Sejarah Gempa Bumi di Bandung

Sejarah Gempa Bumi di Bandung – Gempa bumi merupakan salah satu bencana alam yang tidak dapat di hentikan dengan kekuatan manusia bahkan tidak dapat di cegah dengan cara yang sangat efektif. Meningkatnya riset geologi mengungkap sumber-sumber gempa bumi di Indonesia. Di masa lalu, sumber gempa bumi tersebut pernah menimbulkan goncangan. Pemerintah diharapkan membuat kebijakan yang bepihak pada mitigasi atau pengurangan dampak resiko bencana.

Sejarah Gempa Bumi di Bandung

Untuk menggambarkan aktivitas gempa bumi di masa lalu, peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) Irwan Meilano menunjukkan sebuah peta sejarah kegempaan di Jawa hasil kerja sama riset dengan Australian National University.
Peta tersebut merekam kegempaan di pulau Jawa pada tahun 1600-an. Peneliti menandai dengan lingkaran hitam pada daerah-daerah pulau Jawa yang pernah tergoncang gempa besar di masa lalu, mulai ujung barat Jawa sampai ujung Timur.

Sejumlah daerah di Jawa Barat termasuk yang dilingkari warna hitam, antara lain Bandung. Irwan lalu menunjukan peta lain tentang kepadatan penduduk di pulau Jawa. Kepadatan digambarkan dengan warna merah.

Ilmuwan dari Kelompok Keahlian Geodesi ITB itu menjelaskan, dua peta tersebut menceritakan dua kisah berbeda, yakni kegempaan di masa lalu dan kepadatan penduduk. Namun dua peta tersebut menyimpulkan bahwa wilayah yang pernah mendapatkan goncangan di masa lalu sekarang menjadi wilayah yang penduduknya padat.
Menurutnya, wilayah yang pernah digoncang gempa umumnya memiliki tanah subur, enak untuk ditinggali, airnya bersih, cuacanya pun sejuk. “Sepanas-panasnya Kota Bandung tidak pernah sampai di atas 35 derajat,” katanya.
Namun faktanya di masa lalu Bandung pernah mengalami gempa bumi. Maka dengan adanya rekaman gempa di masa lalu seharusnya menjadi masukan penting bagi pemerintah maupun masyarakat untuk melakukan mitigasi bencana. Hanya saja, mitigasi menghadapi kendala manakala tidak semua orang pernah mengalami gempa.

Baca Juga : Bangunan-Bangunan Penuh Sejarah di Bandung

“Kesulitan bagi pengambil kebijakan, pejabat di pemda atau anggota dewan, susah sekali membuat aturan yang bepihak pada potensi bencana karena biasanya kita baru yakin kalau pernah merasakan. Kita akan hati-hati dijambret kalau pernah melihat orang kejambretan. Atau kita hati-hati untuk tidak dicopet kalau kita pernah kecopetan,” katanya.
Irwan lalu menunjukkan peta kegempaan masa kini yang juga banyak terjadi. Umumnya gempa di masa kini bersifat dangkal, pada kedalaman kurang dari 30 kilometer. Data dihimpun berdasarkan rilis BMKG.
“Tapi kalau kita bicara sejarah, tidak demikian. Di masa lalu kita pernah mengalami goncangan gempa,” katanya. “Kita bisa melihat saat ini pun gempanya banyak. Jadi di masa lalu gempanya pernah terjadi dan dari pengamatan modern, saat ini, menunjukkan bahwa gempanya pun banyak, tapi tidak semua terasa,” katanya.