peristiwa bandung lautan api secara singkat

Mengenal Sejarah Bandung Lautan Api Mengenal Sejarah Bandung Lautan Api

Sejarahbandung.com – Setiap tanggal 24 Maret, Indonesia memeringati peristiwa Bandung Lautan Api yang fenomenal. Mungkin kebanyakan dari kamu belum tahu mengapa Bandung sempat dibumihanguskan. Kali ini, Pegipegi pengin mengajak kamu untuk mengenal sejarah Bandung Lautan Api lebih dalam. Pasukan sekutu, Inggris bagian dari Brigade MacDonald dan NICA mendarat di Bandung pada 12 Oktober 1945. Dari awal, hubungan pasukan Inggris dan Indonesia sudah tegang. Mereka gencar-gencarnya merebut senjata api yang ada di tangan penduduk, kecuali senjata api milik TKR (yang kini menjadi TNI) dan polisi. Sekutu juga meminta semua senjata pihak Indonesia yang merupakan pelucutan Jepang diserahkan kepada mereka. Ditambah orang-orang tahanan Belanda dibebaskan dari kampung tawanan dan melakukan tindakan-tindakan yang mengganggu keamanan serta NICA dengan bebas melakukan teror kepada masyarakat. Akibat kehadiran sekutu, terjadilah bentrokan bersenjata antara Inggris dan TKR yang semakin memanas. Tanggal 21 November 1945, TKR dan badan-badan perjuangan terus melancarkan serangan terhadap kedudukan-kedudukan Inggris di Bandung Utara, termasuk sekutu di Hotel Humnn dan Hotel Preanger, juga diserang oleh para TKR dan pejuang Indonesia.

Tapi, para pejuang nggak mengindahkan ultimatum tersebut. Hal tersebut malah menaikkan semangat para pejuang, rakyat, dan pemuda yang tergabung dalam TKR untuk melawan sekutu. Sejak saat itulah, pertempuran kecil dan besar antara pejuang dan sekutu terus berlangsung di Bandung. Pada malam hari tanggal 25 November 1945 bendungan Sungai Cikapundung jebol dan menimbulkan banjir besar hingga menelan ratusan korban dan ribuan penduduk kehilangan tempat tinggal. Keadaan tersebut dimanfaatkan oleh tentara sekutu dan NICA untuk menyerang rakyat yang sedang tertimpa musibah. Hingga akhirnya Kota Bandung terbagi dua, yaitu Bandung Utara dan Bandung Selatan. Tentara sekutu menduduki Bandung Utara dan Indonesia menduduki Bandung Selatan dengan jalur kereta api sebagai batas wilayahnya. Setiap hari perang antara pejuang dan sekutu terus terjadi. Hingga pada 5 Desember 1945, sekutu melancarkan aksinya kembali dengan memborbardir daerah Lengkong Besar. Tanggal 21 Desember 1945, pihak Inggris menjatuhkan bom dan tembakan di Cicadas. Sekutu Inggris dan NICA kembali memberikan ultimatum kedua pada 23 Maret 1946 kepada TRI untuk mundur sejauh 11 km dari pusat kota dalam waktu 24 jam.

TRI yang saat itu dipimpin oleh Kolonel A.H.Nasution menuruti perintah pemerintah RI Pusat untuk meninggalkan Bandung. Keputuan yang diambil TRI mendapatkan kontra dari Markas Besar TRI yang bertempat di Yogyakarta. Mereka menginginkan agar Bandung tetap dipertahankan dan dijaga walaupun harus mengorbankan nyawa. Akhirnya diambil keputusan agar rakyat Bandung mundur dan para TRI serta pejuang tetap bertahan dan memperjuangkan Bandung Selatan. Pada akhirnya para pejuang juga ikut mengungsi karena keadaan semakin melemah dan tidak memungkinkan untuk melawan musuh. TRI akhirnya melakukan bumi hangus terhadap Bandung. Tindakan ini diambil setelah melalui musyawarah Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MP3) yang dihadiri oleh semua barisan perjuangan. Tindakan bumi hangus diusulkan oleh Rukana (Komandan Polisi Militer di Bandung) dan disepakati oleh Kolonel A.H.Nasution yang menginstruksikan agar rakyat segera meninggalkan Bandung. Ketika itu, rakyat mengungsi ke berbagai daerah, seperti Soreang, Cicalengka, Pangelangan, Dayeuh Kolot, dan lain-lain dengan membawa barang seadanya. Setiap kota di Indonesia memang memiliki sejarahnya masing-masing, termasuk Bandung yang dikenal dengan peristiwa Bandung Lautan Api. Di kota kembang tersebut, kamu juga bisa mengunjungi berbagai tempat bersejarah yang berhubungan masa-masa penjajahan atau kemerdekaan. Agar bujet liburan kamu ke Bandung lebih terjangkau, yuk, pesan tiket pesawat atau tiket kereta api ke Bandung lewat Pegipegi, ya! Jangan lupa buat cari hotel murah di Bandung juga, ya!

Baca Juga  : Asal Muasal Dan Sejarah Bandung

Akhirnya, malam yang telah disepakati pun tiba. Api melahap rumah, pedang berkelebat, dan darah muncrat. Dalam Wawacan Carios Munada (1993), Edi S. Ekadjati dkk mengatakan bahwa 100 tahun setelah kejadian tersebut, masyarakat Bandung tetap memandang kasus pembunuhan ini sebagai peristiwa besar. Kisah ini pun terus beredar dari mulut ke mulut. Peristiwa berdarah dilatarbelakangi salah satunya oleh dendam pejabat di kota Bandung ini juga tercatat dalam empat sumber tertulis: Sejarah Timbanganten, Kitab Pancakaki, Babad Raden Adipati Aria Martanagara, dan Wawacan Carios Munada. Dari empat naskah tersebut, Wawacan Carios Munada yang naskahnya disimpan di perpustakaan Universitas Leiden adalah karya paling rinci yang menuturkan peristiwa tersebut, mulai dari latar belakang sampai akibatnya. Sementara dalam naskah Sejarah Timbanganten, kejadian ini hanya dimuat pada halaman 19-21. Dalam Kitab Pancakaki, peristiwa ini hanya satu dari sekian kejadian penting yang dicatat oleh penulisnya. Bobotnya tak berbeda dengan peristiwa meletusnya Gunung Galunggung. Pada naskah Babad Raden Adipati Aria Martanagara, huru-hara Munada sekilas dimunculkan untuk dikaitkan dengan kejadian serupa di Bandung pada 1893, yakni rencana pembunuhan terhadap residen, asisten residen, dan bupati. Dari keempat naskah ini, bahasan yang paling sedikit dapat dijumpai dalam Kitab Pancakaki.

Tiga naskah lain yang lebih panjang mengandung sejumlah perbedaan terkait fakta di lapangan, di antaranya nama Jaksa Bandung, besaran utang Munada, senjata yang dipakai Munada untuk membunuh, waktu peristiwa, dan lain-lain. Karena paling lengkap dan runut, rujukan yang saya pakai pada bagian pertama tulisan ini adalah Wawacan Carios Munada. Tiga puluh dua tahun silam, kisah Munada diwariskan oleh Haryoto Kunto kepada generasi muda Bandung lewat magnum opus berjudul Semerbak Bunga di Bandung Raya (1986). Dalam buku setebal seribu halaman lebih itu, Haryoto Kunto dua kali menyampaikan bahwa pasar pertama Bandung terbakar saat terjadi huru-hara Munada. “Pasar itu kemudian musnah terbakar sewaktu terjadi ‘Huru-hara Munada’ di pertengahan abad XIX. Sejak masa itu, Bandung tidak memiliki pasar. Hingga para pedagang pada keluyuran, menjajakan dagangannya di sekitar alun-alun, Jalan Raya Pos, Cibadak, Pangeran Sumedang-weg, Jl. ABC, Suniaraja, dan kemudian juga mangkal di sekitar stasiun kereta api setelah kereta api masuk ke Bandung pada 1884,”

Analisis Sejarah Peristiwa Bandung Lautan Api Analisis Sejarah Peristiwa Bandung Lautan Api

Sejarahbandung.com – “Jangan Sekali-sekali Meninggalkan Sejarah.” -Presiden Pertama Republik Indonesia sekaligus Bapak Proklamasi Indonesia, Sejarah adalah sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Karena dengan mempelajari ataupun mengetahui peristiwa sejarah kita tidak akan terjatuh kedalam lubang yang sama dengan orang-orang terdahulu. Setiap orang mungkin memiliki pengertian sejarah menurut diri mereka masing-masing. Jadi, apa pengertian sejarah menurut anda? Kalau menurut saya sejarah adalah suatu peristiwa di masa lalu yang dianggap penting dan berpengaruh untuk masa depan, sesuatu yang dapat menjadi pelajaran bagi masa depan, sesuatu yang sangat dekat dengan diri kita. Dalam pembahasan suatu peristiwa sejarah tentunya kita tak akan terlepas dari 5 konsep sejarah, yaitu konsep Diakronik, konsep Sinkronik, konsep Kronologis, konsep Ruang, dan konsep Waktu. Tak terkecuali peristiwa Bandung Lautan Api. Kali ini saya akan membahas peristiwa sejarah Bandung Lautan Api dengan 5 konsep tersebut. Peristiwa Bandung Lautan Api bermula ketika kedatangan pasukan Inggris dari Bigade MacDonald pada tanggal 12 Oktober 1945. Sejak semula hubungan mereka dengan pemerintah RI sudah tegag. Mereka menuntut agar semua senjata api yang ada di tangan penduduk, kecuali TKR dan polisi, diserahkan kepada mereka.

Akibatnya, bentrokkan bersenjata anatar Inggris dan TKR tidak dapat dihindari. Pada malam hari tanggal 21 November 1945, TKR dan badan-badan perjuangan melancarkan serangan terhadap kedudukan-kedudukan Inggris di bagian utara, termasuk Hotel Homann dan Hotel Preanger yang mereka gunakan sebgaai markas. Pada tanggal 24 November 1945, MacDonald menyampaikan ultimatum kepada Gubernur Jawa Barat agar Bandung Utara dikosongkan oleh penduduk Indonesia, termasuk pasukan bersenjata. Ultimatum tersebut mendorong Kota bandung untuk melakukan operasi bumi hangus. Bandung sengaja dibakar oleh TRI dan Rakyat setempat dengan maksud agar sekutu tidak dapat menggunakan Bandung sebagai markas strategis militer. Dalam pertempuran ini, Muhammad Toha dan Muhammad Ramadan, dua anggota milisi BRI (Barisan Rakyat Indonesia) terjun dalam misi untuk menghancurkan gudang amunisi tersebut. Muhammad Toha berhasil meledakkan gudang tersebut dengan dinamit. Gudang tersebut meledak dan terbakar bersama kedua milisi tersebut didalamnya. Peristiwa ini dilakukan oleh para masyarakat Bandung yang jumlahnya sekitar 200.000 orang. Dalam waktu tujuh jam, mereka melakukan pembakaran rumah serta harta benda mereka sebelum akhirnya pergi meninggalkan Bandung.

Sejak saat itu, kurang lebih pukul 24:00, Bandung Selatan telah kosong dari penduduk dan TRI. Pada tanggal 23 Maret 1946, sekutu mengeluarkan ultimatumnya yang berisi perintah agar TRI (Tentara Republik Indonesia) segera meninggalkan Kota Bandung. Setelah mendengar ultimatum tersebut pula pemerintah Indonesia yang berada di Jakarta menginstruksikan agar TRI mengosongkan Kota Bandung untuk keamanan rakyat. Akan tetapi, perintah ini berbeda dengan yang diberikan dari markas TRI di Yogyakarta. Markas TRI di Yogyakarta memberikan instruksi agar TRI terus bertahan di Bandung. Dalam masa ini kondisi di Kota Bandung menjadi semakin genting. Situasi di kota ini menjadi terasa mencekam serta dipenuhi oleh orang-orang yang panik. Para pejuang Indonesia pun bingung dalam mengikuti instruksi yang berbeda dari pusat Jakarta dan Yogyakarta. Di sisi lain, setelah mendengar ultimatum tersebut, Madjelis Persatoean Perjoangan Priangan (MP3) melakukan musyawarah dan akhirnya didapatkanlah keputusan untuk membumihanguskan Kota Bandung. Hasil musyawarah tersebut diumumkan oleh Kolonel Abdoel Haris Nasoetion sebagai Komandan Divisi III TRI.

Baca Juga  : Mengenal Sejarah Di Balik Jalan Asia-Afrika Bandung

Pembakaran kota berlangsung malam hari sambil para penduduknya pergi meninggalkan Bandung. Operasi bumi hangus ini membuat asap hitam mengepul tinggi menyelimuti Kota Bandung. Semua listrik pun turut padam. Dalam kondisi genting ini, tentara Inggris juga menyerang sehingga pertempuran sengit tidak terindahkan. Pertempuran terbesar berlangsung di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung. Pasukan Inggris bagian dari Brigade MacDonald tiba di Bandung. TKR serta sebagian badan perjuangan Indonesia melancarkan serangan pada kedudukan-kedudukan Inggris di wilayah Bandung bagian utara. Hotel Homann dan Hotel Preanger yang dipakai musuh sebagai markas juga tiak luput dari serangan. Brigade MacDonald mengeluarkan ultimatum pada Gubernur Jawa Barat agar Bandung Utara segera dikosongkan oleh masyarakat Indonesia, termasuk juga dari pasukan bersenjata. Pecahnya pertempuran antara sekutu dan pejuang Bandung. Sekutu kembali mengeluarkan ultimatum agar TRI segera meninggalkan Kota Bandung. Lalu, sekutu meminta masyarakat Indonesia untuk meninggalkan Bandung Utara. Dalam masa ini, sekutu membagi Bandung dalam dua sektor, yaitu Bandung Utara dan Bandung Selatan. Para pejuang Indonesia melancarkan serangan besar-besaran kepada sekutu. Mereka menyerang pos-pos sekutu. Mereka juga membakar semua isi Kota Bandung Utara. Aksi ini dilakukan oleh 200.000 orang selama 7 jam. Istilah atau sebutan ‘Bandung Lautan Api’ muncul di harian Suara Merdeka. Berita tersebut ditulis oleh seorang wartawan muda, Atje Bastaman.

Objek wisata Tebing Keraton akan menyuguhkan Anda pemandangan cantik dari kota Bandung, terutama jika Anda datang sebelum jam 6. Ketika Anda datang ke tempat wisata di Bandung yang romantis ini, Anda akan disuguhkan pemandangan kota Bandung yang masih berselimut kabut tebal. Anda juga bisa menyaksikan proses matahari terbit dari bukit sebelah timur dan mengabadikannya dengan kamera. Anda pernah menonton film The Hobbit? Kalau iya, Anda pasti sudah familier dengan desa kurcaci. Farm House Lembang merupakan objek wisata Bandung yang mengusung konsep desa kurcaci seperti di film The Hobbit. Di tempat bisa merasakan suasana kehidupan bangsa Eropa. Anda juga bisa merasakan bagaimana memakai kostum tradisional orang Eropa karena ada penyewaan pakaian-pakaian bergaya Eropa di Farm House Lembang ini. Selain desa kurcaci, Farm House Lembang juga menyuguhkan peternakan dan perkebunan dengan konsep Eropa. Singkatnya, jika Anda berkunjung ke Farm House Lembang Anda bisa merasakan atmosfer Eropa di Kota Bandung. Sehingga tidak heran jika Farm House Lembang merupakan objek tempat wisata anak di Bandung yang menyuguhkan spot foto terbaik untuk Anda. Anda tidak perlu khawatir dengan uang masuk karena Farm House Lembang merupakan wisata Bandung murah meriah yang bisa Anda akses dengan tiket masuk seharga dua puluh ribu Rupiah.