kolam taman sejarah bandung

Berwisata Sambil Belajar Di Taman Sejarah Bandung Berwisata Sambil Belajar Di Taman Sejarah Bandung

Sejarahbandung.com – “Jangan sekali-kali melupakan sejarah”, begitu tutur Bung Karno dalam salah satu pidatonya. Kota Bandung yang sudah mencatat sejarah selama 200 tahun lebih pun enggan bila generasi baru yang tinggal di dalamnya tak mengenal cerita masa lalu yang dimilikinya. Oleh karena itu, semenjak 21 Januari lalu Kota Bandung resmi memiliki Taman Sejarah yang dapat dikunjungi dengan cuma-cuma, agar generasi muda kota ini dapat belajar sambil berwisata di dalamnya. Tahukah Anda siapa Walikota pertama Kota Bandung? Mungkin tak banyak orang yang tahu bahwa walikota pertama kita adalah seorang Belanda bernama Bertus Coops. Cerita mengenai Walikota Bertus Coops ini kini dapat dibaca di Taman Sejarah Bandung. Tentunya tak hanya cerita tentang beliau saja yang bisa didapat dari Taman Sejarah Bandung, cerita mengenai para Walikota penerusnya hingga Walikota Ridwan Kamil tersaji dengan baik melalui infografis yang tersedia pada dinding-dinding kaca yang dipasang di salah satu sudutnya. Tak jauh dari lokasi infografis mengenai Walikota Bandung, terdapat relief yang menceritakan mengenai keluarga Wiranatakusumah yang secara lintas generasi pernah menjabat sebagai Bupati Bandung yang turut serta mendirikan dan membangun Kota Bandung. Relief ini terukir tepat di dinding bangunan yang sebelumnya merupakan Gedung DPRD Kota Bandung. Rencananya di dalamnya akan dibuat Bandung Planning Gallery yang berisikan rancangan masa depan Kota Bandung. Taman Sejarah Bandung ini tak hanya menjadi sarana informasi sejarah Kota Bandung, tapi juga menjadi ruang publik yang juga dapat dinikmati siapapun yang mengunjunginya. Oleh Karena itu, di salah satu bagiannya terdapat sebuah kolam dan area yang cukup rindang untuk digunakan untuk bersantai di waktu senggang. Untuk dapat mengunjungi Taman Sejarah Bandung ini, Anda dapat memasukinya melalui pintu masuk Balai Kota Bandung yang terletak di Jl. Wastukencana No.2 atau area masuk yang berada di Jl. Aceh. Taman Sejarah Bandung terbuka untuk umum selama 24 jam, khusus bagi Anda yang ingin mengenal Kota Bandung dengan lebih dekat.

Prestasi “Kang Tohir” demikian dia akrab disapa, di Persib dimulai sebagai pelatih fisik dari tahun 1984. Pada tahun 1990 melatih PSSI usia 14-16tahun. Tahun 1993 dibawah kepelatihannya, PERSIB menjadi Juara Perserikatan, tahun 1994 membawa PERSIB menjadi juara Liga Indonesia pertama. Sebagai pelatih, Tohir dikenal memiliki wibawa yang besar dikalangan pemain. Dalam melatih, Tohir tidak mengistimewakan pemain bintang dan tidak pilih kasih. Sebagai pelatih ia memiliki kiat, bahwa isterinya adalah isteri yang ke-2, isteri pertama adalah kesebelasan yang dilatihnya ini. Konsekuensi dari keseriusannya dalam melaksanakan tanggungjawabnya sebagai pelatih, Tohir tidak bisa meninggalkan latihan, sehingga terkesan seperti yang tidak percaya kepada asisten. Akan tetapi, dukungan isterinya dalam menjalankan tugas sebagai pelatih PERSIB cukup besar. Menurut penuturan isterinya, KangTohir yang dikenal memiliki hobi menyanyi, Dansa, serta main golf, dulu dikenal sebagai pemain Base ball Nasional, taun ’67an, sedangkan Ceu Aat pemain Jabar. Walaupun memiliki hobi yang lain diluar sepakbola, dirinya tahu diri kalau mau latihan. Sebagai pelatih, Kang Tohir Pernah melatih Persikabo Bogor, yang menaikkan status kesebelasan ini ke Divisi Utama (tahun 1997). Disiplin ke anggota keluargaan. Semua puteranya mewarisi darah ayahnya dalam hal olah raga.

Beberapa catatan prestasinya melatih sepakbola, membawa dirinya untuk mengunjungi beberapa negara seperti Singapura, Malaysia, Brunei, Philifina, Taiwan dan Perancis. Pernah pula menjadi pelatih terbaik Asia waktu PERSIB masuk menjadi grup 4 besar nasional dan Pelatih terbaik versi Majalah Bola. Terakhir Kang Tohir yang rutin main golf 1-2 dalam seminggunya ini Menyampaikan saran untuk pelatih sepakbola lainnya, bahwa dalam melatih jangan pernah menjanjikan sesuatu kepada pemain serta tidak boleh menghujat pelatih lainnya. Ade Dana merupakan salah satu pemain besar yang pernah dimiliki Indonesia. Sampai saat ini prestasi tersebut dianggap sebagai prestasi paling fenomenal yang pernah tercatat dalam sejarah persepakbolaan Indonesia. Berkat itu pula, sampai akhir hayatnya, ia tetap menerima uang pensiun dari PSSI sebagai penghargaan atas jasa-jasanya tersebut. Selain itu, almarhum pernah mengharumkan nama Persib ketika menjadi pemain pada era ’50-an dan bercokol sebagai salah satu tim elite nasional. Pada tahun 1957, Ade dana membawa Persib menduduki peringkat ketiga dan dua tahun kemudian membawa Persib naik ke posisi kedua.

Baca Juga  : Bandung Lautan Api – Harta Benda Dan Nyawa Dikorbankan

Sebagai pelatih, Ade Dana bersama Indra tohir dan Dede Rusli membawa Persib tampil menjuarai kompetisi perserikatan 1989-1990 dengan mengalahkan Persebaya 2-0 pada grand final melalui gol Dede Rosadi dan Sutiono. Selain itu, ia juga merupakan pelatih pertama di Jabar pada era ’80-an yang memiliki predikat S-1. Siapa yang tak kenal Adeng Hudaya? Bobotoh fanatik pasti tahu persis sepak terjang pemain satu ini. Maklum dia adalah Libero sekaligus kapten, Ketika Persib Bandung Berjaya dii pentas sepakbola nasional semasa kompetisi era perserikatan. Adeng Mulai bergabung dengan Tim Persib sejak tahun 1979, Sudah dua kali merasakan manisnya menjadi juara kompetisi kompetisi perserikatan yaitu pada tahun tahun 1986 dan 1989/1990. Ketika menjadi bagian dari tim nasional Indonesia A yang berlatih di Brasil, ia tidak sempat memperkuat Persib di Piala Hasanal Bolkiah (Piala Pesta Sukan II) 1986 di Brunei Darussalam. Karena “kehilangan” pemain andalannya tersebut, kemudian Persib memanggil dua pemain asal Bandung (Jawa Barat) yang memperkuat klub lain, yaitu Heri Kiswanto (Krama Yudha Tiga Berlian Palembang) dan Yusuf Bachtiar (Perkesa ’78 Sidoardjo). Begitu banyak pengalaman menarik selama Kang Adeng bergabung bersama Persib.

Lokasi Taman Sejarah Bandung Wisata Terbaru Bandung Yang Edukatif Lokasi Taman Sejarah Bandung Wisata Terbaru Bandung Yang Edukatif

Sejarahbandung.com – Taman Sejarah Bandung muncul sebagai alternatif tempat wisata yang sangat edukatif di tengah-tengah kota Bandung. Bandung memang terkenal memiliki beberapa taman tematik dan ruang terbuka hijau yang cocok untuk di jadikan tempat bersantai. Taman ini mengangkat nuansa sejarah kota Bandung yang cukup menarik. Tempat ini sudah mulai ramai di kunjungi oleh warga. Di sini Anda bisa menemui berbagai informasi mengenai para pemimpin Kota Bandung dari masa ke masa yang telah di lengkapi dengan relief dan stiker yang memberikan penjelasan lengkap mengenai kisah dan biografi mereka. Terhitung ada sekitar 16 sejarah walikota Bandung dapat Anda temui disini, lengkap dengan relief, stiker dan mural yang menceritakan kisah masing-masing pemimpin. Lokasi taman ini terletak di Jalan Aceh, bertempat di belakang Balai Kota bandung. Dulunya tempat ini sempat di gunakan sebagai lahan parkir pegawai. Namun berkat inisiatif pemerintah kota tempat ini kini di sulap menjadi taman tematik yang cukup menarik untuk di kunjungi. Lokasi Taman Sejarah Bandung ini memakai lahan seluas 2,6 km persegi yang di dalamnya sudah terdapat taman bermain yang luas, tempat duduk yang terbuat dari kayu, amphitheatre, kolam kecil tempat bermain anak-anak. Pemerintah Kota Bandung memang menargetkan anak-anak usia sekolah sebagai pengunjung taman ini. Selain menjadi tempat bermain yang menyenangkan, Taman Sejarah Bandung juga dapat menjadi tempat belajar yang dapat memberikan edukasi dan pendidikan sejarah yang sangat bagus untuk anak-anak sekolah. Di taman ini juga terdapat sebuah relief yang khusus menceritakan sejarah Bandung sejak zaman Wiranatakusumah. Gambaran kehidupan yang syarat akan kebudayaan tradisional khas Bandung itu terukir indah di atas sebuah tembok dengan sentuhan grafis yang sangat apik. Disana di ceritakan perkembangan kota Bandung dari masa ke masa mulai dari kota Bandung prasejarah, Kisah Tangkuban Perahu, Pasca Kemerdekaan, hingga Bandung di masa sekarang ini. Salah satu yang akan mencuri perhatian para pengunjung adalah relief khusus yang di buat untuk menceritakan sejarah pada masa kepemimpinan Wiranatakusumah. Pemerintah kota berharap dengan di bangunnya taman sejarah ini dapat membuat masyarakat lebih mengenal sejarah kotanya. Jadi tidak hanya sekedar bermain dan bersenang-senang, namun juga tetap ada nilai edukatif yang bisa di ambil ketika pulang dari taman ini.

Tapi semangat juang, tujuan dan misi Persib sebagai sarana perjuangan tidak berubah sedikitpun. Pada masa Revolusi Fisik, setelah Indonesia merdeka, Persib kembali menunjukkan eksistensinya. Situasi dan kondisi saat itu memaksa Persib untuk tidak hanya eksis di Bandung. Melainkan tersebar di berbagai kota, sehingga ada Persib di Tasikmalaya, Persib di Sumedang, dan Persib di Yogyakarta. Pada masa itu prajurit Siliwangi hijrah ke ibukota perjuangan Yogyakarta. Baru tahun 1948 Persib kembali berdiri di Bandung, kota kelahiran yang kemudian membesarkannya. Rongrongan Belanda kembali datang, VBBO diupayakan hidup lagi oleh Belanda (NICA) walau dengan nama yang berbahasa Indonesia Persib sebagai bagian dari kekuatan perjuangan nasional tentu saja dengan sekuat tenaga berusaha menggagalkan upaya tersebut. Pada masa pendudukan NICA tersebut, Persib didirikan kembali atas usaha antara lain, dokter Musa, Munadi, H. Alexa, Rd. Sugeng dengan Ketua Munadi. Perjuangan Persib rupanya berhasil, sehingga di Bandung hanya ada satu perkumpulan sepak bola yaitu Persib yang dilandasi semangat nasionalisme.

Untuk kepentingan pengelolaan organisasi, dekade 1950-an ini pun mencatat kejadian penting. Pada periode 1953-1957 itulah Persib mengakhiri masa pindah – pindah sekretariat. Sebelum akhirnya atas upaya R. Soendoro, Persib berhasil memiliki sekretariat Persib yang sampai sekarang berada di Jalan Gurame. Pada masa tersebut, reputasi Persib sebagai salah satu juara kompetisi perserikatan mulai dibangun. Sayangnya setelah juara, prestasi Persib cenderung menurun. Puncaknya terjadi saat mereka hampir saja terdegradasi ke Divisi I pada tahun 2003. Beruntung, melalui drama babak playoff, tim berkostum biru – biru ini berhasil bertahan di Divisi Utama. Sebagai tim yang dikenal baik, Persib juga dikenal sebagai klub yang sering menjadi penyumbang pemain ke tim nasional baik junior maupun senior. Daftar nama seperti Risnandar Soendoro, Nandar Iskandar, Adeng Hudaya, Heri Kiswanto, Ajat Sudrajat, Yusuf Bachtiar, Dadang Kurnia, Robby Darwis, Budiman, Nur’alim, Yaris Riyadi hingga generasi Erik Setiawan dan Eka Ramdani merupakan sebagian pemain timnas hasil binaan Persib. Sampai saat ini Persib Bandung merupakan tim Indonesia yang bisa di bilang paling dibanggakan oleh Indonesia karena prestasi dan kemampuannya.

Baca Juga  : Harga Tiket Masuk Taman Sejarah Bandung, Update 2020

Salah satu catatan unik dari tim ini yaitu ketika menjuarai kompetisi sepak bola Perserikatan yang untuk terakhir kalinya diadakan, yaitu pada tahun 1993/1994. Dalam pertandingan final, Persib yang diprakarsai oleh pemain – pemain seperti Sutiono Lamso dan Robby Darwis mengalahkan PSM Makassar. Kompetisi sepak bola Galatama dan tim-tim Perserikatan di Indonesia kemudian dilebur menjadi Liga Indonesia (LI). Pada laga kompetisi LI pertama tahun 1994/1995, Persib kembali menorehkan catatan sebagai juara setelah dalam pertandingan final mengalahkan Petrokimia Putra Gresik dimana gol tunggal pada pertandingan tersebut dicetak oleh Sutiono. Persib juga merupakan salah satu klub Indonesia yang berhasil mencapai babak perempat final Liga Champions Asia. Persib Bandung memiliki penggemar fanatik yang menyebar di seluruh provinsi Jawa Barat dan Banten, bahkan hampir di seluruh wilayah Indonesia, mengingat catatan historis sebagai tim kebanggaan dari ibu kota provinsi Jawa Barat. Penggemar Persib menamakan diri sebagai Bobotoh. Di era Liga Indonesia, Bobotoh kemudian mengorganisasikan diri dalam beberapa kelompok pecinta Persib seperti Viking Persib Club, Bomber, Rebolan, Jurig Persib, Casper dan Persib-1337. Viking Persib Club memiliki hubungan yang sangat kelam dengan kelompok suporter Persija Jakarta, The Jakmania. Karena sudah banyak peristiwa maupun insiden yang terjadi akibat permusuhan abadi dua suporter garis keras ini. Bahkan pihak kepolisian maupun PSSI dan PT Liga Indonesia juga sudah berulang kali meminta Viking dan The Jak untuk berdamai. Namun, sama sekali tidak ada titik terang untuk mendamaikan mereka.