plakat studi banding

Studi Wisata Atau Studi Banding Di Bandung Studi Wisata Atau Studi Banding Di Bandung

Sejarahbandung.com – Dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan, sekolah mengadakan berbagai kegiatan yang bersifat edukatif dan positif. Hal ini tentunya menjadi program yang sangat menarik bagi siswa-siswa SMP. Salah satu program yang diadakan yaitu studi wisata atau studi banding ke tempat-tempat yang ada nilai edukatifnya. Pihak sekolah telah memilih tempat yang cocok untuk anak-anak SMP. Kegiatan studi banding diadakan untuk memenuhi kebutuhan informasi tentang tempat-tempat wisata dan tempat yang mempunyai koleksi yang menarik yang tidak ada di kota Surakarta. Tempat wisata ini diharapkan menjadi inspirasi dan meningkatkan ilmu bagi siswa SMP yang mengunjunginya. Kegiatan studi wisata atau studi banding diadakan di sekolah dengan tujuan untuk meningkatkan ilmu pengetahuan alam dan menambah wawasan tentang ilmu pengetahuan. Kegiatan studi wisata juga sebagai pendukung pelajaran Bahasa Indonesia, juga pelajaran lain yang secara langsung dapat diterapkan. Program ini bagi Kelas IX juga merupakan sarana latihan membuat karya tulis dari berbagai objek wisata yang dikunjungi. 1) Untuk memenuhi tugas dari panitia study wisata, tugas kokulikuler mata pelajaran Bahasa Indonesia. 3) Sebagai sarana untuk menyeberluaskan objek – objek wisata di kota Bandung dan sekitarnya.

4) Sebagai cara untuk memperoleh pengalaman langsung penulis dalam hal pembuatan karya tulis. Museum Geologi didirikan pada tanggal 16 Mei1928. Museum ini telah direnovasi dengan dana bantuan dari JICA (Japan International Cooperation Agency). Setelah mengalami renovasi, Museum Geologi dibuka kembali dan diresmikan oleh Wakil Presiden RI, Megawati Soekarnoputri pada tanggal 23 Agustus2000. Sebagai salah satu monumen bersejarah, museum berada di bawah perlindungan pemerintah dan merupakan peninggalan nasional. Dalam Museum ini, tersimpan dan dikelola materi-materi geologi yang berlimpah, seperti fosil, batuan, mineral. Terbagi menjadi 3 ruang utama : Ruang orientasi di bagian tengah, Ruang Sayap Barat dan Ruang Sayap Timur. Ruang Orientasi berisi peta geografi Indonesia dalam bentuk relief layar lebar yang menayangkan kegiatan geologi dan museum dalam bentuk animasi, bilik pelayanan informasi museum serta bilik pelayanan pendidikan dan penelitian. Hipotesis terjadinya bumi di dalam sistem tata surya. Selain maket dan panel-panel informasi, masing-masing bilik di ruangan ini juga memamerkan beragam jenis batuan (beku, sedimen, malihan) dan sumber daya mineral yang ada di setiap daerah.

Dunia batuan dan mineral menempati bilik di sebelah baratnya, yang memamerkan beragam jenis batuan, mineral dan susunan kristalografi dalam bentuk panel dan peraga asli. Masih di dalam ruangan yang sama, dipamerkan kegiatan penelitian geologi Indonesia termasuk jenis-jenis peralatan/perlengkapan lapangan, sarana pemetaan dan penelitian serta hasil akhir kegiatan seperti peta (geolologi, geofisika, gunung api, geomorfologi, seismotektonik dan segalanya) dan publikasi-publikasi sebagai sarana pemasyarakan data dan informasi geologi Indonesia. Ujung ruang sayap barat adalah ruang kegunung apian, yang mempertunjukkan keadaan beberapa gunungapi aktif di Indonesia seperti : Tangkuban Perahu, Krakatau, Galunggung, Merapi dan Batu. Selain panel-panel informasi ruangan ini dilengkapi dengan maket kompleks Gunungapi Bromo-Kelut-Semeru. Beberapa contoh batuan hasil kegiatan gunung api tertata dalam lemari kaca. Ruang Sayap Timur Ruangan yang mengambarkan sejarah pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup, dari primitif hingga modern, yang mendiami planet bumi ini dikenal sebagai ruang sejarah kehidupan. Panel-panel gambar yang menghiasi dinding ruangan diawali dengan informasi tentang keadaan bumi yang terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu, dimana makhluk hidup yang paling primitiv pun belum ditemukan.

Baca Juga  : Berwisata Sambil Belajar Di Taman Sejarah Bandung

Beberapa miliar tahun sesudahnya, disaat bumi sudah mulai tenang, lingkungannya mendukung perkembangan beberapa jenis tumbuhan bersel-tunggal, yang keberadaan terekam dalam bentuk fosil Reptilia bertulang-belakang berukuran besar yang hidup menguasai Masa Mesozoikum Tengah hingga Akhir (210-65 juta tahun lalu) diperagakan dalam bentuk replika fosil Tyrannosaurus Rex Osborn (Jenis kadal buas pemakan daging) yang panjangnya mencapai 19 m, tinggi 6,5 m dan berat 8 ton. Kehidupan awal di bumi yang dimulai sekitar 3 miliar tahun lalu selanjutnya berkembang dan berevolusi hingga sekarang. Jejak evolusi mamalia yang hidup pada zaman Tersier (6,5-1,7 juta tahun lalu) dan Kuarter (1,7 juta tahun lalu hingga sekarang) di Indonesia terekam baik melalui fosil-fosil binatang menyusui (gajah, badak, kerbau, kuda nil) dan hominid yang ditemukan pada lapisan tanah di beberapa tempat khususnya di Pulau Jawa. Kumpulan fosil tengkorak manusia-purba yang ditemukan di Indonesia (Homo erectus P. VIII) dan di beberapa tempat lainnya di dunia terkoleksi dalam bentuk replikanya. Begitu pula dengan artefak yang dipergunkan, yang mencirikan perkembangan kebudayaan-purba dari waktu ke waktu. Penampang stratigrafi sedimen Kuarter daerah Sangiran (Solo, Jawa Tengah), Trinil dan Mojokerto (Jawa Timur) yang sangat berarti dalam pengungkap sejarah dan evolusi manusia-purba diperagakan dalam bentuk panel dan maket.