRI, BKR (Badan Keamanan Rakyat), Laskar Rakyat, Barisan Banteng, Barisan Merah, Laswi (Laskar Wanita), Siliwangi, Pelajar Pejuang bersama dengan rakyat berjuang mempertahankan wilayah. Keputusan meninggalkan Bandung diambil melalui musyawarah Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MP3) pada hari itu juga yang dihadiri oleh semua barisan perjuangan. Tindakan pembumihangusan itu sendiri diusulkan oleh Rukana yang saat itu menjabat sebagai Komandan Polisi Militer di Bandung. Setelah keputusan disepakati, Kol.A.H.Nasution menginstruksikan agar rakyat segera meninggalkan Bandung. Saat itu juga rakyat Bandung mengungsi dalam rombongan besar ke berbagai daerah seperti Soreang, Dayeuh Kolot, Cicalengka, Pangalengan. Mereka mengungsi meninggalkan harta benda, hanya membawa barang seadanya. Rakyat mundur dan Bandung siap dikosongkan. Pengosongan ini disertai dengan pembakaran kota. Rumah-rumah dan gedung-gedung dibakar oleh masyarakat dan para pejuang. Hal ini dilakukan agar sekutu tidak dapat menggunakan dan memanfaatkannya. Rakyat tidak rela kotanya diambil alih pihak musuh. “Kami waktu itu sudah diajari oleh Jepang tentang politik bumi hangus.

Dan kami tidak rela kembali dijajah. Jadi ketika kami mundur semua rumah dibakar oleh pemiliknya,” jelas Akhbar yang pada saat itu merupakan anggota Laskar Pemuda. Bangunan pertama yang dibakar yaitu bangunan Indische Restaurant yang sekarang lokasinya sekitar Bank BRI jalan Asia-Afrika sekitar pukul 21.00 malam. Dilanjutkan dengan pembakaran gedung-gedung penting di sekitarnya termasuk juga rumah-rumah rakyat. Malam itu kobaran api memanaskan kota Bandung. Dari puncak bukit terlihat Bandung memerah. Dari Cimahi di barat sampai Ujung Berung di timur Bandung. Namun seberapa hangusnya kota Bandung, masih belum pasti. Di beberapa tulisan disebutkan gedung-gedung yang dibakar tidak begitu rusak dan masih bisa dipakai bahkan dijadikan tempat pertemuan penting serta konferensi internasional beberapa tahun kemudian (nenek saya yang mengungsi ke Pangalengan juga bercerita kalau sekembalinya dari pengungsian, rumahnya tidak terbakar sama sekali karena yang dibakar hanya rumah-rumah di pinggir jalan raya saja). Terjadi pula peledakan gudang mesiu milik sekutu di Dayeuh Kolot. Pelakunya Moh.Toha dan Ramdan dengan menggunakan granat tangan hingga mengakibatkan Ramdan tewas, namun entah dengan Moh.Toha, tewaskah atau menghilang.

Baca Juga  : Mengenal Sejarah Bandung Lautan Api

Sosok yang sebenarnya dari Moh.Toha pun masih diperdebatkan. Nama Moh.Toha kini diabadikan menjadi salah satu nama jalan dan tugu perjuangan di Bandung. Nama ‘Bandung Lautan Api’ tentunya dikenal setelah peristiwa pembakaran kota Bandung. Ada yang menuliskan bahwa istilah Bandung Lautan Api berawal dari Rukana (Komandan Polisi Militer di Bandung) yang pada saat melakukan pertemuan tindakan ultimatum Inggris mengatakan “Mari kita bikin Bandung Selatan menjadi lautan api”. Tulisan lain menyebutkan bahwa istilah Bandung Lautan Api muncul saat tulisan Atje Bastaman dimuat di harian Suara Merdeka tanggal 26 Maret 1946. Atje yang wartawan muda memberitakan peristiwa pembakaran kota dengan judul Bandoeng Djadi Laoetan Api. Ismail Marzuki melalui lagu Halo-Halo Bandung. W.S.Rendra pun mengenang BLA lewat sajak yang berjudul ‘Sajak Seorang Tua Tentang Bandung Lautan Api’. Berikut sepenggal sajaknya .. Bila tidak mampu mempertahankan kepastian hidup bersama ? Kini batinku kembali mengenang udara panas yang bergetar dan menggelombang, bau asap, bau keringat suara ledakan dipantulkan mega yang jingga, dan kaki langit berwarna kesumba.